Inilah Alasan Mengapa Menteri Susi Juga Larang Nelayan Setrum Ikan

Alat setrum ikan yang masih dijual bebas secara online. Ini dikecam Menteri Susi.

Terkini.id – Cara-cara penangkapan ikan yang merusak lingkungan salah satunya adalah dengan cara menyetrum.

Dengan alasan itulah, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meradang karena masih ada alat setrum ikan yang dijual bebas.

Padahal, menurut dia sudah ada regulasi yang melarang penangkapan ikan dengan cara disetrum.

Mengapa penyetruman ikan dilarang? Alasan utamanya adalah ternyata membahayakan ekosistem dan merusak lingkungan.

Listrik yang digunakan untuk melumpuhkan ikan mungkin tegangannya tidak tinggi, namun bisa ikut mematikan hewan kecil yang ada di sekitarnya.
Padahal, hewan-hewan kecil tersebut adalah sumber makanan ikan. Selain itu, telur ikan juga bisa mati karena ada setrum.

Baca juga:

Matinya hewan-hewan kecil dan telur ikan berpotensi merusak ekosistem air tersebut.

Bukan hanya membahayakan lingkungan, menyetrum ikan juga berbahaya langsung bagi manusia. Si penyetrum sendiri berisiko tersengat aliran listrik dari alatnya. Kejadian pencari ikan dengan setrum tewas akibat tersengat alatnya sendiri sudah terjadi di beberapa tempat.

Sadar akan bahaya metode itu, pemerintah sudah melarangnya lewat Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Perikanan. Dalam regulasi tersebut dituliskan menangkap ikan dengan bahan berbahaya diancam pidana penjara maksimal 6 tahun serta denda maksimal sebesar Rp 1,2 miliar.

Namun, larangan itu tampaknya belum membuat sejumlah orang kapok. Buktinya, masih ada yang menjual alat penyetrum ikan secara bebas di situs jual beli online (e-commerce) atau di marketplace.

Menurut Susi, seharusnya situs e-commerce segera mencabut laman penggunanya yang menjual barang terlarang, termasuk alat penyetrum ikan.

“Semestinya begitu (dicabut laman penjualannya-Red). Karena dalam peraturan menangkap ikan dengan cara seperti itu (menyetrum) tidak boleh,” sebut Susi seperti dilansir dari kumparan.

Komentar

Rekomendasi

Jusuf Kalla Harap Masyarakat Bisa Terbiasa dengan New Normal

Aman dari Pandemi, 102 Daerah Ini Dibolehkan Berkegiatan di Luar Rumah

Diskusi Pemberhentian Presiden Dapat Teror Pembunuhan, Istana Dukung Panitia Lapor Polisi

Kabar Baik Uji Coba Vaksin Covid-19 di China dan Inggris Sukses, Obat Remdisivir Juga Banyak Berhasil

Dukung Pengembangan Objek Wisata Mangrove Lantebung, Yusran: Kita Ajak Dunia Perbankan

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar