“Ibu, saya mau ibu jujur sekarang, anak ibu ini sudah pernah dirawat di mana sebelumnya?” kata Dr Tenriagi menirukan pertanyaannya ke pasien.
“Tidak pernah, dokter,” jawab sang Ibu. “Dia di rumah saja,” jawab orang tua anak tersebut.
“Ibu harus jujur. Semua pertanyaan ini bukan hanya untuk keselamatan anak Ibu yang ini, tapi juga untuk keselamatan kakaknya, orang serumah Ibu, keluarga, tetangga. Semuanya!”
Namun, perempuan tersebut tetap berkelit, sambil menangis.
Interogasi berlangsung terus. Si orang tua terus mengulang jawabannya bahwa anaknya itu batuk setelah makan kacang langkose.
- Bupati Sidrap Paparkan Terobosan Stabilkan Harga Telur di Hadapan Menteri Pertanian
- Sinergi Dinas Kesehatan dan P2KB, Latih Kader, Perkuat Langkah Percepat Penurunan Stunting di Jeneponto
- RS Mata JEC ORBITA Makassar Perkenalkan PRESBYOND untuk Atasi Gangguan Penglihatan Usia 40 Tahun ke Atas
- Wujudkan Target Percepatan Penurunan Stunting, Ribuan Kader Posyandu dan TPK Jeneponto Ikuti Pelatihan Khusus
- PLN UID Sulselrabar Perkuat Ketahanan Pangan dan Modernisasi Agrikultur melalui Program Electrifying Agriculture
“Mereka tinggal dekat RS ini. Tidak ada orang lain yang sakit di rumahnya. Demikian pun tetangga sekitar.
Anak sehat terus sampai hari Selasa. Tidak demam, tidak ada riwayat asma. Lahirnya dulu normal, cukup bulan, cukup berat badan. Batuk mulai Selasa. Dua hari lalu.
Kacang Langkose tetap disebut berulangulang. Bersahutan dengan si Tante yang menyesali membiarkan kemenakanannya makan sedemikian banyak kacang,” cerita sang dokter lagi.
Akhirnya, karena terus berkelit, sang dokter pun memberi pertanyaan kunci untuk membuat pasien tersebut mengaku.
“Ibu, Bapak, kalau memang anak Ibu cuma batuk biasa, tidak mungkin keadaannya seperti ini.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
