Ketika Hati Batal Puasa!

Sesungguhnya puasa dalam perspektif fiqhi hanyalah “meninggalkan makan, minum dan hubungan suami isteri dari sejak fajar kedua hingga terbenam matahari karena Allah SWT”. 

Ketika menahan makan, minum dan hubungan suami isteri dilakukan dengan niat karena Allah, dan pada batas waktu yang ditentukan itu, puasa pastinya sah. 

Pemahaman keabsahan puasa secara fiqh inilah yang menjadi pemahaman dan pegangan umum Umat Islam. Sehingga fokus utama pada puasa dan ibadah-ibadah lainnya hanyalah pada aspek yurisdiksi (Hukum fiqh) semata. 

Baca Juga: Alquran itu Sudah Diturunkan!

Akibatnya puasa dan ibadah lainnya terasa gersang dari makna-makna spiritualitas, yang sejatinya menjadi salah satu tujuan utama semua ibadah ritual dalam Islam.

Jika kita lihat ibadah-ibadah ritual Islam seperti sholat, zakat, puasa dan haji, semuanya bermuara kepada penguatan atau penyuburan spiritualitas (ruhiyah) manusia. 

Baca Juga: Isra Mi’raj di Era Pandemi Covid-19

Salat itu bagaikan makanan lima kali sehari semalam bagi ruh manusia. Puasa seolah pesta spesial tahunan. 

Haji ibaratnya sebuah pesta seumur hidup manusia untuk menyuburkan kehidupan ruhiyahnya.

Ketika ibadah-ibadah itu gersang dari nilai-nilai spiritualitas maka ibadah itu, puasa misalnya, menjadi sebuah rutinitas tahunan yang datang dan pergi setiap tahun tanpa meninggalkan bekas dalam kehidupan ril manusia. 

Baca Juga: Islam dan Keseimbangan Hidup

Salah satu obyek utama puasa itu adalah menata hati manusia. Dengan menata hati, suasana kejiwaannya akan merasakan ketenangan dan ketentraman (thuma’ninah). 

Dengan berpuasa seorang Muslim akan mengekang dorongan hawa nafsu yang ‘ammarah’. Yaitu kejiwaan yang mendorong kepada ragam ‘thughyaan’ (transgression) dalam hidupnya.

1 2
Selanjutnya
Bagikan