Sejumlah indikator ekonomi juga disebut menjadi alarm kewaspadaan, di antaranya tekanan nilai tukar rupiah yang menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar AS, kenaikan harga energi nonsubsidi, pelemahan indeks manufaktur (Purchasing Managers’ Index/PMI) ke zona kontraksi, stagnasi daya beli masyarakat, hingga pertumbuhan ekonomi yang dinilai terlalu bergantung pada belanja pemerintah.
Menurut IKAFE, situasi ini berpotensi menggerus kepercayaan publik dan meningkatkan kerentanan ekonomi apabila tidak direspons dengan kebijakan yang tepat.
Karena itu, melalui “Seruan Bulungan”, IKAFE Unhas mendorong pemerintah memperkuat tata kelola ekonomi berbasis meritokrasi, kompetensi, integritas, dan keterbukaan terhadap kritik.
Mereka juga menyerukan perlunya kepemimpinan yang inklusif, penguatan sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat sipil, serta evaluasi prioritas anggaran negara.
“Indonesia tidak cukup hanya menjaga stabilitas. Stabilitas harus mampu menjadi energi penggerak transformasi ekonomi yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan,” demikian salah satu poin kesimpulan Seruan Bulungan.
- Gubernur Andi Sudirman Beberkan Pertumbuhan Ekonomi Sulsel 6,88 Persen Hasil Kerja Bersama
- Honda ADV Chapter Gowa dan Gowata Sakti Motor Gelar Aksi Sosial di Masjid Al Arif
- Kolaborasi dengan Sumitomo Forestry, Summarecon Hadirkan Cluster Rinoka di Makassar
- Pemkab Jeneponto Ikuti Rakor Pengendalian Inflasi Nasional, Tekankan Pendidikan Anti Korupsi dan Integritas
- Kejar Akreditasi Unggul, Prodi D3 Hortikultura Polbangtan Kementan Jalani Asesmen Lapangan
Dokumen tersebut disusun oleh sejumlah akademisi, profesional, dan alumni FEB Unhas dari berbagai bidang, sebagai bentuk kontribusi pemikiran terhadap arah pembangunan ekonomi nasional.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
