Keberanian untuk berkata tidak pada ketidakadilan, bahkan jika suara itu terdengar sumbang. Keberanian untuk menolak lupa, ketika yang lain memilih nyaman dalam amnesia kolektif.
Dan yang terpenting: keberanian untuk bertanya kembali—apa arti hidup bersama dalam sebuah republik, jika kehadiran negara hanya terasa saat ia menagih, bukan saat rakyat membutuhkan?
Sebab jika kesadaran terus datang terlambat, negeri ini akan terus menyebut dirinya merdeka, tapi dengan wajah yang letih, tubuh yang lelah memikul janji, dan hati yang sudah lama kehilangan suaranya sendiri.
Di luar negeri—di luar meja-meja anggaran dan birokrasi yang selalu tergesa—dunia pun terbakar oleh kesadaran yang datang terlambat.
Di Gaza, tubuh-tubuh kecil digali dari puing—anak-anak yang belum sempat belajar mengeja kata “rumah”, telah kehilangan rumahnya. Di Iran dan Israel, doa-doa tenggelam dalam dentuman misil, tak sempat naik ke langit yang sudah dipenuhi asap dan amarah. Dunia menangis, tapi tangis itu tak pernah cukup untuk menghentikan peluru.
- Di Rakernas APEKSI 2026: Wali Kota Makassar Munafri Dorong Penguatan Ketahanan Bencana dan Pangan
- Semen Tonasa Gelar Sunatan Massal bagi Masyarakat Lingkar Perusahaan
- HUT Ke-80 Bhayangkara, Polres Jeneponto Musnahkan Sabu 1 Kg, Bernilai Rp1,2 Milyar
- Kalla Toyota Cetak Rekor Penjualan Juni 2026, Sambut Juli dengan Event Hybrid Terbesar di Makassar
- Poltekpar Makassar Tembus Peringkat Dunia THE Sustainability Impact Ratings 2026
Kita menyaksikannya dari layar sebuah tragedi dalam genggaman. Menahan napas sejenak, lalu menggulir ke bawah, seperti menutup lembar berita yang terlalu menyakitkan. Tapi apakah penderitaan yang jauh harus selalu terasa asing?
Mungkin di sanalah letak batas kemanusiaan kita hari ini—bukan pada seberapa banyak yang kita tahu, tapi pada seberapa dalam bisa merasakan, bahkan untuk yang tak menyebut nama kita.
Kesadaran seharusnya melampaui batas negara, agama, dan ras. Ia tumbuh dari pengakuan bahwa penderitaan siapa pun adalah juga tanggung jawab kita.
Bahwa kehancuran di Gaza adalah cermin dari kegagalan kita merawat dunia bersama. Bahwa perlawanan warga sipil di sana—yang hanya bersenjata keyakinan untuk hidup—adalah bentuk kesadaran paling dasar: bahwa hidup layak adalah hak, bukan hadiah.
Kini, kita dihadapkan pada dua pilihan — memilih untuk tetap menjadi penonton, atau mulai belajar mendengar yang terluka. (*)
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
