Ia percaya bahwa perubahan adalah hukum alam yang paling mendasar. “Kita tidak bisa melangkah ke sungai yang sama dua kali,” katanya, karena aliran air sudah berubah, dan begitu pula diri kita.
Heraclitus hidup di masa ketika perubahan dipandang sebagai kebijaksanaan: sesuatu yang mesti diterima, bahkan dirayakan, karena menandai gerak hidup yang terus berdenyut. Baginya, dunia ini tak pernah tetap; segala sesuatu dalam keadaan menjadi.
Namun barangkali Heraclitus tak pernah membayangkan bahwa perubahan itu, ribuan tahun kemudian, akan mengambil bentuk yang begitu muram.
Bongkahan es di kutub yang luruh satu demi satu, permukaan laut yang menggerogoti daratan, dan musim yang seakan kehilangan ingatan tentang kapan harus datang dan pergi.
Kita hidup di zaman ketika perubahan tak lagi berarti kearifan, melainkan bencana. Ketika aliran sungai tak lagi melambangkan kehidupan, melainkan peringatan akan banjir yang akan datang.
- Hari Lahir Pancasila, Munafri-Aliyah Ajak Warga Makassar Hidupkan Nilai Kebangsaan
- Hadiri Sannipata Waisak 2026, Gubernur Andi Sudirman Apresiasi Kontribusi Permabudhi dalam Pembangunan Daerah
- Wali Kota Makassar Hadiri Syukuran HUT ke-69 Kodam XIV/Hasanuddin
- Hari Lahir Pancasila: Pondasi Perjuangan Bagi Keisha Ratu Utami Menuju Paskibraka Nasional 2026
- Gimnastik Jadi Cara Ibu Dua Anak Ini Latih Kemandirian Anak di Era Gadget dan AI
Perubahan hari ini bukan sekadar prinsip kosmis atau filsafat. Ia adalah suhu yang naik tak kenal jeda. Ia adalah kebakaran hutan yang menghitamkan langit. Ia adalah anak-anak yang belajar beradaptasi di bawah kabut asap dan suhu ekstrem.
Dulu, perubahan musim adalah puisi. Sekarang, dia adalah laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB). Dulu orang bisa menebak waktu tanam dari gerak angin dan warna langit. Sekarang, bahkan petugas BMKG pun perlu meminta maaf karena cuaca membangkang.
Filsuf Jerman, Martin Heidegger, pernah menulis bahwa manusia bukanlah penguasa atas alam, melainkan dweller—penghuni yang tinggal, mendiami, dan merawat.
Dalam bahasa Heidegger, menjadi manusia sejati adalah to dwell poetically, hidup secara puitis di atas bumi, dengan kesadaran akan keberadaan kita sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar. Kita bukan pemilik tanah ini, melainkan tamu yang diundang.
Sekarang, lihatlah apa yang terjadi ketika kita lupa bahwa kita hanya penghuni. Kita merasa berkuasa dan mulai menebas hutan seolah-olah ia tak bernyawa, membakar lahan seperti memanggang sesuatu yang tak punya sejarah.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
