Kenali Stockholm Syndrome, Antara Sayang dan Pukulan Melayang

Terkini.id, Jakarta – Kasus kekerasan kepada pasangan bukanlah hal yang baru di Indonesia. Data menunjukkan bahwa semakin lama, semakin banyak kekerasan yang terjadi entah dalam tahap pacaran atau sudah berumah tangga.

Namun, banyaknya korban kekerasan ini justru memilih bertahan dengan pasangannya. Sekalipun sudah diperlakukan sedemikian rupa, korban tetap memilih untuk bersama pasangan. Apakah karena cinta?

Memutuskan hubungan dengan pelaku kekerasan atau intimidasi bukanlah perkara mudah buat sebagian orang. Bisa jadi mereka mengidap stockholm syndrome.

Baca Juga: Viral! Petugas Dishub Kota Bekasi Diserang dan Dilempari Helm oleh...

Stockholm Syndrome atau sindrom stockholm adalah Stockholm Syndrome adalah suatu kondisi paradoks-psikologis dimana timbul ikatan yang kuat antara korban terhadap pelaku kekerasan, ikatan ini meliputi rasa cinta korban terhadap pelaku, melindungi pelaku yang telah menganiayanya, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab kekerasan, menyangkal atau meminimalisir kekerasan yang terjadi.

Sindrom ini muncul pertama kali melalu peristiwa penculikan pada tahun 1973 di Stockholm, Swedia. Kendati para sandera mendapat kekerasan oleh pelaku, mereka tidak menunjukkan perasaan negatif. Malahan, para sandera yang telah berhasil diselamatkan mendukung tindakan orang yang menculik mereka.

Baca Juga: Kutuk Kekerasan, Said Aqil: Intoleransi Bertentangan dengan Islam

Menurut Carver (2009) dikutip dari Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental Universitas Airlangga menyebutkan ada empat kondisi yang menyebabkan adanya sindrom ini yakni :

1. Kondisi pertama yaitu adanya ancaman terhadap keselamatan korban, baik secara fisik maupun psikologis yang dilakukan oleh pelaku.

2. Kondisi kedua yaitu pelaku mengancam korban untuk tidak melarikan diri atau pergi dari pelaku.

Baca Juga: Dear Para Pria, Jika Kamu Kurang Tampan Jadilah Altruis!

3. Kondisi ketiga yaitu pelaku melarang korban untuk berhubungan dengan ooranglain di sekitarnya.

4. Kondisi terakhir yaitu pelaku menunjukkan kebaikan-kebaikan pada korbannya dalam bentuk apapun.

Keempat kondisi tersebut mendukung berkembangnya Stockholm Syndrome dalam hubungan yang abussive, yang kemudian membentuk ikatan tidak sehat antara korban dengan pelaku.

Hal ini yang menjadi alasan kenapa korban sulit melepaskan diri dari hubungan karena korban terus menerus melihat sisi baik dari perilaku pelaku (Carver, 2009).

Gejala Sindrom Stockholm

Disadur dari Alodokter, ada beberapa gejala dari sindrom ini.  Gejala ini secara umum hampir sama seperti gejala gangguan stres pasca trauma atau PTSD. Gejala yang muncul meliputi:

  • Mudah kaget
  • Gelisah
  • Mimpi buruk
  • Sulit tidur atau insomnia
  • Muncul perasaan seperti sedang tidak berada dalam kenyataan
  • Sulit konsentrasi
  • Selalu mengenang masa trauma (flashback)
  • Tidak lagi menikmati pengalaman yang sebelumnya menyenangkan

Namun, di samping berbagai gejala tersebut, seseorang yang mengalami Stockholm syndrome juga akan menunjukkan gejala lain berupa perasaan negatif terhadap keluarga maupun teman yang mencoba untuk menyelamatkannya dan selalu mendukung setiap hal yang dilakukan oleh penyandera

Dampak dari Sindrom Stockholm

Sejumlah dampak psikologis dan fisik ditemukan dalam kasus-kasus stockholm syndrome.

Dalam studi Alexander dan Klein (2009) yang dimuat di Journal of The Royal Society of Medicine, dikutip dari Tirto.id, efek psikologis stockholm syndrom dibagi menjadi tiga: kognitif, emosional, dan sosial.

Kognitif :Carver menemukan, korban mengalami kehilangan kepercayaan diri, penurunan self-esteem, dan merosotnya energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Korban akan merasa depresi ketika ia membayangkan diri meninggalkan si pasangan.

Emosional : korban bisa mengalami shock dan kekakuan, ketakutan, serta kecemasan. Studi di Sardinia menunjukkan, 50% korban stockholm syndrom mengalami gangguan stres pascatrauma, 30% mengidap depresi akut.

Sosial : korban akan cenderung menarik diri dari perkumpulan dengan teman-teman atau suatu acara yang melibatkan banyak orang.

Sindrom Stockholm ini memang sulit dideteksi namun teruntuk korban yang mengalami dan merasa mengalami gejala-gejala sindrom disarankan untuk temui psikater dan melaksanakan terapi.

Bagikan