Isra’ Mi’raj dan Dunia Global

Imam Masjid Besar New York, Shamsi Ali

Berhubung karena lockdown di kota New York dan banyak kota lainnya di dunia, saya ingin menggunakan waktu ini untuk menulis bersambung tentang Isra Mi’raj dalam berbagai sudutnya.

Minimal saya akan menuliskan 12 pelajaran penting dari peristiwa Isra Mi’raj ini.

Sebelum saya memasuki aspek-aspek penting dari Isra’ Mi’raj, saya ingin merespon kepada pihak-pihak yang berusaha mengaburkan, bahkan membangun keraguan tentang peristiwa agung dalam sejarah Islam ini.

Bahkan mereka dengan penuh percaya diri (istilah positif) atau penuh keangkuhan (istilah negatif) mengingkari eksistensi Isra Mi’raj yang telah menjadi konsensus Umat selama ini.

Saya memulai dengan mengutip ayat yang pepuler tentang Perjalanan suci Rasulullah SAW ini:

Menarik untuk Anda:

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya dari masjidil haram ke masjidil Aqsa, yang Kami telah berkahi di sekitarnya. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha mendengar lagi Maha melihat” (Al-Isra).

Pada umumnya masyarakat awam ketika mendengar kata Isra dan Mi’raj hanya berpatokan kepada satu ayat Al-Quran, Surah Al-Isra atau Surah Bani Israil ayat satu.

Mereka gagal memahami bahwa Al-Quran dalam menyampaikan informasi tentang Al-Haq (kebenaran) tidak memakai rentetang ayat per ayat atau surah per surah.

Justru terkadang sebuah masalah hanya menjadi tuntas hanya dengan memahami secara menyeluruh dan sempurna Al-Quran itu sendiri.

Belum lagi adanya pihak-pihak yang mencoba merendahkan posisi Sunnah atau hadits-hadits dalam upaya memahami kebenaran.

Seolah hadits-hadits karena sekedar diatributkan ke Rasulullah SAW tidak dapat dijadikan sebagai basis kesimpulkan tentang sebuah kebenaran.

Akibatnya dalam hal Isra Mi’raj ada sekolompok manusia yang merasa pintar, kemudian mengingkari kebenarannya.

Mereka kemudian memberikan penafsiran-penafsiran seenak hawa nafsunya sendiri berdasarkan analisa otaknya yang sempit. Dengan otak hawa nafsu itu mereka kemudian menafikan kebenaran Isra, apalagi Mi’raj.

Pemikiran hawa nafsu itu mengatakan bahwa Isra itu sendiri sesungguhnya bukan ke Jerusalem. Tapi perjalanan Rasulullah SAW dari masjidil haram ke masjidil Aqsa.

Dan Aqsa yang dimaksud adalah “tempat yang jauh”. Maka dalam pemahamannya ayat itu merujuk kepada Perjalanan Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah.

Pendapat ini batal sekaligus batil dalam banyak hal. Pertama, kalau yang dimaksud adalah Hijrah Rasul, maka saat itu belum ada masjid di Madinah.

Justru masjid pertama yang didirikan oleh Rasul di Madinah adalah masjid Kuba. Kedua hijrah bukan dari masjidil haram awalnya. Tapi dari rumah baginda menuju Gua Tsur lalu ke Madinah.

Mereka kemudian mengingkari eksistensi Mi’raj karena menurutnya tidak disebutkan dalam Al-Quran. Benarkah tidak disebutkan dalam Al-Quran?

Boleh jadi secara literal tidak disebutkan di mana-mana. Tapi memahami ayat-ayat yang diketahui ada relevansinya dengan peristiwa ini menjadikan para Ulama Salaf dan Khalaf sepakat bahwa yang dimaksud pada ayat-ayat tersebut adalah peristiwa Mi’raj (perjalanan ke atas) atau vertikal Rasulullah SAW.

Mari kita lihat lebih rinci beberapa beberapa keraguan orang terhadap Isra dan Mi’raj Rasulullah SAW. Baik dari argumentasi rasionalitas, maupun dasar-dasar Syar’i dari Al-Quran, Sunnah maupun interpretasi para ulama Islam yang mu’tabar (menjadi rujukan Umat).

Pertama, benarkah peristiwa Isra Mi’raj ini tidak rasional atau tidak masuk akal?

