Terkini.id, Makassar – Ketua Program Studi S-2 Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Unhas Asriani Abbas mengatakan, pentingnya petugas yang pandai bahasa daerah di rumah sakit.
Untuk berdialog dengan keluarga pasien yang terindikasi terpapar virus corona atau Covid-19.
Jika tidak ada ASN atau pegawai yang pintar bahasa daerah, bisa menggunakan jasa penerjemah.
Hal itu untuk menghindari sejumlah kasus seperti pengambilan jenasah secara paksa dan penolakan dari pasien atau keluarga pasien terulang.
“Saat menghadapi pasien dari Makassar gunakan bahasa Makassar. Kalau bahasa Bugis maka gunakan bahasa Bugis,” ujar dia saat dihubungiterkini.id, Rabu 10 Juni 2020.
- Jaga Bahasa Daerah, Balai Bahasa Provinsi Sulsel Gelar Festival Tunas Bahasa Ibu
- Kasihan Anak Ini Diancam Ayahnya Akan Dibunuh Pakai Kabel
- Hadirkan Program Lokal yang Mendunia, Cara Wali Kota Makassar Lestarikan Bahasa Daerah
- Kaum Milenial Diminta Kampanyekan Bahasa Lokal Agar Tak Punah
- Plt Gubernur Sulsel Minta Siswa Harus Menguasai Tiga Bahasa: Minimal Menguasai Bahasa Daerah
Langkah tersebut, menurut dia, untuk menghindari misinformsi atau informasi yang salah dari pemerintah ke masyarakat dan tim medis ke masyarakat.
“Selama ini masyarakat tak mendapatkan edukasi yang baik soal Covid-19,” ungkapnya.

Dosen FIB Unhas ini menilai bahasa daerah memiliki kekuatan untuk membangun kedekatan secara persuasif terhadap keluarga pasien.
Selain itu, kata dia, untuk memasyarakatkan bahasa daerah.
“Bahasa lokal sangat membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat karena ada rasa kedekatan. Ada naluri kedekatan,” ungkapnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
