Kiprah Andi Tenri Palallo dan Tragedi Dunia Anak

Andi Tenri Palallo
Andi Tenri Palallo. (Foto: Tribunnews)

Terkini.id, Makassar – Andi Tenri Palallo sehari-hari melayani pelbagai kasus ihwal perempuan dan anak di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di Kota Makassar.

Selasa, 23 Juli 2019 dirinya mengantarkan Kota Makassar menjadi satu-satunya di Indonesia Timur memperoleh predikat Nindya pada penghargaan Kota Layak Anak (KLA) tahun 2019.

Berdasarkan hierarki penghargaan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang setiap tahun diadakan pada kegiatan KLA, dari rendah ke tinggi, dimulai dari Pratama, Madya, Nindya, Utama, dan KLA.

Dari seluruh kota di Indonesia hanya 23 kota yang berhasil mendapat predikat Nindya.

Lebih Istimewa lagi, penghargaan tersebut berhasil mengangkat citra Kota Makassar sebagai bagian dari Kota Peduli Anak.

Selain itu, Predikat Nindya merupakan sejarah baru bagi Kota Makassar. Pasalnya, pada penghargaan serupa, tahun 2017-2018 Kota Makassar hanya mendapat Predikat Madya.

Sejak 1 April 2016, dia mulai menjabat Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Kota Makassar.

Namun, berbeda dari kebanyakan pejabat yang menjadikan kantor sebagai tempat bekerja, dirinya justru mengubah ruang kerjanya di Balai Kota Makassar menjadi ruang bermain anak.

“Saya mau kerja apa di situ, apalagi berlama-lama, sementara tuntutan pekerjan mengharuskan saya berada di pemukiman warga melakukan sosialisasi tentang Kota Layak Anak,” kata Tenri kepada terkini.id di P2TP2A, Jalan Anggrek Raya, Jumat Malam, 26 Juli 2019.

Perempuan Kelahiran Lamakojo, 12 April 1968 mengatakan, hanya bertandang ke kantornya pada waktu tertentu, seperti hari Senin, Rabu, dan Jumat untuk menggelar rapat, setelah itu langsung bekerja di lapangan.

Kendati begitu, ia menyebut selalu mengupayakan datang setiap hari namun dengan waktu yang tak lama.

Adalah P2TP2A, tempat dia kerap terjaga dan tak pulang ke rumahnya, dia mengatakan hal itu sering kali terjadi ketika ada kegiatan.

Sekadar contoh, dia menginap selama dua Minggu saat persiapan Hari Anak Nasional yang berlangsung di Benteng Rotterdam, Makassar, Jumat – Senin, 19-22 Juli 2019.

Tempat kerjanya saat ini menjadi rumah kedua baginya. Kala orang-orang pulang ke rumah pada pukul 04:00 Wita untuk mengistirahatkan tubuh dari rutinitas waktu normal bagi pejabat ASN Tenri justru membaca, mempelajari berkas pengaduan yang menumpuk di ruangannya.

Di waktu normal, dia seringkali pulang kerja pada kisaran pukul 20:00-24:00 Wita. Bagi Tenri, pekerjaan yang dihadapinya saat ini sudah menjadi bagian kehidupan itu sendiri.

Pencapaian Tenri 

Selama menjabat sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Tenri telah menorehkan banyak prestasi bagi kemajuan Kota Makassar. Dari data yang berhasil dihimpun terkini, berikut pencapaian Tenri selama mengepalai DP3A.

1. Mendapat Anugrah Parahita Ekapaya (APE) Tingkat Madya (2016)
2. Juara Dua Peningkatan Peran Keluarga Menuju Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga (P2K3) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (2016)
3. Juara 1 Penigkatan Peran Keluarga Menuju Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga (P2K3) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (2017)
4. Kota Layak Anak (KLA) Tingkat Madya (2017)
5. Juara 1 Peningkatan Peran Keluarga Menuju Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga (P2K3) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (2018)
6. Kota Layak Anak (KLA) Tingkat Madya (2018)
7. Kota Layak Anak (KLA) Tingkat Nindya (2019)

Dunia Anak

Sebelum memantapkan diri terjun ke dunia pemerintahan di usia 29 tahun (1997), Tenri tengah menggeluti dunia jurnalistik lebih dulu pada usia 20 tahun (1988). Ia selalu menganggap bahwa menulis adalah candu.

“Sekali kau menulis, kau akan selalu ingin melakukannya,” ungkapnya.

Setelah dua tahun menjadi wartawan di salah satu harian terkemuka di Makassar, Tenri menjadi inisiator kemandirian anak kurang beruntung di Institute Saribattang.

Pada tahun yang sama, ia menjadi pengurus pemerhati masalah perempuan Sulawesi Selatan melalui Forum Pemerhati Masalah Perempuan (FPMP).

Dua tahun setelah terangkat PNS (1999), Tenri menularkan kegemaran menulisnya dengan menggagas Majalah Saribattang (Majalah Anak), dia mendidik 9 anak Sekolah Dasar yang kurang mampu secara ekonomi.

Di antara mereka ada yang dari pemulung, penjual ikan di pasar, tukang becak, penjual kue, dan penjual ikan di galangan kapal.

Tenri mengatakan, mengajari anak tersebut konsep 5W+1 H lantas menyebar mereka untuk menulis dari hasil pengamatannya.

“Jadi saat dia bangun dia akan belajar untuk jujur kepada dirinya sendiri. Karena menulis itu kan kejujuran,” kata Tenri.

Sekali waktu, ia membawa anak-anak ke Karebosi. Setiba di sana, dirinya meminta anak-anak untuk menyebar untuk mencari berita.

“Jangan pulang kalau belum menyelesaikan satu berita,” kenang Naris Sekertaris Pribadi Tenri, anak pemulung yang telah menyelesaikan pendidikan Magister di Universitas Hasanuddin.

Naris menuturkan, sosok Tenri yang tegas tengah memberinya pengharapan terhadap masa depan. Setiap waktu, Tenri selalu menekankan pentingnya dunia pendidikan.

“Sekolahko, Sekolahko, sekolahko,” sambung Naris.

Melalui Tenri, dia mengatakan, sewaktu SMP sudah mampu  menulis dan menerbitkan tulisan di salah satu harian terkemuka di Makassar.

Selain itu, Naris mengatakan ada satu petuah dari Tenri yang tak mungkin dilupakan sepanjang hidupnya.

“Kalau mulutmu dibungkam, penamu bicara. Kalau penamu tumpul percaya kebenaran akan datang,” ulang Nasir mengigat perkataan Tenri.

Kini, 9 Anak itu telah tumbuh dewasa dan melanjutkan hidup masing-masing. Ada yang telah menjadi pedagang beras di Pare-Pare, Kepala Pengawasan BRI Sulsel, ada yang menjadi Penggerak Lorong di Pannampu, ada juga yang jadi Apoteker. Ada pula yang bermukim di Kalimantan, membuat Film, jadi Pengacara, Desainer, dan Sekertaris Pribadi Tenri.

Berita Terkait
Komentar
Terkini