Terkini.id, Jakarta – Pengamat politik sekaligus Jurnalis senior, Harsubeno Arief berbicara soal alasan mengapa kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kerap disoroti sejumlah pihak.
Harsubeno Arief mengungkapkan, awal persoalan kebijakan Anies Baswedan tak lepas dari reklamasi Teluk Jakarta.
Menurutnya, ada ‘harta terpendam’ dari reklamasi Teluk Jakarta tersebut, mengutip dari kalkulasi nilai ekonomi terhadap reklamasi Teluk Jakarta yang disampaikan politikus PKB Daniel Johan pada 2017 yang nilainya mencapai Rp500 triliun.
Maka dari itu, kata Hersubeno, masuk akal Anies selalu coba digoyang dan jadi sasaran kritik dalam tiap kebijakannya.
“Jadi ada kepentingan bisnis besar di sini. Ketika Anies terpilih jadi gubernur, kan kemudian dibatalkan izin reklamasi di Pantai Utara Jakarta. Itulah kepentingan jangka pendek pada waktu itu,” ujar Harsubeno Arief.
- MaxOne Hotel & Resort Makassar Gelar Donor Darah Rutin, Kumpulkan 83 Kantong Darah
- Setahun Komunitas Berdaya Nusantara Infrastructure di Makassar, 951 Kg Sampah Diubah Jadi Produk Bernilai Tinggi
- Polres Jeneponto Bantah Pernyataan Manajer SPBU Tarowang, Tegaskan Bakal Tindak Lanjuti
- Pernyataan Manejer SPBU Tarowang Nyaris Bongkar Praktik Ilegal BBM Subsidi Ditarik Kembali, Ada Apa?
- PMSM Sulsel Ajak Praktisi HR Bangun Kepemimpinan Berbasis Coaching
Hal itu disampaikan Harsubeno lewat videonya yang tayang di kanal Youtube Off The Record FNN, seperti disitat pada Kamis 11 Februari 2021.
Harsubeno dalam tayangan video itu juga mengungkapkan, dalam jangka panjang ke depan para konglomerat akan mewaspadai kebijakan dari Anies.
Mereka, menurut Harsubeno, khawatir kebijakan Anies bakal merugikan kepentingan para taipan, dan kalau Anies terus dibiarkan maka mantan Mendikbud itu akan menjadi presiden.
“Wah bakal banyak kebijakan yang rugikan kepetingan konglomerat (kalau Anies Presiden)” ungkapnya.
Mengutip Hops.id, Harsubeno Arief dalam tayangan videonya tersebut juga menilai dulunya Ahok merupakan eksperimen politik kelompok oligarki supaya kepentingan mereka bisa mulus.
Ia pun mengingatkan kembali momen dulu sewaktu jelang pencalonan Gubernur DKI Jakarta, ada sekelompok pendukung Teman Ahok yang muncul.
Menurut Harsubeno, teman Ahok ini muncul dengan narasi seolah Ahok memang didukung luas masyarakat Jakarta. Namun, ternyata investigasi majalah Tempo menunjukkan Teman Ahok dibiayai para taipan.
“Selepas kedok Teman Ahok terbongkar dan sebagai upaya untuk menghadang laju Anies muncul branding dan narasi pilih mana pemimpin kafir tidak korupsi dengan pemimpin muslim tapi korupsi dan jangan pakai politik aliran. Ini adalah manuver untuk menutup calon lain bisa melawan Ahok,” kata Hersubeno.
Ia meyakini, jika dulunya Ahok mulus melenggang jadi Gubernur DKI lagi pada Pilkada 2017 maka langkah Ahok di politik nasional akan kian mulus.
Bahkan bisa jadi, kata Hersubeno, gubernur DKI sebelum Anies itu akan menjadi calon wakil Presiden Jokowi di di Pilpres 2019 lalu. Dan kalau Ahok sudah terpilih maka tinggal satu tahapan lagi ia menjadi presiden Indonesia pada Pilpres selanjutnya.
“Tapi skenario berantakan, karena yang muncul Anies. Ini cilakanya (Ahok). Anies itu antitesanya framing yang mereka bangun. Kebetulan Anies kerjanya bener, ini kan membuyarkan skenario yang mereka bangun. Mereka sangat marah dan narasi Islam dan radikalisme terus mereka bangun,” ujarnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
