Kisah Kursi Merah Dr Bernadette, Dokter di Makassar yang Wafat karena Corona

Terkini.id, Makassar – Kisah kebaikan dokter Bernadette Albertine, banyak diungkapkan banyak pasiennya di Makassar. Dokter spesialis THT ini sebelumnya meninggal dunia setelah dinyatakan berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19.

Sebelum dinyatakan sebagai PDP, Albertine memang aktif melakukan praktik di rumah sakit tempat kerjanya.

Hingga akhirnya, dokter Albertina menerima pasien yang tidak menjelaskan dengan terang riwayat penyakitnya, sekitar dua pekan lalu. Albertina memeriksa mulutnya, dan diduga pasien tersebut sudah menularkan virus mematikan itu ke banyak orang lain.

Kisah menarik tentang Albertina tersebut dibagikan oleh salah satu rekan sejawatnya.

Pemilik akun Ortho Sakti di media sosial, menceritakan tentang sebuah kursi berwarna merah miliknya yang selalu dipakai mendiang dokter Albertina kala mengoperasi pasiennya.

Menarik untuk Anda:

Ortho Sakti yang merupakan dokter ortopedi menceritakan, kursi merahnya itu kadang-kadang ‘menghilang’ dari tempatnya. Rupanya kursi itu dipakai oleh dokter Albertina.

“Beliau memang senang dengan ‘Si Merah’ ku ini. Selain mungkin selera yang sama, beliau mungkin butuh kursi yang tidak mudah bergeser sehingga bisa duduk dengan tenang saat operasi di daerah telinga, hidung dan tenggorokan,” ceritanya.

Kini, Dokter Albertina telah tiada. Kursi merah itu tidak bakal dipakai lagi olehnya.

Mulai hari ini dokter tidak akan pernah memakai “si Merah” lagi.
Dokter sudah mendapatkan kursi yang jauuuhh lebih bagus di sana.
Selamat jalan dok, doa kami menyertai mu, dr. Bernadette Albertine Francisca, SpTHT-KL,” tulisnya di media sosial

Berikut selengkapnya tulisan Ortho Sakti:

Si Merah”,
Kursi Merah ini dibeli karena dulunya saya mengerjakan hampir semua operasi orthopedi dengan berbagai posisi. Terutama yang butuh waktu lama & ketelitian, sehingga bisa lebih rilex kalo duduk. Kursi ini enak dipake karena bisa diatur ketinggiannya, terus tidak mudah bergeser (bisa jatuh kalo bergeser mis. Punya roda).
Saat ini jarang dipake karena saya lebih banyak operasi sendi terutama menggunakan arthroscopy, lebih nyaman dan cepat dengan posisi berdiri. Bisa gerak ke sana kemari sambil olah raga..he..he..
Tapi kadang juga dapat kasus yang susah, butuh berjam-jam untuk menyelesaikannya, sehingga butuh “si merah” ini.

Kalau saya sudah prediksi operasi akan lama dan butuh ketelitian yang sangat, maka saya akan cari “si Merah” ini.
Saya : “Mana kursi merahku?”
Teman di OK : “lagi dipake sama yang punya dok”
Saya : lah…saya yang punya itu..
Teman2 di OK : wk..wk…(ketawa semua)
Kalo sudah pada ketawa semua seperti itu, saya sudah bisa langsung menebak, yang pakai siapa…wk…wk..
Saya : tolong nanti kasi tagihan sewa kursi nah (sambil berbisik)

Beliau memang sangat senang dengan “si Merah” ku ini. Selain mungkin selera yang sama, beliau memang butuh kursi yang tidak mudah bergeser sehingga bisa duduk dengan tenang saat operasi di daerah Telinga, Hidung & Tenggorokan.

Dok…. “si merah” ini akan sedih karena dokter tidak mau memakainya.
Dokter tidak akan melirik dan melepaskan beban di atas “si merah” lagi.

Pasien yang dokter periksa di poliklinik sekitar 2 minggu lalu, tidak menyampaikan dengan jelas riwayat sakitnya, sudah melakukan perjalanan ke mana saja. Ternyata ketika membuka mulut saat diperiksa kemungkinan besar telah melepaskan puluhan bahkan mungkin ratusan pasukan virus bermahkota 19 ini.

Mulai hari ini dokter tidak akan pernah memakai “si Merah” lagi.
Dokter sudah mendapatkan kursi yang jauuuhh lebih bagus di sana.
Selamat jalan dok, doa kami menyertai mu,

dr. Bernadette Albertine Francisca, SpTHT-KL

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Direktur Yayasan PerDIK Nilai TSY Paling Mengerti Kebutuhan Difabel

Update Pasien Meninggal Covid-19: Tambah 109 Orang, Total 16.111

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar