Ironisnya, banyak yang lebih sibuk berdebat soal artis yang selingkuh, daripada bertanya kenapa kualitas udara kita makin parah. Mengapa laut di sekitar Paotere penuh limbah kapal. Mengapa ribuan ton sampah menumpuk di TPA Antang tapi masih juga dibuka pasar swalayan baru setiap bulan.
Bencana dianggap biasa. Bahkan dinormalisasi. Di Bulukumba, longsor disebut “musibah”, seakan kita tak pernah tahu hutan di sana dipreteli perlahan oleh tambang galian C. Di Luwu, banjir dianggap kutukan, padahal sungai-sungai dirampok sedimen oleh galian C yang dilindungi oleh stempel birokrasi.
Barangkali, inilah saatnya kita berhenti berharap pada dewa dan mulai mengadili manusia. Bukan di pengadilan tinggi, tapi di ruang kesadaran kita sendiri.
Bahwa selama kita diam, selama terus memilih yang sama, selama masih menganggap bumi adalah milik segelintir pemodal dan birokrat, maka kita tak lebih dari komplotan perusak yang tersenyum di tengah reruntuhan.
Makassar, Sulsel, Indonesia—semua hanya potongan-potongan luka dalam tubuh planet yang sedang demam. Dan seperti anak kecil yang terlalu sering dibiarkan bermain korek api, kita akan terbakar oleh api yang kita nyalakan sendiri.
- IPEMI Makassar Gelar Taklim Akbar 2026, Perkuat Spiritual Muslimah Sekaligus Fasilitasi UMKM
- PT Vale Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di NTT
- Kalla Institute Berdayakan UMKM Perempuan di Maros Melalui Program PMP Kemdiktisaintek 2026
- Hadiri Muktamar V Wahdah Islamiyah, Dirut PT PAL Ajak Ormas Islam Bangun Kekuatan Industri Nasional
- Musim Kemarau, Wali Kota Makassar Ingatkan Warga Waspadai Kebakaran
Mungkin benar, dewa-dewa tak akan kembali.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
