Terkini, Makassar — Dulu, langit punya dewa. Ia marah bila kita menebang pohon sembarangan, mencabut akar, menggunduli hutan, mengeruk perut bumi tanpa permisi.
Ia menurunkan hujan sebagai berkah, dan badai sebagai peringatan. Tapi sekarang, langit kosong. Dewa-dewa pensiun. Mungkin mereka muak. Atau mungkin mereka kalah.
Di kampung Ibu saya, petani-petani tua masih menengadah ke langit setiap pagi. Mereka mengguratkan harapan pada awan, seperti anak kecil menggambar rumah dan matahari di pojok kertas.
Tapi langit sudah tak punya rahmat. Hujan datang terlambat, atau terlalu deras. Panen gagal. Tanah retak. Udara menyimpan murka.
Krisis iklim bukan dongeng baru. Tapi seperti dongeng lain, ia hanya jadi bahan obrolan sebelum tidur; di ruang rapat, di seminar internasional, di pidato politisi yang sedang mencalonkan diri.
- Hadiri Sannipata Waisak 2026, Gubernur Andi Sudirman Apresiasi Kontribusi Permabudhi dalam Pembangunan Daerah
- Wali Kota Makassar Hadiri Syukuran HUT ke-69 Kodam XIV/Hasanuddin
- Hari Lahir Pancasila: Pondasi Perjuangan Bagi Keisha Ratu Utami Menuju Paskibraka Nasional 2026
- Gimnastik Jadi Cara Ibu Dua Anak Ini Latih Kemandirian Anak di Era Gadget dan AI
- PT Vale Terus Perkuat Tata Kelola ESG, Skor Risiko Keberlanjutan Turun Hampir 20 Persen pada 2025
Mereka bilang akan menanam jutaan pohon, tapi yang tumbuh subur adalah proyek tambang dan izin perkebunan sawit.
Mereka bilang akan menyelamatkan bumi, tapi tak bisa menolak tumpukan uang yang datang dengan aroma solar dan batubara.
Di kota, perubahan iklim adalah statistik. Di desa, ia adalah anak-anak yang tak bisa sekolah karena banjir.
Adalah petani yang gantung cangkul karena tak sanggup bayar pupuk. Adalah ibu-ibu yang antre air bersih sambil mengutuk kemarau. Tapi siapa peduli pada desa? Kota-kota punya pendingin ruangan, punya kafe dengan kopi organik yang ditanam di lahan yang dulunya hutan.
Di abad ke-6 sebelum Masehi, seorang filsuf dari Efesos bernama Heraclitus mengucapkan kalimat yang kelak akan bergema sepanjang sejarah pemikiran manusia: panta rhei—segala sesuatu mengalir.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
