Terkini.id, Makassar – Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menyerahkan jabatan Fungsional tertinggi atau Guru Besar kepada beberapa orang dosennya pada tanggal 19 Mei 2021.
Salah seorang dari dosen tersebut dari prodi Sastra Daerah Fakuktas Ilmu Budaya (FIB), yakni Prof. Dr. Gusnawaty, M.Hum. Guru Besar dalam Bidang Ilmu Linguistik.
Raihan ini merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada akademisi (dosen) dan merupakan cita-cita dari sebagian besar akademisi yang bergerak dalam dunia pendidikan tinggi.
Pencapain penghargaan tertinggi dalam dunia akademik oleh Prof Dr Gusnawaty, M. Hum melalui proses panjang dan berliku. Semangat kerjapun pasang surut.
“Profesor itu harapan dan impian sebagaian besar akademisi sebab itu adalah puncak Jabatan Fungsional dosen. Sama halnya seorang pendaki gunung, sebelum sampai puncak kita merasakan lelah tetapi mencapai puncak adalah impian dan tiba di atas menumbuhkan rasa syukur luar biasa, rasa senang, dan rasa bahagia tanpa dapat diekspresikan dengan kata-kata,” kata Prof. Dr. Gusnawaty, Kamis 20 Mei 2021.
Namun bagi dirinya (Prof. Gusna), pencapaian tertinggi ditentukan oleh beberapa unsur, misalnya komitmen, pantang menyerah, kenyakinan untuk sampai tujuan, rendah hati, dan doa merupakan hal utama.
“Memang untuk mencapai tujuan tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi saya memegang teguh prinsip orang tua yang mengatakan “iléttopa saloé nairisseng lamunna” artinya kita berjuang dan merasakan susah senangnya suatu keadaan. Prinsip lainnya dari paseng toriolota “Lettupi nainappa joppa” artinya kita mempersiapkan segala sesuatunya sebelum melangkah, misalnya membaca dengan seksama peraturan, menyiapkan syarat-syarat, siap lahir batin dalam perjuangan termasuk rendah hati dalam menerim koreksi dan umpan balik. Setelah semua itu, “mappésona ri Dewataé” artinya, berserah diri pada Allah SWT. Dengan begini, kita akan melantumkan doa tak putus kepada yang Maha Kuasa, yang memiliki alam ini. Alhamdulillah impian tersebut menjadi kenyataan” tandas Prof Dr Gusnawaty, sambil tersenyum.
Dia menambahkan, pencapaian itu juga tidak lepas dari kesabaran yang kuat dari dalam diri sehingga ada dorongan untuk tidak mudah menyerah dalam melakukan proses tersebut.
“Tantangan mendasar dalam menghadapi proses ini yakni memiliki komitmen dan tetap sabar, karena hal inilah yang kemudian mampu mendorong seseorang untuk tidak mudah menyerah melengkapi seluruh persyaratan akademik meliputi publikasi international bereputasi, kegiatan pengajaran dan pengabdian serta kegiatan penunjang lainnya, serta yang terpenting tetap berusaha, berdoa dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap proses yang dilalui,” jelas dia.
“Jadi ibaratnya filosofi 5 jari tangan, kita mengumpamakan dengan kemampuan tangan menggenggam, bila 5 jari-jemari bersinergi dalam menggenggam, akan dapat menggenggam dengan baik (berhasil) tetapi bila salah satu jari tidak berfungsi maka genggaman tidak begitu kuat, dan apa yang dimaksudkan dalam genggaman bisa saja lepas” lanjutnya.
“Tiga jari yang pertama saya umpamakan dengan kegiatan pendidikan, menulis karya tulis ilmiah pada jurnal bereputasi, serta kegiatan pengabdian masyarakat, hal keempat yang tak kalah pentingnya adalah ruang untuk selalu siap dikoreksi jadi kalau berkas sudah dikirim lalu mendapatkan umpan balik minta ditambah poin atau perbaikan maka kita siap memenuhi permintaan walau tidak segera dilakukan, rayap mampu meruntuhkan rumah padahal tidak ada yang melihatnya bekerja. Terakhir, berpasrah pada Allah SWT, _*mappésona ri Dewataé*_ Kita sudah berusaha keras hasil akhir tergantung pada takdirNya”
“Inilah yang utama dan harus diutamakan dalam setiap langkah, karena tanpa sikap sabar, ulet dan rendah hati maka mustahil sesuatu yang kita impikan dan mimpikan bisa tercapai,” pungkas ibu Gusnawaty.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
