Terkini,id, Makassar – Kongres HMI XXXI Surabaya 2021 masih berlangsung. Ini dapat dimaknai, perhetalatan tertinggi organisasi masih berjalan tetapi jalannya seperti jalan di tempat.
Sejak pembukaan sampai Minggu 21 Maret 2021, bahkan Pleno 1 sebagai awalan setelah seremonial pembukaan yang megah dengan bergabungnya Presiden RI, dan juga Gubernur Jawa Timur, belum berlangsung sama sekali.
Dua belas jam yang lalu, organisasi mahasiswa yang pembukaanya di hari yang sama, sudah bersiap memilih ketua umum. Tidak bisa dibandingkan, namun ini dapat dilihat bahwa penyelenggaraan kongres bisajadi tidak siap.
Belum lagi bergabungnya penggembira yang dalam istilah HMI, disebut rombongan liar (romli). Dokumen kepolisianpun jadinya juga menggunakan kata ini dalam menandai delegasi yang bukan peserta ataupun peninjau.
Dalam sisi penggembira ini, disebut oleh Yusuf K. Mariajeng, Ketua Umum HMI Cabang Makassar “ekpresi kekaderan”.
- Ketua DPRD Sulsel Siap Kawal Aspirasi BADKO HMI Sesuai Kewenangan Pemerintah
- Sambut Ramadhan 1447 H, HMI ATIM Gelar Bakti Sosial dalam Momentum Dies Natalis ke-79 Tahun
- HMI Cabang Makassar Gelar Dialog Publik, Rangkaian Milad Ke-79 Tahun
- Wali Kota Makassar Paparkan 7 Program Unggulan di Hadapan Aktivis HMI
- Ketua DPRD Sulsel Kawal Aspirasi Buruh dan HMI Tolak Tapera
Dalam istilah lain di percakapan media sosial, “kecintaan” terhadap organisasi.
Apapun itu, perhelatan kongres di masa pagebluk Covid-19 mestinya menjadi perhatian. Dimana ada keterbatasan, dan juga diperlukan usaha untuk mencegah penyebaran virus.
Dalam proses pemberangkatan, ada 53 orang calon romli yang terpaksa mengurungkan niatnya menuju Surabaya, status positif covid-19 terdeteksi melalui rapid antigen di Pelabuhan Makassar.
Salah satu faktor yang memungkinkan adanya perubahan perilaku, dengan hadirnya wabah di tengah manusia.
Namun, ini dalam suasana wabah. Tidak mampu mengubah perilaku “kader” HMI.
Sidratahta Mukhtar (2004) menulis dengan kesimpulan “Ketika HMI Menjadi Beban Bangsa”. Semasa itu bahkan Cak Nur juga turut menyuarakan keprihatinan dengan kalimat “Bubarkan HMI”.
Dalam rentang waktu dua dekade terakhir, HMI mempraktikkan kepengurusan ganda. Bahkan usai Kongres XXVIII Jakarta 2010, wujud tiga kepengurusan.
Pasca Kongres XXX Ambon 2018, justru perpecahan mewarnai perjalanan HMI. Begitu pula dengan tidak ditemukkanya solusi atas kepengurusan ganda tersebut sehingga wujud Kongres di Surabaya, pada saat yang sama Pleno III di Tapanuli Utara.
Pelbagai respon dan juga komentar ketidakmengertian, namun bolehjadi inilah kehadiran HMI yang tidak memaknai relevansi abad 21.
Ketika merespon masa-masa revolusi, HMI dengan tekad dan kesadaran penuh didirikan. Itu dengan menggunakan ruang kuliah.
Sekarang ini, HMI sudah “menduduki” kantor Gubernur. Perhelatan kongrespun diawali dari jantung-jantung kekuasaan. Istana Negara, Gedung Negara Grahadi, menjadi lambang bahwa HMI menjadi keikutsertaan negara dalam perkembangannya.
Hanya saja, dengan uang pajak yang ditarik pemerintah untuk mendanai operasional seremonial pembukaan tidak memberikan kesadaran bagi siapapun itu untuk melangsungkan kongres dengan cara terbaik dan sesingkat-singkatnya.
Bahkan, HMI tidak lagi hanya diurusi oleh pengurus dan senior-seniornya. Kepolisian dan juga KKSS Jawa Timur kemudian juga harus turut serta berbagi waktu istirahat dengan keluarga untuk mengurusi romli yang datang ke Surabaya.
Diantara romli itu jumlahnya ratusan bahkan ribuan, berasal dari Sulawesi Selatan. Dikabarkan juga oleh Tribun Sultra, romli di Pelabuhan Baubau bahkan perlu rebut dengan petugas karena mereka tidak mengantongi uang untuk membayar tiket.
Kasus-kasus seperti ini, perlu disadari bahwa bolehjadi merupakan pemaksaan kehendak. Sehingga ini tidak bisa menjadi etika publik. Dimana kebersamaan bangsa ini dengan keikutsertaan menjaga fasilitas publik bersama-sama dengan seluruh komponen bangsa.
Kehendak sendiri, dan untuk keperluan sendiri, tanpa memperhatikan regulasi dan kelangsungan fasilitas publik, tidak dapat diterima. Olehnya, saatnya “kader” HMI berubah.
Sepanjang masih menjadi beban bangsa, maka perlu kembali merenungkan pesan Cak Nur. Juga perlu refleksi dan evaluasi, jangan sampai ini menjadi kongres terakhir.
Ismail Suardi Wekke
Pengurus Besar HMI 2006-2008
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
