Terkini, Makassar – Pada tahun 2017, Kaimuddin, seorang pengusaha muda dari Sulawesi Selatan, memulai perjalanan panjangnya ke dunia madu. Awalnya, rasa penasaran sederhana memicu langkahnya.
“Saat itu, istri membawakan madu. Tapi, saya tak tahu apakah itu murni atau palsu,” kenangnya.
Pencarian itu membawa Kaimuddin bertemu seorang petani madu bernama Dg. Ngelleng. Dari sang petani, ia belajar asal-usul madu, mulai dari proses panen hingga pengemasan.
“Ternyata, madu itu punya ilmu yang sangat luas. Bukan sekadar cairan manis, tapi banyak manfaat dan turunannya,” ujarnya.
Dari lilin aromaterapi hingga bahan kosmetik, hampir semua bagian dari madu memiliki nilai komersial yang tinggi.
- Bank Sulselbar Sabet TOP Digital PR Award 2026, Bukti Komunikasi Digital Makin Solid
- Perkuat Mutu dan Integritas, Polbangtan Kementan Jalani Audit Surveillance Integrasi ISO
- Dari Prestasi Untuk Negeri, Cetak Generasi Unggul, Festival Pelajar Jeneponto Vol I Siap Digelar
- Program Doktor Pendidikan Vokasi Keteknikan UNM Raih Akreditasi Unggul dari LAMDIK
- Makassar Ambil Peran di Rakernas APEKSI 2026, Munafri Dorong Pembangunan Kota yang Adaptif
Lahirnya Roemank Madu
Belajar dari pengalaman tersebut, Kaimuddin mendirikan merek Roemank Madu. Kini, usahanya tidak hanya menjadi ladang penghidupan bagi dirinya, tetapi juga memberdayakan petani di berbagai wilayah Sulawesi, termasuk Gowa, Barru, Bone, hingga Kepulauan Banggai.
“Kami bekerja sama dengan banyak petani, memastikan mereka mendapatkan penghasilan yang layak,” ujarnya.
Namun, dinamika alam tak selalu berpihak. Ketika musim paceklik melanda Sulawesi Selatan, misalnya, kebutuhan madu sering kali harus dipenuhi dari daerah lain seperti Maros atau Barru. Wilayah-wilayah ini menjadi penopang utama suplai madu murni di kawasan tersebut.
Fluktuasi Harga dan Kekayaan Alam Sulsel
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
