“Saya harus ngomong apa adanya. Enggak ada progress. Signifikan enggak ada. Kalau minta perppu, saya buatin lagi perppu asalkan untuk rakyat untuk negara saya pertaruhkan reputasi politik saya,” kata Jokowi.
Dia lalu menyinggung Kementerian Kesehatan yang baru saja mencairkan 1,53 persen anggaran. Padahal, anggaran yang diberikan sebesar Rp75 triliun. Dia menyayangkan hal tersebut dan meminta agar lekas digunakan.
Jokowi juga mengingatkan terkait stimulus ekonomi. Dia meminta agar bantuan-bantuan segera diberikan kepada sektor mikro, kecil, menengah hingga industri padat karya agar tidak terjadi krisis yang lebih besar.
“Mereka menunggu semua. Jangan biarkan mereka mati dulu baru kita bantu. Enggak ada artinya. Usaha mikro, kecil, menengah, gede, perbankan, semuanya. Terutama yang padat karya. Beri prioritas pada mereka supaya tidak ada PHK. Jangan PHK gede-gedean, duit serupiah belum masuk ke stimulus kita,” kata Jokowi dikutip dari cnn.
Dorong Reshuffle Kabinet
- Fatmawati Rusdi Apresiasi Buku 'BupAAS: Jalan Pengabdian', Karya Inspiratif Penuh Referensi
- Andi Iwan Darmawan Aras Terpilih Aklamasi Pimpin HNSI Sulsel 2026--2031, Siap Perjuangkan Kesejahteraan Nelayan
- Peringati Hari Lingkungan Hidup, PJM Tanam 20 Ribu Pohon di Maros
- Tazkiyah Group Beri Hadiah Haji Khusus Gratis di Momen Perayaan Tahun Baru 1448 Hijriah
- Resmi Dilantik, DPW LP3M Harakah Bakomubin Sulsel Perkuat Peran Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat
Menanggapi itu, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Andreas Hugo Pareira menilai bakal ada reshuffle atau perombakan kabinet.
Hal tersebut dikatakannya menyikapi kemarahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada rapat kabinet paripurna 18 Juni lalu.
“Pidato presiden di Istana Bogor di hadapan para pembantunya, menteri kabinet dan pimpinan lembaga tinggi negara jelas bernada keras dengan pesan yang tegas,” terang Andreas seperti dikutip dari sindonews, Senin 29 Juni 2020.
Andreas berpendapat, kata kuncinya adalah evaluasi kinerja para pembantu presiden soal krisis, sense of crisis response dari para pembantu presiden yang terlihat dalam kinerja di masing-masing kementerian dan lembaga.
“Melihat gesture presiden dalam pidato ini, nampaknya akan ada reshuffle kabinet,” kata anggota Komisi X DPR RI ini.
Dia melanjutkan, reshuffle itu terutama terhadap pembantu-pembantu Presiden Jokowi yang kurang sense of crisis. “Terutama tentu yang berkaitan dengan pembantu-pembantu presiden yang berkaitan dengan penanggulangan Covid-19, penanggulangan dampak sosial ekonomi dan pemulihan ekonomi,” katanya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
