Heboh Anggota Dewan Bubarkan Lokasi Karantina Pemudik di Malam Takbiran

Lokasi karantina pemudik di Pangandaran. (Foto: Harapan Rakyat)

Terkini.id, Pangandaran – Insiden pembubaran lokasi tempat karantina para pemudik di Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran heboh di sejumlah pemberitaan dan media sosial.

Adapun insiden kejadian tersebut terjadi pada malam takbiran, Minggu, 24 Mei 2020.

Berdasarkan pengakuan Kepala Desa Kertaharja Kecamatan Cimerak Masluh, ia mengaku tak menyangka anggota DPRD Pangandaran Oman Rohman mendatangi dan membubarkan tempat isolasi pemudik yang ada di dekat kantornya.

“Pak Oman waktu malam takbiran itu menelepon saya. Marah. Mengapa pemudik yang diisolasi “diwilah-wilah” (tebang pilih), lebih baik dibubarkan saja. Saya kira hanya gertakan kemarahan, ternyata benar datang,” kata Masluh, Senin, 25 Mei 2020 seperti dikutip dari detikcom.

Masluh mengatakan, Oman sambil marah-marah mendatangi kantor desa yang dimanfaatkan menjadi lokasi karantina pemudik di tengah suasana malam takbiran.

Menarik untuk Anda:

“Dia marah-marah sambil ngomong tak pantas. Kuwu tak adil, Kuwu tak becus katanya,” ujar Masluh.

Ketika kejadian, kata Maslu, tak ada yang meladeni aksi anggota DPRD tersebut. Akhirnya, 21 orang pemudik yang sedang menjalani karantina bubar dan pulang ke rumah masing-masing.

“Kami tak bisa menerima aksi itu. Kami di desa hanya menjalankan kebijakan Pemda. Silahkan itu kebijakan Pemda mau dibawa ke ranah hukum atau bagaimana saya tak tahu,” ujarnya.

Adapun terkait tuduhan tidak adil dalam mengkarantina pemudik, Masluh menjelaskan kronologis berawal dari kepulangan empat orang pemudik dari Jakarta pada Rabu pekan lalu.

“Hari Kamis saya bersama tim gugus tugas mendatangi keempat pemudik tersebut. Niatnya akan kami bawa untuk menempati ruang isolasi khusus,” cerita Masluh.

Namun, keempat pemudik itu menolak untuk dikarantina di lokasi khusus yang disediakan pihak desa.

“Alasannya mereka memiliki rumah kosong yang lebih layak untuk dijadikan tempat isolasi mandiri,” ujarnya.

“Saya akhirnya berkoordinasi dengan Camat, Babinsa dan Babinkamtibmas membahas masalah ini. Akhirnya disepakati keempat pemudik itu akan mulai menempati ruang isolasi khusus yang disediakan desa pada hari Sabtu atau Minggu. Tapi Pak Dewan terlanjur marah pada Sabtu malam,” lanjutnya.

Sebenarnya, kata Masluh, pemudik bisa mengajukan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah untuk menghindari isolasi di tempat khusus yang disediakan pemerintah desa, seperti yang terjadi di kecamatan lain.

“Tapi dengan syarat lokasi atau rumah isolasi mandiri itu benar-benar kosong tak ada penghuni lain. Kemudian lokasinya diperiksa langsung oleh tim gugus tugas, sebelum akhirnya disetujui atau tidak oleh Kades, Camat, RT dan RW serta Babinsa dan Babinkamtibmas,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Masluh, pemudik yang mengajukan isolasi mandiri pun harus membuat surat pernyataan taat aturan isolasi mandiri, yang salah satunya tidak keluyuran keluar rumah.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Istri Lagi Hamil, Suami Malah Selingkuh dengan Mantan di Hotel

Beredar Video Ratusan Skripsi Mahasiswa Dibuang dari Jendela, Ini Faktanya

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar