Disekap Ayah, Disiksa Ibu Tiri: Kisah Kelam Dua Bocah di Makassar

Disekap Ayah, Disiksa Ibu Tiri: Kisah Kelam Dua Bocah di Makassar

K
R
Kamsah
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini, Makassar – Di sebuah wisma sempit di Jalan Flores, Kecamatan Wajo, Makassar, dua bocah bersaudara—IS (8) dan SF (9)—menjalani hari-hari mereka dalam kegelapan. Bukan karena listrik padam, melainkan karena mereka disekap di dalam kamar mandi sempit, dirantai, dan tubuh mereka penuh luka bakar. Tak ada tawa anak-anak di sana, hanya isak tertahan dan ketakutan yang membungkam.

Tetangga mulai curiga. Anak-anak itu jarang terlihat, bahkan suara mereka pun nyaris tak pernah terdengar. Hingga suatu hari, laporan warga sampai ke polisi. Tim dari Polres Pelabuhan Makassar bergerak cepat. Saat pintu kamar di lantai tiga itu dibuka, pemandangan memilukan menyambut mereka: dua bocah dengan tubuh kurus kering, kulit penuh luka, duduk lemah di lantai kamar mandi yang lembab.

“Mereka dalam kondisi terikat, dengan luka-luka yang menunjukkan kekerasan cukup serius,” ujar Kapolres Pelabuhan Makassar, AKBP Restu Wijayanto.

Pelaku ternyata bukan orang asing bagi mereka. AY (37), ayah kandung mereka sendiri, bersama ibu tiri mereka, NI (28), diduga menjadi dalang penyiksaan itu. Lebih mencengangkan lagi, dua kakak korban juga ikut terlibat.

Akbar, penjaga wisma, mengaku keluarga ini memang tertutup. Sang ayah bekerja sebagai koki di sebuah rumah sakit ternama di Makassar, sementara sang ibu tiri mengurus anak-anak di kamar sempit itu. “Baru beberapa minggu tinggal di sini. Ayahnya kerja, ibunya jarang keluar. Anak-anak juga hampir tak pernah kelihatan,” ujarnya.

Baca Juga

Saat polisi menggeledah kamar itu, mereka menemukan teko pemanas air yang diduga digunakan untuk menyiram tubuh kedua bocah, rantai besi dan gembok, serta keranjang rusak yang dipakai untuk memukul mereka.

AY dan NI berdalih, mereka hanya mendisiplinkan anak-anak. Namun, bagi polisi, ini jelas penyiksaan. “Mereka bilang anak-anak nakal, makanya dihukum. Tapi ini sudah jauh melampaui batas,” tegas AKBP Restu.

IS dan SF segera dilarikan ke RS Bhayangkara. Dokter yang menangani mereka menemukan luka bakar serius, memar akibat pukulan benda tumpul, serta tanda-tanda malnutrisi. “Saat tiba, kondisi mereka kritis karena kurang gizi. Syukurlah, setelah mendapat perawatan intensif, mereka mulai membaik,” kata seorang tenaga medis di rumah sakit tersebut.

Polisi kini menahan keempat tersangka dan terus mendalami kasus ini. Sementara itu, IS dan SF masih menjalani pemulihan, baik fisik maupun psikologis. Harapan kini tertuju pada mereka—agar luka di tubuh dan trauma di hati mereka perlahan bisa sembuh.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.