Kasus Kekerasan Anak di Makassar Masih Tinggi

DPPA Makassar
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar Andi Tenri A Palallo

Terkini.id, Makassar – Kekerasan anak pada tahun 2019 di Kota Makassar sebanyak 1.358 kasus.

Selama 4 bulan terakhir, anak yang melaporkan orang tuanya pada pihak kepolisian dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar terus meningkat.

“Di awal tahun 2020 saja sudah ada 6 anak yang melaporkan orang tuanya,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Makassar, Tenri A Palallo, Rabu, 8 Januari 2020.

Tenri mengatakan sang anak sudah mengetahui bahwa tindakan pemukulan terhadap anak merupakan perbuatan melawan hukum.

“Ketika dipukul sama orang tuanya, dia sudah pintar melapor ke Polisi dan Dinas TP3A,” kata dia.

Melihat gejala tersebut, ia mengatakan pihaknya terus berkomunikasi dengan pihak kepolisian ihwal laporan yang masuk. Ia mewanti-wanti agar pelaporan tersebut tak langsung masuk Berita Pemeriksaan Acara Pemeriksaan (BAP).

“Sehingga kami masih punya ruang mediasi untuk menyelesaikan kasus tersebut,” paparnya.

Kemarin, kata Tenri, sudah ada tiga anak yang melaporkan orang tuanya karena kasus pemukulan.

“Saya ingin menyelesaikan persoalan tersebut melalui mediasi, masa anak memenjarakan ibunya,” urai dia.

Kendati begitu, Tenri menegaskan bahwa orang tua seharusnya tak melakukan tindakan pemukulan dalam mendidik sang anak.

Saat ditanya soal keterkaitan antara kekerasan orang tua dan pernikahan usia dini, dia mengatakan hal itu tak ada korelasi secara langsung.

Dia mengatakan masih ada peninggalan budaya yang menganggap memukul bagian dari mendidik anak.

“Misalnya, kalau di kampung kita dipukul, tidak pernah melapor ke polisi. Sekarang, kalau anak-anak dipukul langsung melapor,” ungkapnya.

Tenri menilai kasus kekerasan anak yang meningkat lebih pada faktor ekonomi dan jenuh dari orang tua. Banyak orang tua menyekolahkan anaknya ditempat yang mahal sementara pendapatannya tak seberapa.

Orang tua mencari uang untuk membiayai lantas datang pemberitahuan bahwa anaknya sudah dikeluarkan dari sekolah.

“Apa tidak sinting orang tuanya,” ungkapnya.

Tenri pun melarang orang tua untuk mengucapkan setengah mati mencari uang agar sang anak tetap bersekolah. Ia mengatakan sang anak punya kepekaan tinggi dan mudah tersinggung.

“Kalau tidak sanggup bilang saja maaf, Nak. Ibu tak sanggup membiayai. Orang tua tidak boleh paksakan keadaan,” tutur dia.

Berdasarkan hasil penelusurannya, kasus anak di Kota Makassar terjadi lantaran sang anak dan ibu mengalami stres. Tuntutan kehidupan kota membuat orang berfikir untuk memenuhi kebutuhan sandang, papan, dan pangan.

“Di sisi lain dia lupa ada hal spiritual. Banyak fenomena kota, orang miskin tampil seperti orang kaya, ada juga orang kaya tampil seperti orang miskin,” pungkasnya.

Komentar

Rekomendasi

Iqbal Agendakan Penyemprotan Massal di Seluruh Wilayah Makassar, Ini Jadwalnya

Pemkot Makassar Siapkan Fasilitas Tempat Tinggal Bagi Perawat Pasien Corona

42 Orang Positif Covid-19 di Makassar, Tim Gugus Tugas Imbau Masyarakat Tetap di Rumah

Bantu Tim Medis Covid-19, Alumni Teknik Unhas 2007 Produksi Swab Chamber

Pemkot Makassar Siapkan Lokasi Pemakaman Khusus Covid-19, ini Tempatnya

TERBARU: Toko Bahan Pokok Bisa Buka Hingga Malam, Ini Syaratnya

Iqbal: Hanya Toko Penyedia Bahan Pokok yang Tetap Beroperasi di Makassar

Peduli Kondisi Warga di Tengah Wabah Corona, Aktivis Milenial Sulsel Bagikan Sembako

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar