Ini 12 Produk Unik yang Ditampilkan di Pameran Berkarya HMPS FT UNM

FT UNM
Pameran Berkarya ke-5 HMPS FT UNM

Terkini.id, Makassar – Pertanian Berkarya ke-5 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknologi Pertanian (HMPS PTP) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Makassar (UNM) menampilkan 12 karya unik dari 7 sekolah yang berasal dari luar pulau Sulawesi Selatan dan Sulawesi Selatan.

Kedua belas karya yang ditampilkan pada pameran yang dilaksanakan di Dekanat Fakultas Teknik, Kamis, 27 Februari 2020.

Karya-karya tersebut merupakan hasil seleksi dari dewan juri. Banyak sekolah yang mendaftar kegiatan ini, namun yang lolos hingga diselenggarakannya pertanian berkarya hanya 12 tim.

“Pertanian Berkarya merupakan program kerja dari himpunan yang rutin digelar tiap tahun. Kegiatan ini digelar guna mewadahi para siswa SMA/SMK untuk menuangkan ide kreatif mereka dalam memandang masalah dunia pertanian dewasa ini,” ujar Ketua Panitia, Virda.

“Nantinya 12 produk yang dipamerkan akan dipilih tiga terbaik oleh dewan juri,” sambungnya.

Berikut ini 12 daftar pameran produk yang ditampilkan dalam kegiatan pertanian berkarya.

1. Usir Hama Pemakan Buah dengan Alat Arduino.

Produk pertama yang kita ulas adalah alat pengusir hama pemakan buah dengan memakai arduino yang dirangkai oleh siswa-siswi SMAN 1 Bulukkumba, Sulawesi Selatan. Tim yang digawangi Nurul Rahmadia dan dua temannya ini ingin menghadirkan alat yang mampu mengusir hama, khususnya kelelawar yang sering menjadi keluhan petani buah.

Cara kerja dari alat pengusir hama kelelawar pemakan buah berbasis arduino ini yaitu, apabila PIR (passive infra red) sensor mendeteksi kelelawar pemakan buah terbang menghampiri pohon, maka alarm dari buzzer module akan berbunyi dan lampu dari LED module menyala secara otomatis.

Alat pengusir hama kelelawar ini efektif dalam mengusir hama kelelawar pemakan buah.

Pada hasil penelitian membuktikan bahwa sebelum alat ini di pasang pada pohon mangga, banyak buah yang jatuh pada pagi hari. Sedangkan setelah alat di pasang, sudah tidak ada buah yang jatuh pada pagi hari.

Selain itu, dari hasil pengukuran disimpulkan pula bahwa alat ini cocok di pasang pada perkebunan yang luas dan juga hemat energi listrik.

2. Limbah Perahu Pinisi dan Air Tambak Udang menjadi Pupuk Organik Cair.

Produk selanjutnya datang juga datang dari SMAN 3 Bulukkumba, Sulawesi Selatan. Tim ini menghadirkan produk pupuk organic cair yang ramah lingkungan yang berasal dari limbah perahu pinisi dan sisa air tambak hujan yang dugunakan pada tanaman sayuran, khususnya tanaman sayur bayam.

Bulukumba memang dikenal sebagai sentra produksi pembuatan perahu pinisi dan penghasil laut, salah satunya udang di Indonesia. Nah limbah kayu hasil pembuatan perahu pinisi dan air sisa tambak yang kemudian dimanfaatkan siswa-siswi SMAN 3 Bulukmba menjadi sebuah pupuk yang bermanfaat.

3. Tumbuhan Meniran Diolah menjadi Minuman Herbal.

Tim asal Kolaka, tepatnya SMAN 1 Kolaka, Sulawesi Tenggara juga tak kalah kreatif. Diketuai Nurul Ismi Ramdhani dan dua temannya, meraka menciptakan minuman herbal yang kaya khasiat dari tumbuhan meniran. Nah tumbuhan meniran ini merupakan tumbuhan liar yang tumbuh hamir di seluruh Indonesia.

Meniran (phyllanthus urinaria) dengan uji farmakologi dapat digunakan untuk diuretik, peluruh batu kencing, susah kencing disertai sakit pinggang, pembengkakan kelenjar prostat. Dan meniran juga setelah diteliti memiliki efek diuretik, pengaruh terhadap beberapa fungsi ginjal dan fungsi hati serta daya melarutkan batu ginjal asam urat dari dekok dan infus herba meniran (Phyllanthus urinaria).

4. Kasippi, Camilan yang Kaya Akan Nutrisi.

Dipimpin Dewi Wahyu Nengsi, tim asal SMAN 1 Polewali Mandar, Sulawesi Barat ini menciptakan camilan yang kaya akan nutrisi dengan nama produk kasippi. Dengan memadukan beras merah dan jawawut, kasippi sangat cocok dikonsumsi oleh semua kalangan, utamanya anak-anak.

Untuk menghasilkan kasippi dengan tekstur yang sesuai, menggunakan beras merah 500gr, jawawut 20gr, mentega 165gr , gula 330gr, dan putih telur 2 butir. Dan setalah uji organeleptik produk ini banyak diminati masyarakat, Kasippi beras merah dan jawawut mampu memenuhi kebutuhan gizi bagi tubuh.

5. Pestisida dari Daun Talas.

Pestisida nabati ini mampu mengusir hama semut dan kutu pada tanaman famili Solanaceae. Uniknya pestisida ini tidak memakai bahan kimia melainkan dari daun talas. Oleh Wanda Puspita Br. Siregar dan dua rekannya yang berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur, tepatnya SMAN 10 Samarinda.

Produk yang dihasilkan berupa estrak dari tangkai daun Colocasia Esculenta adalah produk yang layak dijadikan pestisida nabati untuk mendukung sektor pertanian dalam bidang ketahanan pangan.

6. Padaker, Camilan untuk Sembuhkan Asam Urat.

Padaker merupakan camilan yang diolah oleh siswa-siswi SMAN 9 Bulukumba, Sulawesi Selatan yang memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit asam urat. Ide membuat camilan ini lahir dari A. Faizul Fahri dan dua teman sejawatnya, mereka memanfaatkan pawa daun buah kersen menjadi camilan yang enak dan bergizi.

Melalui uji organoleptic produk ini, padaker memiliki kualitas yang tidak kalah dengan pawa pada umumnya. Ini sesuai dengan tingkat penilaian yang diberikan oleh responden dari segi rasa, aroma, dan tekstur, kue pawa ini memiliki persentase yang cukup baik yaitu di atas 70%.

Caranya mengolahnya pun sangat mudah dengan, daun pohon kersen didiamkan yang kemudian disimpan pada tempat tertutup. Setelah itu, adonan yang telah dicampurkan bersama bahan terigu, gula, parnipan, kemudian dikocok hingga rata. Terakhir dikukus dan siap disajikan.

7. Herbal Kesehatan Kulit dari Sarang Lebah dan Ekstrak Gendola.

Bagi kamu yang mempunyai permasalahan dengan kulit, ada baiknya kamu mencoba produk yang diciptakan siswa-siswi SMAN 1 Polewali Mandar yang berasal dari ekstrak gondola dan sarang lebah. Produk ini diciptakan oleh Andi Dwi Ayu Umar. S dan dua temannya.

Hasil pengujian efektifitas menunjukkan bahwa penggunaan krim dapat menghambat pertumbuhan bakteri sehingga dapat berfungsi sebagai antibakteri.

8. Semir Sepatu dari Kulit Pisang.

Kamu pernah mendengar semir sepatu dari kulit pisang? Nah siswa-siswi dari SMAN 4 Bantaeng, Sulawesi Selatan membuat semir sepatu dari kulit pisang. Menariknya, tim yang diketuai Putri Alifiah dan dua temannya ini membandingkan kulit pisang mana yang terbaik untuk semir sepatu.

Dari hasil uji organoleptik terhadap produk semir sepatu dari kulit pisang, ternyata kulit pisang ambon yang kualitasnya paling bagus, dapat dilihat dari tingkat kekilapannya dengan persentase sebesar 75%, pada kulit pisang susu 50%, pada kulit pisang 50%, dan pada kulit pisang raja 15%. Sehingga kulit pisang ambon yang paling bagus untuk dijadikan semir sepatu.

