Terkini.id, Jakarta – Sikap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendapat banyak kritikan dalam beberapa waktu terakhir, setelah laju inflasi di negeri itu melesat ke level tertinggi dalam 19 tahun.
Salah satu sikap Presiden Erdogan yang banyak dikritik adalah dirinya yang enggan menaikkan suku bunga di tengah kenaikan inflasi.
Menurut dia, sebagai seorang Muslim ia tidak mendukung kenaikan suku bunga. Dia pun menggambarkan suku bunga sebagai “ibu dan ayah dari segala kejahatan.”
“Mereka mengeluh kami terus memangkas suku bunga. Jangan harap yang lain dari saya,” tegasnya.
“Sebagai seorang Muslim, saya akan tetap menjalanan ajaran agama kami. Ini adalah perintah.”
Menurut dia, berdasarkan syariat Islam, Muslim dilarang menerima atau memetik bunga pinjaman. Ini berarti jatuhnya nilai lira, karena Tayyip Erdogan memprioritaskan ekspor daripada stabilitas mata uang.
Ide ide tentang Keuangan Islam Erdogan tersebut pun dikritik.
Seorang ekonom Steve H. Hanke salah satunya menyampaikan kritik keras.
Profesor Ekonomi Terapan di Universitas John Hopkins di Baltimore tersebut menyampaikan analisanya, bahwa inflasi di Turki yang disebut mencapai 36 persen berdasarkan laporan TCMB, itu adalah informasi palsu.
Menurut dia, berdasarkan pengukurannya, inflasi Turki sudah tiga kali lipat dari itu.

“Dalam tabel inflasi minggu ini, #Turki menjadi pusat perhatian. Pada 6 Januari, saya mengukur inflasi Turki pada 103% per tahun. Itu hampir 3 kali lipat dari tingkat inflasi resmi palsu yang dilaporkan TCMB,” ungkapnya lewat akun Twitter miliknya.
Dia pun menyarankan agar Presiden Erdogan membuang ide ide keuangan Islam yang digunakan untuk menstabilkan ekonomi si Turki.
“Sudah waktunya bagi Erdogan untuk membuang ide-ide Keuangan Islamnya yang gila dan mendirikan #CurrencyBoard,” tulis Steve Hanke.
Penurunan Drastis Nilai Tukar Lira
untuk informasi, nilai tukar lira terhadap dolar turun 44% dari tahun lalu, dan turun 5% lagi pada hari Senin sebelum kembali ke nilai semula.
Penurunan lira membuat harga impor – yang memicu inflasi – lebih mahal, mulai dari energi hingga banyak bahan baku yang diubah para produsen di Turki menjadi barang ekspor.
Seorang ekonom memperkirakan bahwa inflasi dapat mencapai 50% pada musim semi jika arah kebijakan moneter tidak dibalik.
“Suku bunga harus segera dan secara agresif dinaikkan karena ini mendesak,” kata Ozlem Derici Sengul, mitra pendiri di Spinn Consulting, Istanbul. Tapi dia paham bahwa bank sentral mungkin tidak akan bertindak,” jelas dia dikutip dari CNBC.
Laju inflasi Turki melesat ke level tertinggi dalam 19 tahun. Tingkat inlfasi Turki kian menggambarkan gejolak keuangan negara itu sekaligus menimbulkan peringatan atas kebijakan presidennya.
Berikut fakta-fakta inflasi Turki tertinggi dalam 19 tahun yang dirangkum di Jakarta, Minggu (9/1/2022).Harga-Harga Naik hingga Lebih dari 36%
Harga-harga naik hingga lebih dari 36% pada bulan Desember seiring biaya transportasi, makanan, dan bahan pokok lainnya menghabiskan sebagian besar anggaran rumah tangga. Biasanya, bank sentral di dunia akan menaikkan suku bunga untuk membantu mengerem inflasi namun Turki tidak melakukannya.
Masyarakat Berpenghasilan Rendah Semakin Sulit
Keluarga berpenghasilan rendah pun merasa semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ini juga dirasakan kelompok kelas menengah Turki.
‘Saya ingin keamanan’ banyak disampaikan masyarakat Turki di akun media sosialnya. Warga Turki juga membahas keuntungan dan kerugian mencari kehidupan baru di luar negeri.
Keluhan pun disampaikan Seorang Mahasiswa S3, Berna Akdeniz. Berna sedang mengejar titel PhD dalam bidang jurnalisme di Ankara.
“Saya ingin tinggal di sini karena ini kampung halaman saya. Tapi saya juga ingin pergi dari sini karena saya mendambakan kehidupan layaknya seorang manusia,” ujarnya, dilansir dari BBC Indonesia.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
