Kekerasan anak di Makassar meningkat, YKPM: Ibarat Fenomena Gunung Es

Terkini.id,Makassar – Kordinator Lapangan Program Peduli Isu Ayla Yayasan Kajian Pemberdayaan Masyarakat YKPM Sumarni Jufri menyatakan bahwa kekerasan terhadap anak di Makassar cukup meningkat. Sehingga, kata dia, bila tak disuarakan di mana-mana, maka akan semakin membesar.

“Ibarat fenomena gunung es yang tidak kelihatan tetapi Kenyataannya besar,” kata Sumarni saat ditemui di Kafe Seaweed, Kompleks Pasar Toddopuli Makassar, Sabtu, 13 April 2019.

Program peduli ini, Menurut Sumarni memberi penguatan kepada kader supaya mereka semakin kuat dalam melakukan pendampingan termasuk penguatan dalam peningkatan kapasitasnya. Dia menyebut proses pendampingan tetap harus mengutamakan mediasi ketimbang hukum.

“Sehingga kasus anak yang terjadi tidak selamanya harus di bawah ke ranah hukum, harus ada tahapan tertentu. Karena secara psikologis anak akan terganggu ketika dia harus sampai ke tahanan misalnya,” terangnya.

Dalam pengamatanya, Sumarni menyebut banyak kasus terhadap anak yang justru diperalat oleh orang dewasa, “Jadi ini yang ingin kita kuatkan ke kader bahwa jangan sampai ada kasus anak yang sampai ke sana,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Kordinator Program Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulsel  Wahida menilai penguatan terhadap Selter (tempat pengaduan) atau kader peduli melalui pemahaman terhadap proses reintegrasi sosial terhadap anak yang menjadi pelaku sangat diperlukan.

“Ketika sudah selesai masa hukuman di lapas, sebulan sebelumnya, Selter itu diharapkan sudah mampu mengidentifikasi kebutuhan anak tersebut, misalnya mendatangi keluarganya menyampaikan, anaknya sudah mau keluar,” ungkapnya.

“Apakah orang tuanya bisa menerima anak tersebut,” tambahnya.

Dia juga mencontohkan beberapa kasus yang selama ini kerap terjadi, semacam kasus perkosaan, cabul, dan jambret. Wahida menyebut kasus tersebut sering mendapat perhatian dari warga masyarakat.

“Selter juga diharapkan berkomunikasi dengan lingkungan sosial, kira-kira lingkungan mau nda menerima anak itu, sebagai warga di situ,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, dia juga menuturkan bahwa perlindungan pemenuhan hak anak yang paling utama itu berada di keluarga, kemudian lingkungan.

“Dalam sistem perlindungan anak masyarakat salah satu elemen penting yang punya kewajiban melindungi anak, setelah keluarganya tidak mampu, dan itu dijamin UU, masuk dalam peran serta masyarakat UU perlindungan anak,” tutupnya.

Diketahui, sejauh ini Kader Peduli yang terhimpun berkisar 150 orang, dan tersebar di seluruh kelurahan di Kota Makassar.

Berita Terkait
Komentar
Terkini