Kunci Partai Demokrat Ada di Megawati

HANYA dengan anggukan kepala tanpa kata dari Megawati, dalam hitungan detik Demokrat bakal dukung Jokowi. Tapi itu hampir muskil terjadi. Karena SBY begitu menyakiti hati Megawati.

Sakit Hati

Kononnya, ketika masih menjadi menterinya, Megawati bertanya kepada SBY apakah dia akan nyalon jadi Presiden? SBY jawab tidak.

Namun belakangan Megawati tahu SBY berbohong dan seketika tahu dia bakal kalah di Pemilu mendatang karena masifnya kekecewaan rakyat. Belum lagi aksi tikam belakang para pendiri Reformasi dan juga partai-partai yang mengaku sebagai Koalisi.

Manakala dipecat sebagai menteri, SBY langsung mengkapitalisasi momen itu. Playing Victim. Dia tahu bahwa rakyat Indonesia itu hatinya kayak sinetron. Mudah jatuh hati dan sekaligus beringas membela orang yang dianggap mereka sebagai teraniaya.

Manuver ini menyebabkan Megawati kalah total. SBY menang besar dan menjadi Presiden Indonesia pertama yang dipilih langsung. Megawati terluka hatinya.

Menjauh

Dia menjauhi SBY. Tidak pernah bersalaman ataupun hadir dalam Peringatan HUT Kemerdekaan di Istana selama 10 tahun. Megawati mengojlok kadernya di DPR dan DPRD untuk menjadi oposisi.

Ibarat kata kebencian Megawati terhadap SBY seperti kerak panci.

Upaya SBY melakukan rekonsiliasi, termasuk lewat Jokowi, selalu membentur dinding. Megawati sebisa mungkin menghindari bertemu dengan SBY.

Kondisi ini menyulitkan Partai Demokrat (PD) melakukan aliansi di Parlemen. Padahal , Demokrat luka parah dianiaya anggotanya sendiri yang ramai-ramai korupsi. Hingga PD jatuh tersungkur perolehan suaranya nyaris menjadi partai gurem.

Pasang Harga Mahal

Arahan SBY tentang biduk politik PD sebenarnya pragmatis. Di tengah minimnya suara di parlemen, PD menjajakan diri sebagai netral.

Tapi manakala ada yang minta dukungan, PD pasang harga mahal. Ini yang menyebabkan PD dijauhi dan tidak dianggap oleh rekan-rekan Koalisi dalam berbagai peristiwa politik yang terjadi.

Kecil tapi tengil. Demikian julukan rekan Koalisi akan peforma politik dagang sapi PD dan SBY.

Prabowo yang Setengah Hati

Adalah Hatta Rajasa, besan SBY, yang mengantar PD masuk Koalisi Prabowo. Dan Prabowo dengan hati Rinto menerima SBY yang konon pernah dihajar Prabowo ketika masih menjadi taruna AKABRI. Setelah upaya SBY merapat ke Jokowi dicegat Megawati.

Prabowo belakangan juga sebel dengan SBY dan PD. SBY minta AHY sebagai cawapres jika ingin dapat dukungan dari PD. Mahal bener maharnya, kata Prabowo yang kemudian menunjuk anak emas Gerindra, Sandiaga Uno sebagai wakilnya.

Andi Arief kala itu langsung bereaksi dengan menjuluki Prabowo sebagai jenderal kardus.

Prabowo berusaha menahan marah dengan julukan itu karena dia melihat PD adalah partai terbesar di koalisinya. Jadi suara PD tetap diperhitungkan. Apalagi kharisma SBY masih berpengaruh di akar rumput.

Boomerang: SBY Tidak Suka 212

SBY sendiri tidak suka Prabowo berangkulan dengan kelompok 212 dan Rizieq. Dia paham bahwa kelompok Islam dibelakang Prabowo beraliran Radikal dan terafiliasi oleh HTI.

Sepak terjang kelompok ini telah menjungkalkan AHY di Pilkada Jakarta. Tempat dimana pengajian mendukung AHY dilakukan disitu pula 212 menangguk suara untuk kemenangan Anies Baswedan.

Karena itu SBY dan AHY tidak sekalipun hadir dalam rapat koalisi yang dihadiri kelompok itjima ulama.

Perilaku PD yang ingin diperlakukan eksklusif, membuat gerah Gerindra dan rekan-rekan koalisinya.

Apalagi dengan sakitnya Bu Ani, SBY tidak bisa tampil dalam kampanye terbuka Prabowo.

Padahal SBY sangat krusial untuk meraih dukungan serta menetralisir tudingan bahwa Prabowo ditunggangi khilafah.

Gerindra dan Prabowo berhitung. Tidak ada artinya PD buat Koalisi Indonesia Menang tanpa kehadiran SBY. Sementara AHY terlihat lebih sibuk mengurus pemilu legislatif agar PD bisa tetap muncul di pelataran perpolitikan Indonesia ketimbang ikut kampanye memenangkan Prabowo.

Gerindra Kecewa

Gerindra juga kecewa akan sikap lembek SBY dalam kasus Andi Arief. Yang jelas jelas nyabu tapi dipertahankan.

Belakangan kasus Ferdinand yang menghebohkan.

Tidak ada respon dari PD, SBY atau AHY. Padahal peforma buruk kader PD sangat merugikan peforma Koalisi Indonesia Menang yang terus dituding disetir oleh pengusung Islam Radikal.

Tak heran jika sang Godfather, Hasyim Djojohadikusumo mengeluarkan PD dari daftar calon menteri Prabowo sekiranya dia menang capres. Sebab dia memandang PD lebih banyak memanfatkan figur Prabowo untuk menangguk suara ketimbang sumbangsih PD kepada pemenangan Prabowo.

Ngambek

SBY sebagaimana kodratnya langsung ngambek. Dia kemudian mengeluarkan maklumat bahwa rapat akbar Prabowo di GPK tidak mewakili misi dan visi PD yakni nasionalis religius. Malahan Prabowo memberi panggung luas bagi kelompok Islam radikal dalam rapat akbar itu.

Sedikit banyaknya, faktor Rizieq yang dalam chat WA dengan Yusril bahwa SBY masuk dalam kategori kelompok Islamphobia telah menggores perasaan SBY.

Dan ini juga yang ditengarai menjadi pemicu mengapa SBY mengeluarkan maklumat demikian. Sambil juga menaikkan popularitas PD agar bisa banyak suara masuk ke kader-kader PD yang kini berdarah-darah memperebutkan kursi Parlemen.

Baper

Jika kita melihat perilaku Prabowo, sebenarnya PD tidak harus tersinggung dengan ucapan dia dalam debat kelima. Kebijakan ekonomi presiden sebelumnya yang salah sebenarnya tidak ditujukan kepada SBY, Megawati, Gus Dur, Habibie, Suharto atau Sukarno.

Sesuai watak Prabowo yang megalomania dan one man show, ucapan itu sekedar untuk menonjolkan dirinya lebih baik dari presiden Indonesia manapun jika dia terpilih nanti.

Namun dampaknya sangat dahsyat bagi PD. Aksi WO sejumlah kader PD dalam debat kelima menunjukkan indikasi bahwa memanglah benar PD tidak lagi dianggap.Yang mungkin dalam percakapan sehari-hari antar Koalisi, PD sudah mulai disindir-sindir yang makin lama makin nyinyir.

Pasrah atau ke Tengah

AHY bukan tidak paham soal ini. Namun dia tidak bisa berbuat lain kecuali tetap memegang kaki Prabowo dengan menyatakan tetap berada di Koalisi. Seraya berharap tatapan belas kasihan nya ditangkap Megawati agar diperbolehkan merapat ke Jokowi.

Namun sinyal itu ditanggapi dingin oleh Megawati dan PDI-P. Kubu Jokowi melihat jikapun bergabung, PD juga tidak memberi kontribusi signifikan ditengah keyakinan Jokowi akan menang lagi. Lagi pula Pemilu sudah dalam hitungan hari.

Dalam keadaan demikian, jika kalkulasi politik SBY menyimpulkan PD makin terpuruk di kubu Prabowo dan tidak diterima di kubu Joko Widodo, maka jalan terbaiknya adalah keluar dan berposisi di tengah.

Seperti yang sudah-sudah.

SBY akan membebaskan anggota dan simpatisannya memilih calon presiden. Agar bisa duduk di parlemen.

Ini langkah paling aman bagi Partai Demokrat yang terkenal sebagai partai super galau.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
News

Simak, Begini Cara Kemensos Tekan Angka Kemiskinan

Terkini.id,Jakarta - Pemerintah menargetkan satu juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) tergraduasi pada tahun 2020."Penetapan target ini seiring dengan tekad Presiden
News

Datascrip Sosialisasikan Manfaat e-katalog di Makassar

 Terkini.id,Makassar - Untuk semakin memperluas informasi dan pemahaman masyarakat mengenai layanan e-katalog (e-catalogue) Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP),  PT  Datascrip bekerja sama dengan