Hari Telur Sedunia: Sejarah, Manfaat, dan Kandungan Gizi

Hari Telur Sedunia: Sejarah, Manfaat, dan Kandungan Gizi

R
Jabal Rachmat
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Tanggal 14 Oktober tahun ini diperingati sebagai hari telur dunia. Perayaan ini sendiri ditujukan untuk memberi penghormatan pada bahan makanan yang sangat bergizi, terjangkau, dan serbaguna ini.

Peringatan hari telur sedunia sendiri pertama kali dilaksanakan di Wina, Austria pada tahun 1996. Setelahnya, hari telur sedunia dirayakan di berbagai negara dunia pada hari Jumat kedua di bulan Oktober.

Telur dikenal sebagai salah satu sumber makanan hewani yang umum dikonsumsi selain daging, ikan, dan susu. Umumnya, telur yang dikonsumsi berasal dari beberapa jenis unggas, seperti ayam, bebek, atau burung.

Telur telah dikenal sebagai bahan makanan dengan segudang manfaat sejak zaman prasejarah. Bahkan, telur menjadi salah satu alasan manusia akhirnya melakukan domestikasi terhadap unggas petelur dari hutan tropis dan sub tropis di Asia Tenggara dan India.

Menurut data FAO, organisasi makanan dan pertanian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Tiongkok menjadi negara produsen telur terbesar dunia dengan memproduksi kurang lebih 35 persen produksi telur dunia. Adapun Indonesia menjadi pemasok terbesar kedelapan di dunia.

Sebagai bahan makanan yang sudah lazim digunakan, telur dapat diolah menjadi berbagai macam makanan, baik untuk kebutuhan lauk pauk, maupun menjadi bahan dasar dalam pembuatan berbagai makanan lainnya. Bagian kuning telur adalah bahan pengemulsi yang penting dalam kegiatan memasak. Di sisi lain, bagian putihnya dapat membentuk busa untuk mendapatkan tekstur yang empuk pada makanan.

Menurut data Departemen Pertanian Amerika, dalam 100 gram telur ayam memiliki kandungan gizi berupa karbohidrat, lemak, protein, kalsium, zat besi, serta vitamin A, D, E, dan K. Meski memiliki segudang manfaat, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dari telur sebagai makanan, yaitu tentang pengolahannya dan dampak terhadap kesehatan di balik konsumsi telur.

Metode memasak bahan makanan tentunya akan mempengaruhi nutrisi dan dampak kesehatan yang dihasilkan. Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat, telur yang direbus akan mengandung protein yang lebih sedikit daripada telur yang digoreng. Selain itu, kematangan telur juga perlu diperhatikan untuk menghindari risiko penularan salmonellosis atau infeksi akibat bakteri salmonella.

Selain dapat menimbulkan efek diare karena infeksi dari bakteri salmonella, telur, khususnya kuning telur juga mendapatkan perhatian khusus karena mengandung banyak lemak dan kolesterol. Hal ini pula lah yang menyebabkan banyak orang yang menghindari untuk memakan kuning telur dan cenderung hanya mengonsumsi bagian putihnya saja.

Terlepas dari berbagai dampak negatif yang dikandung oleh telur, posisi telur di dalam upaya untuk memenuhi asupan nutrisi bagi tubuh tidak dapat diabaikan. Manfaat yang dikandungnya, kemudahan untuk mengolah, dan keserbagunaan yang dimiliki telur sudah cukup menjadi poin penting mengapa bahan makanan ini akan senantiasa dibutuhkan.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.