Jokowi Ungkap Alasan Minyak Goreng Sempat Mahal, Warganet: Bahkan Analisa Presiden Diambil dari Sudut Pandang Konglomerat Sawit

Terkini.id, Jakarta – Presiden Joko Widodo belum lama ini mengungkapkan alasan harga minyak goreng dalam negeri sempat mengalami kenaikan harga. Dia mengakui mengendalikakan harga bukanlah hal yang mudah.

Pernyataan Presiden Joko Widodo terkait harga minyak goreng juga mendapat tanggapan dari pengguna media sosial atau warganet yang mengatakan bahwa alasan yang diungkap Jokowi diambil dari sudut pandang para konglomerat sawit.

Warganet mengatakan bahwa mereka lupa lahan sawit yang dugunakan adalah milik negara, namun tidak mampu menyejahterakan rakyatnya dari segi minyak goreng.

Baca Juga: Presiden Jokowi Bawa Misi Setop Perang Rusia-Ukraina, Monica: Bagaimana Dengan...

“Bahkan analisa Presiden @jokowi diambil dari sudut pandang kepentingan teman-temannya konglo sawit” kata Warganet, seperti dikutip Terkini.id dari media sosial Twitter, Senin 23 Mei 2022.

“Seolah karena harga internasional naik maka harga migor dalam negeri harus naik juga. Pura-pura lupa lahan yang dipakai konglo sawit itu dapat dari negara, dpt subsidi dan berbagai fasilitas lainnya”, tulisnya lagi.

Baca Juga: Usulan Duet Pemersatu Bangsa, Kata Anies Baswedan Saya Urus Jakarta...

Minyak goreng misalnya, Jokowi mengatakan sejumlah kebijakan telah diputuskan untuk menjaga kestabilan harga minyak goreng di pasaran. Namun, dia mengakui bahwa persoalan minyak goreng bukanlah hal mudah.

Dia menjelaskan bahwa sejak Januari 2022 telah terjadi kenaikan harga minyak goreng yang disebabkan adanya kenaikan harga internasional.

“Karena harga minyak goreng terutama di Eropa, di Amerika naiknya tinggi, harga di dalam negeri ketarik (naik harganya),” jelas Jokowi.

Baca Juga: Usulan Duet Pemersatu Bangsa, Kata Anies Baswedan Saya Urus Jakarta...

Oleh karenanya, produsen minyak goreng di dalam negeri lebih memilih mengekspor minyak goreng dibandingkan memasok di dalam negeri, sehingga terjadi kenaikan harga minyak di dalam negeri karena kelangkaan stok. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Jokowi menyatakan dia dan jajarannya telah memutuskan beberapa kebijakan untuk mengatasi persoalan tersebut.

“Akhirnya saya setop, setop minyak goreng enggak boleh ekspor. Tetapi itu juga kebijakan yang tidak mudah,” kata Jokowi.

Setelah ekspor minyak goreng disetop, harga tandan sawit jatuh, dan ini terkait dengan 17 juta orang tenaga kerja, baik sebagai petani maupun pekerja. Maka dari itu kebijakan setop ekspor dicabut kembali.

“Negara ini mencari keseimbangan seperti itu tidak mudah, jangan dipikir gampang, tidak mudah. Begitu juga selain urusan petani, urusan pekerja di sawit, juga urusan income negara,” kata Jokowi.

Meski demikian, Presiden Jokowi optimistis dalam dua pekan ke depan harga minyak goreng di pasaran sudah sesuai dengan yang diharapkan oleh pemerintah.

“Tapi ini kuncinya sudah ketemu, ini dalam seminggu, dua minggu, insyaallah yang namanya minyak goreng curah akan berada di harga Rp14.000 (perliter),” ujar Jokowi.

Pada kesempatan tersebut, Jokowi juga bersyukur dengan harga beras yang relatif stabil dan stok beras yang mencukupi. Dalam tiga tahun terakhir, nilai impor beras yang dilakukan oleh pemerintah sangat kecil.

“Biasanya kita impor 1,1 juta sampai 2 juta ton per tahun, sudah tiga tahun ini kita tidak. Ini yang harus dipertahankan. Syukur stoknya bisa kita perbesar. Artinya produktivitas petani itu harus ditingkatkan,” papar Jokowi.

Bagikan