Ada dua hal yang harus kita bedakan ketika kita bersentuhan dengan sesuatu yang berkaitan dengan rasionalitas manusia.

Satu, ada hal-hal yang memang tidak rasional. Dua, ada juga hal-hal yang sejatinya rasional, hanya saja akal manusia tidak mampu memahaminya.

Yang pertama adalah hal-hal yang memang secara sederhana dipahami oleh akal. Ambillah sebagai misal 1+1=2. Akal memahaminya secara pasti tanpa penafsiran.

Tapi ketika 1+1 dipaksakan menjadi =3, lalu dipaksakan menjadi sebuah konsep yang harus diterima sebagai realita umum maka hasilnya terjatuh ke dalam istilah irrational (tidak masuk akal).

Sementara yang kedua adalah hal-hal yang karena tabiatnya memang kompleks, apalagi bersentuhan dengan isu-isu teologis yang rana dominannya ada pada hati.

Hal-Hal seperti itu bukan tidak rasional atau tidak masuk akal. Hanya saja rasionalitas atau akal manusia sangat terbatas memahaminya.

Ambillah contoh lain selain Isra Mi’raj. Kebangkitan dari kubur misalnya. Kalau saja kita memaksakan diri untuk memahaminya dengan aka tentang bagaimana kebangkitan dari kubur itu, kemungkinan besar manusia akan mengingkarinya atau manusia menjadi gila.

Kesimpulannya, kebangkitan itu bukan tidak masuk akal. Hanya saja akal manusia sangat terbatas untuk memahaminya.

Demikian halnya dengan Isra Mi’raj. Bukannya tidak masuk akal. Hanya akal manusialah yang terbatas dan tidak mampu memahami segala rincian teknis dari prosesnya.

Saya kira landasan terbesar dari rasionalitas Isra Mi’raj adalah bahwa Perjalanan itu memang “aktornya” (pelaku) adalah Allah.

Muhammad SAW adalah objek yang diperjalankan. Dan kalau dalam suatu hal Allah sebagai pelaku, apakah hal itu dapat dikategorikan tidak masuk akal?

Oleh karenanya Isra Mi’raj sangat rasional karena Allah yang tidak terbatas kemampuan dan ilmu itu mampu melakukan segala hal yang tidak bertentangan dengan tabiat diriNya sendiri.

Mungkin dalam hal ini ada saja yang mencoba bermain api dan mengatakan bahwa kalau memang Tuhan tidak memiliki batas dalam kemampuan dan ilmu, berarti Tuhan bisa menjadikan diriNya dalam wujud manusia?

Jelas ini tidak rasional. Karena kontra terhadap kekuasaan dan tabiatNya Sebagai Tuhan. Bahwa Tuhan itu tidak punya keterbatasan. Tapi di sisi lain Tuhan tidak akan membatasi diri dengan sesuatu yang justeru menjatuhkan dirinya dari kepada keterbatasan.

Mewujudkan diriNya menjadi makhluk menjadikanNya terbatas. Maka terjadi “self contradictory” atau paradoks dari ketuhanan itu sendiri.

Kedua, benarkah Al-Quran tidak menyebutkan Mi’raj sama sekali?

Kekeliruan para pengingkar Isra Mi’raj adalah karena mereka membaca satu ayat Al-Quran tanpa mencoba menelusuri rimba ilmu-ilmu yang ada dalam Al-Quran.

Mereka dengan sangat simplistik mengambil kesimpulan tanpa pendalaman. Maka pada umumnya mereka hanya membaca ayat pertama dari Surah Al-Isra untuk mengambil kesimpulan.

Padahal jika mereka mencoba mengkaji Al-Quran lebih jauh akan mereka dapati beberapa ayat lain dalam Al-Quran yang sangat relevan dengan peristiwa Mi’raj Rasulullah SAW. Lihat misalnya Surah yang sama (Al-Isra) ayat 12-18.

Allah menegaskan: “Maka apakah kamu akan membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya (Jibril dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. Yaitu di sisi Sidratul Muhtaha.

Di dekatnya Ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihatnya) ketika di Sidratul Muntaha ditutupi oleh sesuatu yang menutupi. Penglihatannya (Muhammad) tidak menyalahi dari apa yang dilihatnya atau melebih-lebihkan.

Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang besar”.

Berikut beberapa ahli yang menyebutkan hal ini dalam kajian tafsirnya.

