Jelang ‘Invasi’ Rusia ke Ukraina, Ini Situasi Terbaru di Medan Konflik!

Jelang ‘Invasi’ Rusia ke Ukraina, Ini Situasi Terbaru di Medan Konflik!

Effendy Wongso
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Moskwa – Jelang ‘invasi’ Rusia ke Ukraina, ini situasi terbaru di medan konflik! Situasi politik yang tidak menentu di pengujung 2021 dengan tersiarnya kabar Rusia bakal menginvasi Ukraina di awal 2022, membuat negara-negara Barat ‘keder’. Pasalnya, mereka menganggap Rusia benar-benar akan merealisasikan rencananya untuk menginvasi Ukraina pada musim dingin ini.

Lantas, apa yang memicu kekhawatiran invasi Rusia ke Ukraina dan apa yang diincar Moskwa di medan konflik ini?

Pada akhir Oktober 2021, video-video mulai beredar di media sosial yang menunjukkan Rusia mengerahkan tentara, tank, dan rudal ke perbatasan Ukraina. Para pejabat Ukraina pada saat itu mengatakan, Rusia mengutus sekitar 115 ribu tentara ke daerah tersebut.

Kiev dan para sekutu Baratnya sejak lama menuduh Moskwa mengirim pasukan dan senjata melintasi perbatasan guna mendukung separatis pro Rusia yang merebut dua wilayah timur pada 2014, tidak tak lama setelah Rusia mencaplok Krimea. Kremlin sendiri membantah klaim tersebut.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken bulan lalu berujar, Washington khawatir dengan aktivitas Rusia yang tidak biasa ini. Untuk itu, mereka memperingatkan Moskwa agar tidak membuat kesalahan serius lain seperti pada 2014.

Seperti dilansir dari rangkuman AFP pada Kamis 2 Desember 2021, dan diwartakan Kompas.com pada Senin 6 Desember 2021, Rusia sebelumnya membangun pasukan di perbatasan Ukraina musim semi ini. Beberapa analis berspekulasi idenya adalah untuk mengekstrak keuntungan diplomatik.

Pasukan Rusia mundur tidak lama setelah Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan KTT.

Beberapa ahli mengatakan, Putin bisa mencoba trik yang sama lagi karena pembicaraan tentang KTT lain terus berlanjut. Pakar-pakar lainnya merasa Ukraina membuat marah Rusia dengan menggunakan drone yang dibuat anggota NATO Turki.

Peningkatan pasukan Rusia terjadi tepat ketika tentara Ukraina merilis rekaman dari apa yang dikatakannya sebagai penggunaan pertama drone Turki melawan separatis

Vladimir Putin menuduh Barat mengabaikan ‘garis merah’ Rusia dengan mengadakan latihan di Laut Hitam dan mengirim persenjataan modern ke Kiev, kemudian menuntut jaminan hukum dari NATO dengan menegaskan itu tidak akan meluas ke timur.

Dalam artikel pada Juli 2021, Putin menyebut Ukraina sebagai jantung bersejarah orang Slavia dan memperingatkan Barat untuk tidak mencoba mengubahnya untuk melawan Rusia.

“Kami tidak akan pernah membiarkan wilayah bersejarah kami dan orang-orang yang dekat dengan kami yang tinggal di sana digunakan untuk melawan Rusia,” tulis Putin.

Ia juga mengultimatum kepada mereka yang akan melakukan upaya seperti itu.

“Dengan menggunakan cara-cara seperti itu, mereka akan menghancurkan negara mereka sendiri!” tegas Vladimir Putin.

Terkait tanggapapn negara Barat, Amerika Serikat, NATO, dan Eropa berulang kali memperingatkan Rusia agar tidak mengambil tindakan militer, dan Blinken akan bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Stockholm untuk membahas konflik tersebut.

Blinken telah menyuarakan kekhawatiran, Rusia mungkin berusaha mengklaim mereka diprovokasi untuk melakukan aksi militer.

Lavrov pada Rabu 1 Desmber 2021 memperingatkan, Kiev telah mengerahkan sekitar 125 ribu tentara ke timur. Ketegangan makin meningkat lantaran pasukan Rusia semakin mendekat di perbatasan, yang dikhawatirkan dapat memicu perang

Lantas, seberapa besar kemungkinan invasi? Rusia sendiri menolak klaim invasi yang direncanakan, menyebutnya sebagai ‘histeria’. Bahkan, Vladimir Putin pada pekan itu menyamakan Barat dengan ‘anak laki-laki yang merengek’. Ia mengatakan, Moskwa tidak menyerang musim semi ini seperti yang dikhawatirkan.

Sementara itu, Alexander Baunov dari Carnegie Moscow Center menerangkan kepada AFP, ia sulit membayangkan invasi tanpa alasan dan mempertanyakan apa yang akan diperoleh Rusia. Akan tetapi, beberapa operasi militer Rusia lainnya berkembang pesat.

Pada 2008, Rusia membom sasaran di seluruh Georgia setelah presidennya saat itu, Mikheil Saakashvili, mengirim pasukan untuk memerangi separatis. Bulan lalu, dinas intelijen asing SVR Rusia mewanti-wanti kejadian yang sama antara Georgia dan Ukraina.

Dalam pernyataannya, ia mengatakan konflik 2008 terjadi ketika Georgia membuat tawaran untuk bergabung dengan NATO. SVR lalu memperingatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky jika mengulangi langkah Saakashvili.

“Dia harus membayar mahal untuk itu!” tegas SVR.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.