“Padahal yang gaduh hanyalah manusia, bukan nilai yang diwariskan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Herman mengingatkan bahwa masyarakat kerap lebih mudah menghakimi sebuah nama dibandingkan menilai perilaku individu yang menyandang nama tersebut.
Padahal, menurutnya, sebuah nama tidak pernah bersalah atas tindakan orang yang menggunakannya.
Karena itu, ia menegaskan tidak akan melepaskan nama Kajang dari identitasnya. Baginya, cara terbaik menjaga kehormatan sebuah nama bukan melalui kemarahan ataupun perdebatan, melainkan melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya percaya, kehormatan sebuah nama tidak dipulihkan dengan kemarahan, melainkan dengan keteladanan,” katanya.
- Tandai 51 Tahun Perjalanan, Sompo Insurance Gelar Festival Seni Budaya dan Kesehatan
- Living Lab Ekonomi Sirkular: Kemitraan Universitas Negeri Makassar dan TPS3R Karebosi Didukung oleh Program Bestari Saintek 2026
- Bank Sulselbar Kembali Bersinar, Boyong Dua Penghargaan Banking Customer Experience 2026
- MAF Polbangtan Kementa Vol. 7 Edisi 25 Dorong Transformasi Pengendalian OPT Modern untuk Produktivitas Pertanian Nasional
- Yayasan AHM Berikan Penghargaan kepada Tiga Bengkel Binaan Berprestasi
Di akhir tulisannya, Herman mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga marwah Kajang melalui sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai luhur warisan leluhur.
Ia berharap Kajang tetap dikenal sebagai rumah bagi kebijaksanaan, bukan sebagai simbol dari persoalan yang dilakukan oleh segelintir orang.
“Warisan leluhur tidak meminta kita membelanya dengan teriakan. Ia hanya meminta satu hal: hiduplah dengan cara yang membuat nama itu kembali terdengar sebagai doa, bukan sebagai kabar buruk,” tutup Herman.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
