Hehamahua Sebut Aksi Bom dan Barbuk Atribut FPI adalah Operasi Intelijen, Yusuf Muhammad: Kandangin

Hehamahua Sebut Aksi Bom dan Barbuk Atribut FPI adalah Operasi Intelijen, Yusuf Muhammad: Kandangin

R
Resty
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Yusuf Muhammad, pegiat media sosial mengecam Abdullah Hehamahua, mantan Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mengatakan bahwa bom bunuh diri Makassar dan penemuan barang bukti berupa atribut FPI dalam penggeledahan terduga teroris adalah rekayasa.

Yusuf menilai bahwa pernyataan Abdullah Hehamahua sudah keterlaluan dan mestinya ia ditangkap.

Menurut Yusuf, jika Abdullah Hehamahua tidak dapat membuktikan tuduhannya, maka ia harus dipenjara.

“Mantan penasehat @KPK_RI Abdullah Hehamahua sudah kelewatan. Harusnya orang ini ditangkap, suruh buktikan tuduhannya. Kalo gak bisa buktikan ya langsung kandangin!” cuit @yusuf_dumdum pada Minggu, 4 April 2021.

Hehamahua Sebut Aksi Bom dan Barbuk Atribut FPI adalah Operasi Intelijen, Yusuf Muhammad: Kandangin

Dilansir dari Tribun News, Abdullah Hehamahua menanggapi soal peristiwa bom bunuh diri Makassar dan temuan atribut Front Pembela Islam (FPI) saat penangkapan terduga teroris.

Seperti diketahui, sebelumnya terjadi bom bunuh diri oleh sepasang pengantin di depan Gereja Katedral Makssar pada Minggu, 28 Maret 2021.

Tak beberapa lama kemudian, detasemen Khusus atau Densus 88 menemukan atribut FPI di rumah salah satu terduga teroris berinisial HH di Jalan Raya Condet Nomor 1, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Namun, Abdullah Hehamahua mengatakan semua itu hanyalah rekayasa untuk mengalihkan perhatian dari kasus tewasnya enam anggota FPI dan kasus Habib Rizieq Shihab (HRS).

“Semua itu adalah operasi intelijen” kata Abdullah Hehamahua dikutip dari Tribunnews.com pada Rabu, 31 Maret 2021.

“Itu adalah operasi intelijen untuk mengalihkan perhatian terhadap TP3, mengalihkan perhatian terhadap HRS, maka ada bom,” ujarnya.

Abdullah Hehamahua mengatakan hal itu karena cepatnya pergerakan polisi mengungkap kasus teroris dibanding kasus pembunuhan enam laskar FPI.

“Coba anda perhatikan bom pagi, siang ditangkap. 6 orang dibunuh (anggota FPI) sudah berapa bulan tidak tahu siapa pembunuhnya. Itu bukti operasi intelijen,” ujarnya.

Abdullah Hehamahua juga mengatakan bahwa pihaknya sudah paham cara-cara intelijen beroperasi sejak zaman Orde Baru (Orba).

Menurutnya, hal-hal mengenai operasi intelijen itu secara gamblang telah diulas dalam sebuah disertasi karya Busyro Muqoddas.

“Kita sudah tahu itulah dari zaman masih Orba sampai sekarang,” katanya.

“Kalau anda mau yakin, baca disertasi Dr Busyro Muqoddas tentang operasi Intelijen,” tambahnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.