Laa Tahzan, Jangan Bersedih

Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi) kolom firdaus muhammad
Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi)

Laa Tahzan, jangan bersedih ! pesan yang indah dan bermakna melawan pandemi virus korona yang tengah mengancam kehidupan manusia secara global.

Seruan ulama dan pemerintah untuk menetap di rumah saja menjadi ikhtiar menyelamatkan diri, keluarga dan manusia seluruhnya dari petaka itu.

Semua kita dirundung sedih. Ada bersedih karena tidak berkumpul keluarga karena larangan mudik, ada bersedih karena kehilangan pekerjaan dan penghasilan menurun, ada bersedih karena kehilangan kesempatan beribadah lebih khusyu berjamaah di masjid, bahkan ada yang bersedih kehilangan keluarga karena virus tersebut.

Bagaimana mungkin tidak bersedih. Sebagai manusia secara psikologis, hal itu sulit dihindari. Sejatinya agama tidak menafikan untuk bersedih hingga menangis kala ditimpa musibah, melainkan larangan untuk berlebihan hingga menolak takdir Allah.

Keimanan seseorang menjadi sempurna dengan mempercayai soal takdir itu.

Menarik untuk Anda:

Salah satu kitab cukup monumental dari seorang wali bernama Aidh bin Abdullah Al-Qarni berjudul; Laa Tahzan, jangan bersedih.

Kitab ini berisi motivasi pengharapan hidup lebih baik. Jangan bersedih, yakinlah dibalik kesulitan ada kemudahan. Ungkapan sederhana tetapi penting bagi yang mengalaminya.

Semua kita sekarang merasakan kesulitan akibat virus korona, maka yang diharapkan adalah ada kemudahan sesudahnya, berharap hikmah dibaliknya.

Aidh Al-Qarni menuntun kita untuk bersandar bertawakkal pada Allah. Apabila laut terasa berguncang, ombak bergemuruh dan badai bertiup dengan kencangnya, para awak kapal akan berseru meminta, Ya Allah ! Apabila petunjuk jalan tersesat di padang pasir, iringan kendaraan menyimpan dari jalan yang sebenarnya.

Bingung memilih jalan, niscaya semua berseru, Ya Allah ! Apabila musibah terjadi, cobaan datang menimpa, bencana makin besar, meluas, penderita yang mengalaminya akan berseru, Ya Allah !

Demikian sang wali menyadarkan kita, jangan bersedih, ada Allah tempat kita bersandar, berharap, bermunajat. Tentu dengan keyakinan doa pengharapan kita terkabulkan sebagaimana janji Allah sendiri pada hamba-Nya.

Abu Bakar Assidiqh diyakinkan oleh Nabi ketika tampak panik kala musuh yang berniat membunuh Nabi tiba di lubang gua, nabi yakinkan, la takhaf innallah maana. Jangan takut Allah bersama kita.

Di tengah mewabahnya virus korona seiring hadirnya bulan suci ramadhan ini, sebagai orang beriman, inilah saatnya kita bersama-sama bermunajat agar Allah menghilangkan virus itu.

Selain mengambil hikmahnya, betapa hari-hari kita disesaki kesibukan tiada tara, kadang Allah pun terabaikan, seakan waktu selalu kasib, tidak ada waktu beribadah, berdoapun sekenanya, apalagi bersyukur.

Mungkin inilah waktu yang dipilihkan Allah bagi kita untuk sadar diri dengan memosisikan diri sebagai hamba yang dhaif, lemah tanpa daya.

Mari bersama membangun optimisme, berpikir positif dibalik ujian ini kita akan lulus sebagai orang-orang sabar menerima segala pemberian Allah.

Wabah ini segera berlalu. Inilah kesempatan mendekatkan diri pada Allah sepenuh waktu, sepenuh hati. Jangan bersedih !

Firdaus Muhammad,

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar dan

Ketua Komisi Dakwah MUI Sulsel

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Debat Calon Bupati-Wakil Bupati Bulukumba: Tanggapan Putra Daerah

Tolak Politik Uang untuk Pilkada yang Bermartabat!

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar