Terkini.id, Jakarta – Pendakwah kondang, Ustadz Abdul Somad atau akrab disapa UAS mengenang kembali sosok ulama kharismatik Syekh Ali Jaber yang wafat pada Kamis 14 Januari 2021 kemarin.
Lewat siaran langsungnya di kanal Youtube Syekh Ali Jaber, Jumat 15 Januari 2021, UAS teringat kembali momen pertemuannya dengan ulama keturunan Timur Tengah itu.
Saat itu, kata UAS, kondisi kesehatan Syekh Ali Jaber cukup memprihatinkan. Namun, almarhum sempat membahas tentang masalah takziah dan mendoakan enam laskar FPI yang tewas ditembak aparat kepolisian.
“Beliau cerita tentang beberapa orang menelpon beliau komplain, mengapa saya mendoakan 6 orang syuhada, kemudian Syekh Ali menjelaskan sebagai seorang muslim takziah atau mendoakan sesama muslim yang tertembak, maka mereka mendoakan sesama muslim. Tapi orang-orang yang ditelepon itu mengatakan, respons Syekh Ali mereka tidak setuju,” cerita UAS.
Namun, Ustadz Abdul Somad kemudian mengalihkan pembicaraan terkait hal tersebut ke pembahasan lainnya.
- Kadis Perkimtan Gowa Pakai Rompi Orange Usai Ditetapkan Tersangka Korupsi
- Gojek dan Yayasan GoTo Merah Putih Beri Beasiswa S1 untuk Ratusan Mitra Driver dan Keluarga
- Pertamina Pastikan Pasokan BBM Aman Selama PENAS Petani Nelayan XVII di Gorontalo
- Pemkot Makassar Kukuhkan 47 Kepala Puskesmas Definitif, Perkuat Layanan Kesehatan Masyarakat
- BMKG: Sejumlah Wilayah Sulsel Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Hari Ini 17 Juni
“Saya alihkan ke cerita lain, Syekh Ali yang saat itu mungkin posisinya sedang sakit, jadi masih sempat menceritakan itu ke saya, menunjukan beliau merasa, kenapa menganggap dia salah mengucap takziah di depan para syuhada ini,” tuturnya.
Mengutip Okezone.com, UAS juga mengungkapkan meskipun latar pendidikan Syekh Ali Jaber dari Madinah yang notabene umat Islam disana mayoritas penganut Mazhab Imam Hambali namun almarhum bisa menempatkan posisinya saat berada di Indonesia yang mayoritas Mazhab Imam Syafi’i.
“Kita tahu bahwa latar belakang pendidikan beliau di Madinah cenderung Mazhab Imam Hambali, tapi saat ke Indonesia, beliau banyak menjawab pertanyaan fatwa-fatwa sesuai dengan Mazhab Syafi’i yang mayoritas dianut umat Islam di Indonesia,” ungkapnya.
Hal itu, kata UAS, terlihat saat Syekh Ali Jaber membaca Bismillah saat di Indonesia di jahar (bersuara keras).
“Artinya, beliau menempatkan diri sebagai seorang dai semua mazhab, semua golongan. Beliau juga rajin sowan atau silaturahmi ke organisasi besar, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan yang lain sebagainya,” jelasnya.
Menurutnya, Syekh Ali Jaber selain sebagai seorang yang alim atau orang berilmu dengan hafalan Alquran yang luar biasa dan juga faqih.
“Tapi lebih kita kenang akhlaknya, beliau sangat berakhlak, kita tertawan dengan akhlaknya, jadi beliau banyak sekali khasanah, warisan, tidak dalam bentuk tertulis, tapi dirasakan oleh para da’i yang berteman dengan beliau,” ungkap UAS.
Kenangan lainnya dengan Syekh Ali Jaber, lanjut UAS, yakni almarhum selalu mendoakan supaya anak-anak menjadi para penghafal Alquran.
“Doa itu kita ingat yang terkadang sering kita lupa, kalau ketemu dengan orang ngobrol, setelah itu berlalu dan selesai. Tapi beliau, selalu mendoakan, supaya umat ini menjadi baik, supaya dai-dai nya sehat walafiat, doa secara khusus,” kata Ustadz Abdul Somad.
Oleh karenanya, UAS mengaku terkejut saat mendengar kabar Syekh Ali Jaber telah wafat.
“Jadi kepergian beliau sangat mengejutkan, tersentak, dan sebab banyak ingatan-ingatan yang baik itu, sepert hari ini kalau kita buka medsos dan di televisi semuanya (membahas kebaikan beliau), sesuai dengan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW, kalau ada orang meninggal sebutlah yang baik-baik,” ujarnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
