Inspiratif, Kisah Berlibur bersama ‘Qur’an Camp’ di Makassar

Inspiratif, Kisah Berlibur bersama ‘Qur’an Camp’ di Makassar

R
Ismi Hehamahua
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id-Makassar, Liburan kemarin dihabiskan kemana saja?

Sedikit berbagi kisah dan semoga dapat menginspirasi terutama buat para orang tua dan para generasi milenial pelanjut asa dan harapan .

Kisah yang menyiratkan goresan dari lubuk hati yang dalam , luapan kasih sayang dan harapan yang tulus dari seorang anak buat kedua orang tua tercinta.

Pengalaman mengisi liburan ini dari catatan harian dan lakon peristiwa kemudian dituangkan lewat rangkaian tulisan ‘ karyanya sendiri ‘ seorang anak perempuan yang bernama Fildzah Muthia Faizal seorang Murid SD Al-Insyirah kelas VI Abu Wafa Makassar.

Nukilan pengalaman sewaktu masa liburan pada suatu kegiatan yang bernama Qur’an Camp digagas oleh Wafa Al Qur’an Center (WQC).

Baca Juga

Anak dari pasangan Faizal Muis dan Firna Sofianti Thamrin ini, rupanya juga mempunyai hobi menulis dan berikut akan berbagi kisah yang dilaluinya buat pembaca yang budiman.

Berikut kisahnya,

Saya akan menceritakan pengalaman saya selama liburan di semester pertama ini. Biasanya saat liburan, keluarga saya jarang keluar untuk jalan jalan ataupun rekreasi karena kesibukan orang tua dan banyak tugas dari kantornya. Karena itulah untuk mengisi liburan kali ini, saya memutuskan untuk mengikuti Qur’an Camp yang diselenggarakan oleh Wafa Al Qur’an Center (WQC) selama sepekan, dimulai 23 -29 Desember 2019.

Lokasi pelaksanaan Qur’an Camp di gedung Balai Diklat Perindustrian Makassar, Jalan Perintis Kemerdekaan KM 17 Makassar.

Gedung ini pula bersebelahan dengan sebuah bangunan kantor, tempat kedua orang tuaku mencari nafkah.

Tidak mengenal hujan dan panas dalam membesarkan dan menafkahi keluarga , sebuah kantor yang bernama Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku.

Mengikuti Qur’an Camp adalah niatan sebelum libur sekolah, Namun entah mengapa saat libur telah tiba dan keesokan harinya adalah waktu keberangkatan saya ke tempat diklat ini.

Namun, perasaan saya ketika itu sangatlah malas untuk pergi, berat rasanya kulangkahkan kaki ini. Diri ini berharap hanya menghabiskan dengan bersantai di rumah sambil bermain handphone, nonton tv dan bercengkrama bersama keluargaku.

Tetapi karena sudah terlanjur di daftar, mau tidak mau saya harus pergi. Jadilah niatan saya masuk kesana setengah terpaksa alias setengah ikhlas. Keesokan hari pun tiba dan akhirnya saya pun harus berangkat.

Tiba di lokasi Qur’an Camp, kami memasuki sebuah ruang Aula pertemuan, dimana merupakan titk tempat dilaksanakannya pembukaan dari rangkaian pelaksanaan kegiatan Daurah.

Di aula ini, para orang tua dari peserta dipersilahkan duduk di kursi yang telah disediakan, sedangkan para peserta duduk di atas karpet. Setelah semuanya duduk dengan rapi, pihak panitia pun mulai membuka acara, ada beberapa sambutan dari ustadz dan ustadzah yang nantinya adalah guru membimbing kami, serta yang terakhir yaitu pembacaan visi dan misi dari penyelenggaraan Qur’an Camp ini.

Satu jam setelah waktu pembukaan kegiatan ini, semua peserta dipersilahkan kembali ke asrama. Kamar dan teman teman kamar telah di di tentukan ditentukan, jadi dan para orang tua dari seluruh peserta Daurah Qur’an Camp oleh Wafa Al Qur’an Center (WQC), sudah dipersilahkan untuk pulang.

Kami semua diberi waktu beberapa menit untuk beristirahat, sebelum di suruh untuk diminta kembali ke aula dan mulai menghafal sesuai dengan kelompok yang telah di bagikan dibagikan. Di kelompok saya, gurunya pembimbingnya adalah seorang Ustadz, dia sangat baik dan sangat sabar dalam membimbing kami, namanya Ustadz Usman.

Di lokasi Qur’an Camp saya paling cepat akrab dengan seorang kakak bernama Kak Sofia. Sosoknya baik dan enak diajak berbicara, karena itulah saya cepat akrab dengannya.

Satu hari telah dilalui namun, saya hanya peserta yang paling sedikit dan paling lama menyetorkan hafalan, yang artinya saya menjadi peserta dengan hafalan paling rendah di kelompok saya.

Sedih perasaanku.

“Tetapi ingin bagaimana lagi, niatan masuk kesini saja sudah salah dan inilah hasilnya,,” gumamku dalam hati.

Perasaan ini bercampur dengan sedih, sedikit bercampur rasa kecewa. Namun tekadku tetap kucoba untuk terus bersemangat.

Waktu berlalu dan hari kedua berjalan seperti biasa, kami semua menyetorkan hafalan. Saat menghafal, saya sempat berfikir, hafalan saya yang terendah disini, apakah bisa saya mencapai target kalau menghafal saja rasanya diriku diliputi rasa malas?

Kulihat sekelilingku sambil bergumam lagi dalam hati, peserta yang lain rata rata hebat yah, semuanya cepat menghafal.

“Tidak seperti diri saya,” pikirku dalam hati.

Ah, ini adalah kata kata yang seharusnya tidak terlintas di benakku.

Membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain dan merasa rendah sama saja seperti meragukan kemampuan dan mengecilkan semangat kepercayaan diriku.

Saya sadar, seharusnya itu tidak menjadi alasan untuk saya patah semangat dalam menghafal Al-Qur’an, tetapi itu harus kujadikan sebagai motivasi dan semangat untuk bangkit.

Pandangan mataku menatap ke depan, tertuju pada seorang akhwat yang duduk sedang menghafal, nampak dirinya mampu melampaui setoran hafalan saya, sebanyak satu atau dua lembar, padahal usianya masih sangat muda . Sosok yang bernama Rofifah.

Kudengarkan hafalannya bahkan sudah banyak melebihi saya, padahal usia kami hampir dibilang lumayan terpaut jauh, perbedaan hafalan itu disebabkan karena tekad kami yang berbeda, itulah kuncinya !

Kulirik arah jam, nampaknya saya terlalu banyak melamun, dan waktu hampir istirahat tiba, saya bergegas harus menyetorkan hafalan.

Setelah semuanya menyetor, kami duduk melingkari Ustadz dan Ustadzah yang mulai angkat bicara.

Entah sedang menasehati atau apalah, tapi saya tetap mendengarkannya dengan baik dalam memberikan nasehat kepada para peserta Qur’an Camp ini.

‘Kalian semua tidak boleh patah semangat, masih ada beberapa hari kalian disini,” ujar Ustadz Usman menyemangati para peserta disela pertemuan.

“Yakinlah kalian bisa mencapai target kalian, satu yang harus di ingat, dalam menghafal kalian harus bersungguh sungguh, ingat orang tua kalian dirumah, mereka pasti memasukkan kalian ke sini karena ingin melihat kalian menjadi seorang penghafal Qur’an,” harap Ustadz Usman.

Orang tua kalian pasti mau yang terbaik untuk anaknya, mereka rela berpisah dengan kalian demi Al-Qur’an, jadi jangan kecewakan mereka, kalian tahukan apa balasan bagi seorang penghafal Al-Qur’an,” tambahnya lagi.

“Orang tuanya di berikan mahkota di akhirat kelak, siapa coba yang tidak mau diantara kalian? Dan bukan hanya itu kelak di dalam kubur dia akan menjadi penerang dalam gelapnya kubur serta masih banyak lagi manfaat dari menghafal Al Qur’an,” ucapnya.

“Sekarang kalian istirahatlah dulu, setelah sholat dzuhur kembali lagi kesini menghafal, semangat yah semuanya,” pungkas Ustadz Usman diakhir pertemuan.

Putaran waktu semakin bertambah.

Dan akhirnya, sejak mendengar nasehat dari Ustadz Usman kemarin, saya benar -benar menghafal dengan serius, saya tidak lagi menengok kesana kemari mencari tahu berapa banyak hafalan teman-teman saya yang sudah mereka setor.

Bukannya tidak suka, tapi saya ingin fokus mengejar ketertinggalan saya. Hari demi hari berlalu dan saya pun memperoleh hasil dari kata bersungguh -sungguh yang dikatakan Ustadzku tadi.

Tak terasa hari ini adalah hari terakhir, dari yang awalnya saya sangat ingin cepat pulang sekarang rasanya ingin berlama lama disini.

Sedih, rindu akan suasananya.

Oh yah, hasil yang sudah saya peroleh tadi dalam waktu kurang lebih enam (6) hari ini saya mampu menghafalkan satu juz dan mejadi perempuan pertama di kelompok ini yang menyelesaikan target.

Alhamdulillah,” ucapku .

Hampir lupa, di kelompokku ini ada beberapa ikhwan yang ikut tetapi bukan berarti kami boleh duduk berdekatan, semua telah diatur oleh panitia agar kami tetap duduk terpisah dan berjauhan.

Detik berlalu melewati dentang jam hingga berganti siang dan malam.

Nasehatnya tetap terngiang ditelinga ini, makin bersemangat setelah mendengarkan nasehat dari Ustadz Usman, diriku semakin termotivasi. Saat mengetahui kemajuan ini, rasanya hampir tidak percaya, mengingat masa lima (5) hari yang lalu dan saat sekarang, rasanya sangat berbeda. Hampir kurasakan bagai ada pendorong semangat yang berkobar di sanubariku.

Mendorong semangat bagai ingin terus menimba ilmu.

Saya juga berterimakasih pada semuanya, yang pertama atas karunia rahmat Allah SWT kepada para ustadz dan ustadzah, teman temanku semua dan terutama kedua orang tua saya, keluargaku dan kepada diriku.

Menjadi yang pertama seperti sekarang bukanlah suatu hal yang bisa saya dibanggakan, jika bukan karena rahmat Allah SWT diri saya bukanlah apa- apa. Lagi pula setelah mengetahui ini, benar benar tidak ada alasan lagi, untuk tidak bersemangat dalam menghafal Al Qur’an.

Oh ya, di lokasi Qur’an Camp saya sangat kagum pada seorang kakak disana, umur kami tidak berbeda jauh tetapi dia mampu menghafal 4 juz dalam sepekan, ada juga dua orang kakak yang masih SMP tetapi sudah mampu memiliki hafalan 30 Juz.

Mereka berdua ikut sebagai pendamping sekaligus mengikuti program Mutqin yang juga merupakan salah satu program dalam penyelenggaraan Qur’an Camp ini selain program belajar Mengaji dan program Takhasus khusus menghafal seperti yang saya ikuti ini.

Semua ini diluar dugaan perkiraanku, inti dari semuanya adalah dalam menghafal tidaklah boleh ada paksaan. Mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an memang adalah kewajiban bagi setiap Muslim dan Muslimah.

Jadi tidak ada alasan untuk kata ‘terpaksa’ .

Awal masuk di sana, saya merasa itu adalah hal yang buruk, tetapi saya ingat kembali suatu kalimat ‘yang buruk bagi kita belum tentu buruk bagi Allah begitupun sebaliknya, yakinlah Allah tahu yang terbaik untuk hambanya.

Terimakasih Wafa Al Qur’an Center (WQC) melalui Daurah Qur’an Camp ini saya mendapat banyak pelajaran dan motivasi untuk terus menghafal Al Qur’an, terimakasih juga Ustadz Usman atas nasehatnya yang tetap saya ingat sampai kapanpun serta para Ustadzah .

Harapan saya kedepannya, semoga dapat dimudahkan menjadi seorang Hafidzah penghafal 30 juz Al-Qur’an Mutqin dan bisa membanggakan kedua orang tua dan keluarga saya serta pengharapan seorang anak semoga bisa mempersembahkan mahkota kelak untuk mereka berdua.

Semoga Allah SWT meridhoi niat tulus yang kucita citakan ini, Aamiin.

Citizen report : Fildzah Muthia Faizal.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.