Terkini.id, Jakarta – Lawan sanksi ekonomi Amerika, negara Amerika Tengah ini ramai-ramai merapat ke China! Sederetan sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap pejabat tinggi Amerika Tengah telah menjadikan China sebagai negara mitra favorit. Pasalnya, mereka menolak dorongan Washington untuk mengatasi isu korupsi dan kemunduran demokrasi di kawasan itu.
Tren ramai-ramainya negara di Amerika Tengah yang merapat ke China itu menjadi fokus minggu ini ketika Nikaragua menjalin kembali hubungan dengan Beijing, memutuskan hubungan lama dengan sekutu Amerika, Taiwan yang saat ini sangat tergantung pada pengakuan diplomatik dari negara-negara kecil.
Negara-negara lain di kawasan itu juga mendekati China. Tidak kurang, Presiden El Salvador Nayib Bukele meratifikasi perjanjian kerja sama ekonomi baru negaranya dengan China awal tahun ini setelah Washington memasukkan pembantu dekatnya ke daftar hitam korupsi.
Bukele, yang pekan ini menuduh Washington menuntut penundukan mutlak atau kegagalan, pada Mei 2021 lalu, mempublikasikan jika China telah melakukan investasi publik senilai 500 juta dolar AS tanpa syarat.
Seperti dilansir dari Reuters, Senin 13 Desember 2021, keputusan Nikaragua untuk merangkul China mengikuti serangkaian sanksi terhadap pembantu Presiden Daniel Ortega menyusul pemilihannya kembali masa jabatan keempat berturut-turut dalam kampanye yang diwarnai penangkapan tokoh-tokoh oposisi terkemuka.
Sementara itu, kasus Nikaragua di Amerika Tengah diakibatkan lantaran kecenderungannya yang semakin otoriter, isolasi internasional Ortega berperan dalam peralihannya ke China.
“Ketika sanksi diperketat, mereka mencari jalan lain dan mitra ekonomi, ada unsur itu,” ujar seorang pejabat senior Amerika.
Tekanan Amerika Serikat terhadap para pejabat Amerika Tengah berkisar dari pencabutan visa hingga sanksi Departemen Keuangan, yang secara efektif memutuskan mereka dari sistem perbankan global. Washington juga menyiapkan tuntutan pidana terhadap dua sekutu senior Bukele.
Beijing menawarkan kelonggaran dari tekanan Amerika, sebuah strategi yang sebelumnya telah memberikan jalur kehidupan ekonomi kepada para pemimpin yang terisolasi dari Barat di tempat lain di kawasan itu, termasuk Venezuela.
“China, dalam mengejar kepentingan ekonomi strategisnya, mendukung populis otoriter yang berkuasa, yang mengarah ke kawasan yang semakin tidak demokratis,” ungkap seorang profesor di US Army War College R Evan Ellis.
Berusaha untuk menolak kemajuan China di kawasan itu, para pejabat AS telah menjadikan Beijing sebagai mitra, yang paling tidak dapat diandalkan bagi negara-negara yang sangat membutuhkan investasi guna meningkatkan ekonomi mereka yang goyah.
Menunjuk investasi China di seluruh dunia yang oleh Amerika Serikat disebut sebagai ‘diplomasi utang’, pejabat Negeri Paman Sam menuduh Beijing membuat negara-negara miskin dibanjiri utang.
Beijing, yang membantah klaim semacam itu mengatakan pihaknya berurusan dengan sekutu sebagai mitra setara dan tidak ikut campur dalam urusan dalam negeri mereka. Hal itu merupakan prospek yang menarik bagi para pemimpin di kawasan Amerika Tengah, yang dulunya dikuasai Amerika Serikat dan sebelumnya secara historis memiliki pengaruh.
Kendati demikian, secara pribadi para pemimpin bisnis Guatemala misalnya, khawatir pengejaran elite politik Amerika Serikat terhadap pejabat yang korupsi di negara-negara Amerika Tengah akan mendorong pejabat pemerintah ke arah sekutu (China) yang lebih pemaaf.
Namun, Presiden Guatemala Alejandro Giammattei yang tidak diundang ke pertemuan puncak Amerika Serikat tentang demokrasi minggu ini, tetap melakukan perjalanan ke Washington dan menjanjikan kesetiaannya kepada Taiwan.
Juga di Honduras, pemerintahan Presiden terpilih Xiomara Castro yang akan datang telah berkomitmen terhadap Taipei dan hubungan dekatnya dengan Washington, kendati secara terbuka mempermainkan peralihan ke Beijing selama kampanye pemilihannya.
Amerika Serikat menyambut baik hal itu, dengan pejabat senior AS mengatakan Washington bersedia memberikan ‘lonjakan’ bantuan untuk membantu Castro memenuhi prioritasnya dalam meringankan situasi ekonomi yang mengerikan di Honduras.
Namun, beberapa sekutu Castro, termasuk Rodolfo Pastor, anggota senior tim transisinya, mengatakan negaranya harus tetap membuka pilihannya di China, menyembunyikan kemungkinan Honduras dapat mengakui Beijing pada masa depan.
“Saya menduga harga yang akan coba diambil Honduras dari pelanggan Taiwannya tidak berbalik hanya naik secara signifikan,” imbuh Ellis.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
