Masuk

Jaga Bahasa Daerah, Balai Bahasa Provinsi Sulsel Gelar Festival Tunas Bahasa Ibu

Komentar

Terkini.id, Makassar – Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu di Hotel Novotel, Kota Makassar. Tujuannya, untuk menjaga agar bahasa daerah tidak punah. 

Pelestarian bahasa daerah bukan hanya penting untuk menjaga keragaman, tetapi juga penting untuk mengembangkan bahasa Indonesia.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulsel, Yani Prayono, menuturkan festival ini merupakan salah satu tahapan revitalisasi bahasa daerah. 

Baca Juga: Kasihan Anak Ini Diancam Ayahnya Akan Dibunuh Pakai Kabel

Yani mengatakan revitalisasi bahasa daerah merupakan program prioritas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa).

Revitalisasi Bahasa, kata dia, dilakukan secara berjenjang, mulai dari level daerah hingga provinsi. 

Peraturan Menteri Dalam Negeri No 40/2007 tentang Pedoman bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Bahasa Daerah.

Baca Juga: Hadirkan Program Lokal yang Mendunia, Cara Wali Kota Makassar Lestarikan Bahasa Daerah

Namun dalam praktiknya, regulasi-regulasi yang mendukung upaya pelestarian bahasa daerah seringkali tidak sejalan dengan kondisi di lapangan. Misalnya, tidak semua kepala daerah mempunyai perhatian soal itu. 

“Kami hanya memfasilitasi dan memantik pembinaan bahasa daerah,” ujar Yani Prayono.

Dia menyebut keragaman bahasa daerah di Sulsel ada 14. Namun, hanya tiga yang menjadi objek revitalisasi bahasa daerah. 

Ia menjelaskan revitalisasi bahasa daerah di Sulawesi Selatan menggunakan Model B. Artinya, melakukan revitalisasi terhadap tiga bahasa mayoritas seperti Bugis, Makassar dan Toraja.

Baca Juga: Kaum Milenial Diminta Kampanyekan Bahasa Lokal Agar Tak Punah

Model ini berbeda dengan konsep revitalisasi Model A seperti yang diterapkan di Jawa Barat dan Jawa Timur, sebab satu provinsi dikuasai satu bahasa walaupun ada beragam dialek.

“Mari kita lestarikan bahasa daerah dengan cara mengembangkannya agar tetap adaptif terhadap perubahan zaman dan terus menjadi ciri dari ke-Indonesiaan kita,” kata Yani Prayogo.

Sementara, Kepala Dinas Provinsi Sulsel, Setiawan Aswad, mengatakan festival ini merupakan sebuah perayaan terhadap penggunaan bahasa daerah.

“Ajang ini merupakan ajang apresiasi kepada diri masing-masing dalam menggunakan bahasa daerah,” ucapnya.

Menurutnya, bahasa daerah sangat penting ditampilkan di ruang publik. Dengan begitu, mampu menciptakan lingkungan untuk bangga dan mencintai bahasa daerah.

“Sulit rasanya menggunakan (bahasa daerah) kalau tidak ada keterikatan emosional dengan bahasa itu,” sebutnya.

Sementara, Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), M. Abdul Khak menuturkan ruang keluarga tempat hidupnya bahasa daerah, bukan bahasa Indonesia atau bahasa asing.

“Kalau perlu sejak lahir jangan dikenalkan bahasa lain selain bahasa daerah selama 5 tahun,” tuturnya.

Khak menyampaikan bahwa secara alamiah satu per satu bahasa daerah mulai kehilangan penutur. Sementara di sisi lain, jumlah anggaran untuk menyelamatkan bahasa daerah terbatas.

Sebab itu, dengan adanya revitalisasi ini sebagai upaya untuk mencegah agar bahasa-bahasa daerah tidak punah terlalu cepat dan nilai-nilai kebahasaan tersebut masih dapat diketahui dan digunakan oleh generasi berikutnya.

“Jangankan bahasa dengan kultur kecil, bahasa yang kultur besar pun mengalami degradasi penutur,” paparnya.