Tafsir Al-Mukhtashor: dan sesungguhnya Muhammad SAW telah melihat kembali Jibril dalam bentuk aslinya di malam isra Mi’raj.

Zubdatut Tafsir: Yakni Muhammad telah melihat Jibril dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain. Yaitu ketika malam Isra Mi’raj.

Untuk menguatkan itu, para ahli tafsir kemudian mengaitkan kata melihat itu dengan kalimat: di sisi Sidratul Muntaha.

Tafsir Al-Mukhtashor: Sidratul Muntaha yaitu pohon besar sekali berada di langit ketujuh.

Dan banyak lagi tafsiran yang menguatkan bahwa ayat 12-18 dari Surah Al-Isra itu menegaskan bahwa interaksi langsung yang terjadi antarta Muhammad dan Jibril itu bukan di bumi. Tapi di Sidratul Muntaha yang Allah Maha Tahu rinciannya.

Saya tidak perlu menuliskan lagi semua ayat-ayat Al-Quran tersebut. Tapi untuk memudahkan bagi para pengingkar, saya tuliskan beberapa ayat lagi untuk menjadi rujukan, antara lain: Surah An-Najm:15 dan Surah Al-Isra: 60. Juga Surah At-Takwir: 23.

Sekali lagi, menyimpulkan bahwa Al-Quran tidak menyebutkan sama sekali peristiwa Mi’raj Rasulullah SAW adalah kecerebohon dan kebodohan bahkan keangkuhan.

Kenyataannya jika metode memahami Al-Quran dipahami secara baik akan di dapati ayat-ayat yang secara langsung sangat relevan dengan peristiwa Mi’raj Rasululllah SAW.

Ketiga, salah satu juga alasan yang dipakai sebagian mereka yang mengingkari Mi’raj Rasul adalah karena menganggap dengan naiknya Muhammad SAW kita menentukan tempat Allah di langit.

Padahal Allah itu di mana saja akan bersama kita. Dengan kata lain Allah itu tidak terbatas oleh ruang (tempat) dan tentu juga waktu.

Konsep bahwa Allah tidak dibatasi oleh ruang atau tempat benar. “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (Al-Quran).

Tapi salahkah ketika Allah ingin menerima hambaNya yang mulia (abduhu) di alam tetinggi (Sidratul muntaha)? Penyebutan Sidratul Muntaha sama sekali tidak bermaksud sebagai pembatasan tempat Allah SWT.

Ada banyak hadits-hadits mutawathir yang menyebutkan proses Perjalanan Rasulullah SAW secara vertikal (Mi’raj) pada malam itu. Satu di antaranya adalah dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan:

“Kemudian Nabi menoleh ke arah Jibril seolah meminta pendapat mengenai itu (jumlah rakaat sholat). Kemudian Jibril mengisyaratkan pada beliau: Iya. Bila kamu menghendaki keringanan untuk itu.

Lalu nabi naik kepada Rabb sedangkan dia (nabi) di tempatnya dan berkata: ya Rabb, ringankanlah untuk kami. Sesungguhnya Umat ki tidak mampu melakukan ini” (HR Bukhari).

Imam Al-Asqalani menyebutkan: bahwa kalimat “dan dia pada tempatnya” maksudnya tempat Muhammad ketika menerima pentintah itu awalnya. Yaitu di Sidratul Muntaha.

Saya tidak ingin menyebutkan lagi semua riwayat hadits yang menguatkan Perjalanan vertikal (Mi’raj) Rasulullah SAW. Tapi intinya adalah bahwa mengingkarinya peristiwa Mi’raj boleh jadi tanpa sadar justeru mengingkari ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah SAW.

Saya ingin tegaskan sekali lagi. Ketidak mampuan dan keterbatasan akalmu memahami peristiwa ini bukan alasan untuk anda mengatakan bahwa peristiwa Isra dan Mi’raj itu tidak rasional atau tidak masuk akal.

Jangan-jangan ketika anda dengan serta merta mengambil kesimpulan seperti itu justeru akal anda sedang bermasalah. Atau memang anda sedang terjangkiti keangkuhan yang dihiasi oleh perasaan rasionalitas. (Bersambung….).

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Maulid Rasul, Ekspresi Kemanusiaan dalam Kerinduan

Dunia Merindukan Muhammad SAW

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar