Kesadaran Tumbuh dari Luka

Kesadaran Tumbuh dari Luka

K
R
Kamsah
Redaksi

Tim Redaksi

Media sibuk menggoda indera, bukan mengasah batin. Penuh dengan judul yang meledak, gambar yang gegas, pernyataan yang setengah—semuanya berlomba mencuri perhatian, tapi tak satu pun mengajak diam sejenak untuk merasa.

Kita terbiasa menganggap tahu segalanya dari sepotong gambar, satu cuitan, atau video berdurasi setengah menit. Padahal kesadaran tak tumbuh dari serpihan-serpihan itu. Ia lahir dalam keheningan, dalam ketekunan mendengar apa yang tak bersuara, dalam keberanian memandang luka yang tak tampak.

Kesadaran sejati, kata Paulo Freire, hanya bisa tumbuh dari pengalaman yang dipahami. Ia bukan sekadar tahu, tapi mengerti; bukan sekadar melihat, tapi memahami keterhubungan.

Kita bisa tahu harga cabai naik, tapi tidak sadar bahwa itu terkait dengan cuaca ekstrem, dengan gagal panen, dengan krisis iklim yang selama ini dianggap jauh, padahal sudah tiba di halaman rumah.

Kita bisa tahu bahwa jalanan macet, tapi tak sadar bahwa itu adalah hasil dari pola kota yang dikuasai kendaraan pribadi, dari perencanaan transportasi yang tak berpihak pada warga berjalan kaki. Setiap hari kita hidup di dalam gejala, tapi tak kunjung sadar akan sebab.

Baca Juga

Kesadaran, seharusnya, adalah tindakan. Ia mestinya tumbuh menjadi keputusan, berubah menjadi keberpihakan. Tapi di negeri ini, terlalu sering kesadaran berhenti di permukaan: jadi kutipan indah di spanduk, jadi bahan tertib dalam seminar, jadi selipan manis dalam khutbah Jumat.

Setelahnya, tak ada yang bergerak. Jalan-jalan tetap sesak oleh sampah, kantor-kantor masih sibuk menunda, dan negara hadir sebatas tanda tangan di kertas, bukan pada kehidupan sehari-hari.

Barangkali yang dibutuhkan bukan lagi “kesadaran baru”, tapi keberanian yang paling mendasar: keberanian untuk mendengarkan. Mendengarkan sungai yang kering bukan sebagai data, tapi sebagai jeritan. Mendengarkan nelayan yang tak lagi melaut karena laut telah disewakan kepada kepentingan besar. Mendengarkan anak-anak yang kehilangan masa depan—bukan karena mereka bodoh, tapi karena tak seorang pun menyebut nama mereka dalam rapat-rapat kebijakan.

Sebab tak ada kesadaran sejati yang lahir dari kebisingan. Ia lahir dari mendengarkan yang sepi, dari melihat yang tak terlihat, dan dari keberanian mengakui bahwa pembangunan yang tak memeluk manusia hanyalah kekerasan yang dibungkus rapi.

Di akhir hayatnya, filsuf Albert Camus menulis: “Aku memberontak, maka aku ada.” Sebuah kalimat pendek, tapi dalam negeri ini, barangkali itulah satu-satunya bentuk kesadaran yang paling dibutuhkan: keberanian untuk tidak lagi diam.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.