IKAFE Unhas Ingatkan Ancaman ‘Drifting Economy’, Stabilitas Bisa Kehilangan Daya Dorong Transformasi

IKAFE Unhas Ingatkan Ancaman ‘Drifting Economy’, Stabilitas Bisa Kehilangan Daya Dorong Transformasi

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkini, Jakarta– Pengurus Pusat Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IKAFE Unhas) menyuarakan kekhawatiran terhadap arah perekonomian Indonesia yang dinilai menghadapi persoalan struktural semakin kompleks.

Dalam diskusi yang digelar di kawasan Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (10/5/2026), mereka melahirkan dokumen bertajuk “Seruan Bulungan” sebagai bentuk peringatan dini terhadap kondisi ekonomi nasional.

Ketua Umum IKAFE Unhas, Dr. Hendra Noor Saleh, DBA, menyebut Indonesia saat ini menghadapi apa yang disebut sebagai drifting economy, yakni situasi ketika ekonomi tidak mengalami keruntuhan secara langsung, namun bergerak tanpa arah transformasi yang jelas.

“Ini semacam morning call, alarm bahaya sudah berbunyi. IKAFE ingin berkontribusi mengingatkan para pemangku kepentingan agar kita semua terhindar dari kondisi yang lebih berat,” ujar Hendra Noor Saleh.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Saleh, DBA (ketua umum Ikafe Unhas), bersama Prof. Rahma Gafmi, Andi M. Sadat Ph.D, Ira Jusuf, MBA., Supriadi Syarif, SE. SH.MH.,Titien Syukur SE.,MBA,. Ryan Saputra Alam, SE. M.M., Andhi Hasrul Hasanuddin, SE. Ak. M.Si dan banyak lagi yang berkontribusi menyusun “Seruan Bulungan” ini.

Baca Juga

Dalam kajian tersebut, IKAFE menilai Indonesia memang masih memiliki fondasi makroekonomi yang relatif stabil, seperti inflasi terkendali, sistem keuangan berjalan, dan aktivitas ekonomi yang belum lumpuh. Namun, stabilitas itu dianggap belum cukup mendorong transformasi ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

Mereka menilai selama dua dekade terakhir Indonesia berhasil membangun stabilitas melalui pengendalian inflasi, disiplin fiskal, stabilitas nilai tukar, serta penguatan sektor perbankan. Namun, fondasi tersebut dinilai belum diikuti percepatan produktivitas, industrialisasi, inovasi, dan peningkatan daya saing nasional.

IKAFE menyoroti lemahnya sinkronisasi kebijakan ekonomi nasional, mulai dari keterhubungan sektor hulu dan hilir industri, harmonisasi kebijakan fiskal dan moneter, hingga kualitas sumber daya manusia yang dinilai belum sepenuhnya menopang produktivitas ekonomi.

Selain itu, tekanan terhadap fiskal negara disebut semakin berat akibat lemahnya penerimaan negara, rigiditas belanja, meningkatnya beban utang, serta besarnya anggaran program-program populis yang dianggap menyempitkan ruang fiskal produktif.

Pada saat yang sama, stabilitas keuangan semakin bergantung pada suku bunga tinggi, intervensi kebijakan, dan sentimen investor.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.