Makassar, Terkini.id – Dalam tiap malapetaka, kesadaran selalu datang terlambat—seperti kabar buruk yang sengaja disembunyikan. Ia bukan tak tahu arah, hanya terlalu lamban menyeberangi kebodohan yang dibiarkan tumbuh.
Hutan dibabat, langit menghitam, kota jadi puing, dan manusia baru belajar menggigil setelah bara jadi abu. Begitu tabiatnya: selalu sadar sesudah segalanya musnah.
Setelah anak-anak lahir ringkih, tubuh kecil mereka dicekik gizi yang tak pernah cukup, barulah teringat: bahkan air bersih pun belum menjangkau semua rumah.
Dan ketika kota tenggelam oleh banjir yang datang tiap musim, yang disalahkan adalah sampah, kabel, gorong-gorong, cuaca—segala hal, kecuali kesembronoan yang sudah diwariskan dari satu tahun ke tahun berikutnya.
Kesadaran, rupanya, bukan buah dari ajaran atau himbauan. Ia tumbuh pelan dari luka—dari perih yang tak bisa lagi ditolak, dari kenyataan yang datang tanpa permisi.
- Di Rakernas APEKSI 2026: Wali Kota Makassar Munafri Dorong Penguatan Ketahanan Bencana dan Pangan
- Semen Tonasa Gelar Sunatan Massal bagi Masyarakat Lingkar Perusahaan
- HUT Ke-80 Bhayangkara, Polres Jeneponto Musnahkan Sabu 1 Kg, Bernilai Rp1,2 Milyar
- Kalla Toyota Cetak Rekor Penjualan Juni 2026, Sambut Juli dengan Event Hybrid Terbesar di Makassar
- Poltekpar Makassar Tembus Peringkat Dunia THE Sustainability Impact Ratings 2026
Barangkali itulah yang dimaksud Jalaluddin Rumi dalam sajak-sajaknya bahwa luka adalah tempat di mana cahaya bisa masuk. Bahwa penderitaan, dalam makna terdalamnya, mengandung kemungkinan untuk bangkit dan memahami lebih dalam hidup ini.
Namun cahaya itu sering datang terlalu redup dan terlalu lambat. Di republik ini, kesadaran sering datang sesudah korban jatuh, sesudah dana habis, sesudah sesuatu hancur tak bisa lagi disusun ulang.
Saya teringat cerita seorang warga di Luwu, Sulawesi Selatan. Air sumurnya mulai asin, tak jelas sejak kapan. Tanah di halaman retak seperti pecahan piring tua. Setiap malam, anak-anaknya batuk, seperti mengeluarkan debu dari paru-paru kecil mereka.
Di kejauhan, tambang nikel bergemuruh tanpa henti—siang dan malam seakan tak lagi punya batas. Tak ada jeda, tak ada diam. Yang disebut sebagai “kemajuan” ternyata bisa juga berarti kehancuran yang ditangguhkan; ditutup rapat-rapat dengan laporan pertumbuhan dan angka ekspor.
Sementara itu, sistem terus bergerak cepat. Terlalu cepat untuk mendengar, apalagi merasa. Keputusan diambil dalam ruang dingin, jauh dari suara rakyat, jauh dari suara anak-anak yang batuk di malam hari. Bukan semata karena pejabat bodoh atau jahat, tapi karena kesadaran mereka berada di tempat lain.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
