Sepanjang hidupnya seorang Muslim menegakkan sholat dengan menghadapkan wajahnya ke sebuah titik poin yang tetap (kiblat).
Di saat berhaji para jamaah justeru berada langsung di depan Ka’bah Al-Musyarrafah. Ada ikatan batin dengan Rumah Tua (al-baet al-atiiq) itu.
Seseorang yang tidak mampu menunaikan zakat berarti belum memenuhi syarat kewajiban haji.
Karena jika membayar zakat saja belum mampu bagaimana dia akan mampu menunaikan ibadah haji dengan “Zaad” (ongkos) yang tidak sedikit? Maka berhaji juga menandakan kemampuan berzakat.
Puasa itu esensinya “menahan” (al-imsak). Tentu menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dan segala hal yang tidak diridhoi oleh Allah SWT.
- KAMPAS Diminta Perluas Gerakan, Kajian Zona 1 Dipandu Ketua Pemuda Muhammadiyah Bulukumba
- Kebakaran Mal Nipah Park Makassar Berhasil Dipadamkan, Operasional Tetap Berjalan Normal
- Paradoks Emas di Tengah Ketegangan Geopolitik: Membaca Arah Kekayaan di Era Turbulensi
- Semarak 17 Agustus, Warga BTN Makkio Baji Ubah Perayaan Kemerdekaan Jadi Gerakan Peduli Lingkunganmk
- Astra Motor Sulsel dan FIFGroup Salurkan Bantuan untuk Petani Terdampak Kekeringan di Sidrap
Dalam berhaji menahan itu diharuskan. “Maka barangsiap yang melakukan haji maka tiada rafats (kata kotor), tiada fusuuq (dosa-dosa), dan tiada jidaaal (berargumen).
Di saat menjalankan ibadah haji, dzikir dan tasbih maupun tahlil dan takbir menjadi amalan dominan. Semua amalan ini menjadi esensi ubudiyah kita kepada Allah SWT.
Dari semua itu dapat kita simpulkan bahwa haji itu merupakan kesimpulan semua ibadah dalam Islam.
Dengan berhaji berarti seorang Muslim memilki tekad penuh untuk melaksanakan semua kewajiban ibadahnya kepada Allah SWT.
Kedua, haji itu merupakan gambaran kecil (miniatur) kehidupan manusia.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