Cara membuat semir sepatu dari kulit pisang cukup mudah, meskipun membutuhkan sedikit kesabaran dalam masa pembuatannya yaitu dengan cara memasak kulit pisang dengan menggunakan air kemudian masukkan arang dan alkohol hingga mengental.

9. Obati Luka dari Limbah Biji Lengkeng dan Daun Afrika.

Produk selanjutnya yang dipamerkan dalam ajang pertanian berkarya adalah obat luka atau salep dari limbah biji lengkeng dan daun afrika. Produk ini digagas oleh M. Nur Sulaiman dan dua rekannya, Mur. Nur Sulaiman berasal dari SMAN 1 Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Dari penelitian yang mereka peroleh ternyata biji lengkeng dan duan afrika mengandung senyawa fenolik dan antioksidan. Untuk memastikan salep luka ini berfungsi, Sulaiman menguji coba pada masyarakat. Hasilnya pun mendapat tanggapan yang baik.

10. Merawat Kulit dan Rambut dari Limbah Kulit Pisang dan Biji Sirsak.

Produk menarik selanjutnya datang dari SMAN 3 Bulukkumba, Sulawesi Selatan. Oleh Andi Ainul Mudhiah dan dua rekannya menghadirkan produk untuk merawat kulit dan rambut dari limbah kulit pisang dan biji sirsak.

Biji sirsak dan kulit pisang mengandung BIO-Fruit skin soap layak dijadikan produk antiseptik perawatan kulit alami berdasarkan uji orgonolepti dan uji iritasi atau alkali dan Annona Hairspray memiliki kandungan asetogenin yang merupakan senyawa yang berperan terhadap mortalitas pediculus humanus capitis.

11. Wood Plastik Composit dari Limbah Kayu Perahu Pinisi dan Tongkol Jagung.

Produk Wood Plastik Composit juga datang dari SMAN 3 Bulukkumba, yang diolah oleh Andi Farid Nur Muhammad dan dua temannya. Produk ini ramah lingkungan ini cocok digunakan sebagai pengganti pot bunga yang berasal dari plastik.

Dari penelitian yang dilakukan Farid menunjukkan kualitas papan komposit dalam hal ini sifat yaitu kerapatan, kadar air dan pengembangan tebal telah memenuhi standar SNI-03-2105- 2006 dimana semakin besar penambahan plastik maka sifat fisis dari Wood Plastic Composite (WPC) semakin baik.

12. Susu Soya sebagai Bahan Baku Yoghurt.

Terakhir, produk yang ditampilkan siswi-siswa SMAN 1 Kuta Selatan, Bali sangat unik lantaran membuat produk susu soya sebagai pengganti susu sapi pada pembuatan yoghurt.

Digawangi Amira Inas Wibowo dan dua rekannya, peserta asal pulau Dewata ini ingin susu soya nantinya dapat menjadi terbosan baru dalam pebuatan yogurt di masyarakat. Mereka ingin ketergantungan susu sapi dapat diatasi dengan hadirnya produk mereka.

Susu soya dapat dimanfaatkan menjadi yogurt vegan yang memiliki kandungan gizi yang tinggi. Cara pembuatanyogurt vegan meliputi perebusan, pencampuran, dan juga proses fermentasi yogurt selama 12 jam.

Citizen Reporter: Resa Sanjaya

Komentar

Rekomendasi

Tim Satgas Unhas Bikin Pusat Informasi Covid-19

Lawan Corona, Mahasiswa KKN UINAM di Bulukumba Lakukan Penyemprotan Disinfektan

Cegah Corona, Mahasiswa KKN UINAM Lakukan Penyemprotan Disinfektan di Desa Datara Gowa

Begini Cara Mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar Isi Waktu Saat di ‘Rumah Saja’

Makin Mewabah, Polbangtan Gowa Lakukan Pemeriksaan Suhu Tubuh Di Gerbang Masuk Area Kampus

Mahasiswa UINAM Terpaksa Kuliah Online karena Wabah COVID-19

Direktur Polbangtan Gowa Bagi-bagi Masker, Vitamin Sekaligus Makan Bubur Kacang Ijo & Sarabba Bareng THL, Satpam dan Supir

Alumni FKG Unhas Sumbang Chamber Sterilizer untuk Rumah Sakit Sayang Bunda

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar