Pemaaf

Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi) kolom firdaus muhammad
Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi)

AMALAN cukup berat adalah memaafkan, apalagi memaafkan sebelum orang yang salah itu meminta maaf. Memohon maaf menjadi ucapan masyhur di momen lebaran.

Momentum meminta maaf dilakukan secara langsung pada keluarga terdekat, sahabat dan paling utama suami istri, anak dan orang tua. Apalagi via media sosial berseliweran ucapan Idul Fitri diiringi ucapan mohon maaf lahir batin.

Selain itu, saling memaafkan dikemas dalam acara Halal Bihalal. Halal bi$halal merupakan tradisi keagamaan di Indonesia, hampir tidak dijumpai negara manapun, kecuali dalam bentuk lain.

Halal Bihalal diadakan secara seremonial di sejumlah instansi perkantoran hingga paguyuban. Tradisi tersebut merupakan rangkaian dari bulan Ramadan dan lebaran Idul Fitri.

Momentum Halal Bihalal dijadikan ajang untuk memelihara silaturahim untuk saling maaf memaafkan. Tradisi halal bihalal memancarkan dimensi spiritual dan sosial sekaligus.

Menyadari selama kebersamaan dalam dunia kerja, acapkali terjadi peristiwa yang condong melahirkan kesalahpahaman sehingga perlu untuk saling memaafkan. Tentunya akan memiliki dampak psikologis kala semua elemen saling memaafkan.

Sisi menariknya, Halal Bihalal juga menjadikan seorang pimpinan dengan karyawannya menjadi setara, berbaur dengan penuh keterbukaan dan kekeluargaan. Peristiwa demi peristiwa selama berinteraksi senantiasa membuka ruang melakukan kesalahan, bahkan kadangkala dengan sengaja.

Maka tidak ada pilihan, kecuali saling memaafkan sehingga kelak di hari-hari selanjutnya tercipta situasi kerja yang kondusif.

Selain itu, tradisi silaturahim dan Halal Bihalal di Indonesia, ditandai tradisi open house dari kalangan pejabat, terutama saat Idul Fitri. Open house menjadi momentum bagi pejabat untuk membuka diri bagi seluruh kalangan sehingga masyarakat dapat mengakses kediaman sang pemimpin.

Sejarah historis sulit mengidentifikasi asal muasal Halal Bihalal, sekalipun berasal dari bahasa Arab, tetapi tradisi halal bihalal tidak kenal di negara Arab dan Timur Tengah. Pastinya, salah seorang tokoh yang dianggap sebagai penggagas Halal Bihalal adalah KH. Wahab Hasbullah, salah seorang tokoh pendiri NU bersama KH. Hasyim Asyari, keduanya pahlawan nasional.

Prakarsa silaturahim Kiai Wahab yang diawali dengan bersilaturahim ke Presiden Soekarno tahun 1948 di tengah ancaman integrasi bangsa. Halal bihalal dianggap hasil kreasi umat Islam yang memadukan unsur agama dan budaya.

Budaya masyarakat Indonesia yang toleran, terbuka dan pemaaf menjadikan tradisi tersebut makin hidup hingga menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Selain dilakukan dalam bentuk seremoni pertemuan di tempat-tempat tertentu, di media sosial juga massif terucap permohonann maaf dan ucapan beridul Fitri serta seruan berhalal bihalal. Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA menjelaskan bahwa Halal Bihalal merupakan dua kata mejemuk yang berarti diperkenankan dan lawan dari kata haram.

Pesannya, setiap orang niscaya dituntut saling memaafkan dan yang terbaik diantara kedua orang yang berselisih atau berkonflik itu adalah diantara mereka yang lebih dahulu meminta maaf.

Dipastikan, semakin intens interaksi seseorang dengan orang lain, maka potensi melakukan kesalahanpun semakin terbuka. Bahkan kadang kala ditengarai juga dilakukan di media sosial dengan beragam bully. Karenanya, momentum Idul Fitri pasca Ramadan menjadi saat yang tepat untuk saling memaafkan. Jadilah pribadi pemaaf !

Berita Terkait