Ia juga menyoroti tantangan kehidupan modern, terutama kehadiran media sosial yang kerap menjadi ruang lahirnya konflik, ujaran kebencian, dan penyebaran informasi yang tidak benar.
“Di tengah kehidupan yang serba terbuka, diperlukan benteng iman, ilmu, dan akhlak mulia. Jangan sampai ibadah hanya menjadi rutinitas tanpa memberi dampak pada perilaku,” katanya.
Mawardi menambahkan, kualitas keimanan seseorang sangat ditentukan oleh akhlaknya. Karena itu, momentum Idulfitri harus dijadikan titik awal untuk memperbaiki kualitas diri, baik dalam relasi dengan Allah maupun dengan sesama manusia.
Dalam khutbahnya, ia juga mengajak generasi muda Muslim agar tampil sebagai pribadi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, sehingga mampu menghadapi tantangan zaman dengan bijak dan berkeadaban.
Idulfitri Dimaknai sebagai Kemenangan Spiritual
Usai pelaksanaan Salat Id, Rektor Unismuh Makassar Abd Rakhim Nanda menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar penanda berakhirnya bulan Ramadan, tetapi juga momentum kemenangan spiritual setelah umat Islam berjuang menahan hawa nafsu selama sebulan penuh.
- Studium Generale di Unismuh, Wamendiktisaintek Tekankan Mutu, Akses, dan Relevansi
- Fatmawati Rusdi Apresiasi Buku 'BupAAS: Jalan Pengabdian', Karya Inspiratif Penuh Referensi
- Andi Iwan Darmawan Aras Terpilih Aklamasi Pimpin HNSI Sulsel 2026--2031, Siap Perjuangkan Kesejahteraan Nelayan
- Peringati Hari Lingkungan Hidup, PJM Tanam 20 Ribu Pohon di Maros
- Tazkiyah Group Beri Hadiah Haji Khusus Gratis di Momen Perayaan Tahun Baru 1448 Hijriah
“Idulfitri adalah hari kemenangan setelah umat Islam berjuang melawan hawa nafsu. Ini bukan hanya tentang kembali makan, tetapi kembali pada kehidupan yang lebih baik, lebih suci, dan lebih mulia,” ujar Abd Rakhim Nanda.
Menurutnya, Idulfitri harus dimaknai sebagai momentum kembali kepada fitrah, mempererat ukhuwah Islamiyah, saling memaafkan, serta membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis.
Ia juga menyinggung adanya perbedaan penetapan hari raya yang menurutnya merupakan bagian dari dinamika pemikiran keagamaan. Perbedaan itu, kata dia, lahir dari metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriah.
“Perbedaan itu tidak menjadi persoalan, justru menunjukkan dinamika dalam berpikir. Ke depan, diharapkan dialog keagamaan yang dipadukan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dapat menemukan titik temu,” katanya.
Abd Rakhim menambahkan, Muhammadiyah pada tahun ini telah menerapkan kalender Hijriah global tunggal dengan satu matla’ untuk seluruh dunia, sehingga penentuan 1 Syawal berlaku seragam di berbagai belahan dunia.
Pesan Persaudaraan dan Kedewasaan Menyikapi Perbedaan
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
