Hadirkan Narasumber dari Universitas Kuwait, FEBI UINAM Gelar Kuliah Tamu Internasional

Terkini.id, Makassar – Prodi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Alauddin Makassar (UINAM) menyelenggarakan Kuliah Tamu Internasional dengan tema “Riba Perspektif Alquran dan Sunnah”, bertempat di Aula Rektorat UINAM, Rabu, 20 November 2019.

Kegiatan ini menghadirkan Syeikh Abdul Aziz Muhammad Zaki Abu Arisya dari Kuwait University sebagai narasumber utama.

Dalam sambutannya, Rahmawati Muin selaku Wakil Dekan Bidang Administrasi dan Keuangan FEBI UINAM menaruh harapan agar seluruh peserta kuliah tamu yang hadir dapat memahami apa itu riba dan bagaimana cara menghindarinya.

“Narasumber yang kompeten di bidangnya ini kita hadirkan dengan harapan agar anak-anakku sekalian yang mayoritas berasal dari Prodi Perbankan Syariah bisa menggali ilmu beliau sedalam-dalamnya untuk kemudian kalian implementasikan nantinya,” papar Rahmawati.

“Sehingga jika anak-anakku sekalian terjun menjadi insan perbankan syariah kelak dapat memperbaiki apa yang masih kurang dan menjadi atensi khusus masyarakat atas sistem perbankan syariah di negara kita,” sambung wanita yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Prodi Ekonomi Islam FEBI UINAM tersebut.

Dalam paparan materinya, Syeikh Abdul Aziz menyampaikan bahwa saat ini telah mewabah sebuah penyakit yang begitu mematikan.

Lanjutnya, apabila penyakit tersebut menyentuh tanah maka akan hilang seluruh keberkahan dari tanah tersebut.

“Tak ada satupun rumah di dunia ini yang luput dari jangkitan wabah tersebut. Wabah itu bernama riba,” papar pria yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Kementerian Wakaf Kuwait ini.

Lebih lanjut, pria yang memelihara jenggot sesuai tuntunan Nabi SAW ini mengemukakan bahwa sejatinya riba ini merupakan sebuah tindak penipuan, dimana ada satu pihak yang memeroleh keuntungan tanpa harus bekerja dengan jalan menzalimi pihak lainnya.

Oleh karena itu, Syeikh Abdul Aziz mengimbau kepada seluruh audiens yang hadir untuk mengenal jenis-jenis riba dan praktik transaksi apa saja yang diklasifikasikan sebagai riba.

“Hal ini menjadi penting mengingat banyak masyarakat yang terkecoh akan praktik riba kontemporer sehingga secara tidak sadar telah terjebak ke dalam praktik ribawi,” ujarnya.

Citizen Reporter: Alvian Arfan

Berita Terkait
Komentar
Terkini