Terkini, Makassar – Harga bahan pokok, khususnya cabai rawit, melambung tinggi usai libur panjang Natal dan Tahun Baru. Fenomena tahunan ini kembali mengusik kehidupan masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada kebutuhan sehari-hari di pasar tradisional.
Di Pasar Terong, salah satu pusat perdagangan terbesar di Makassar, harga cabai rawit merah melonjak hingga Rp40 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp25 ribu per kilogram. Kenaikan ini memaksa Lisa, seorang ibu rumah tangga, untuk mengurangi jumlah pembelian.
“Tadi cuma beli setengah liter, harganya Rp15 ribu. Biasanya dengan Rp12 ribu sudah dapat satu liter. Selain cabai, bawang merah dan bawang putih juga ikut naik. Biasanya Rp30 ribu sekilo, sekarang jadi Rp40 ribu,” keluh Lisa sambil mengemas belanjaannya.
Pasar Sambung Jawa juga mengalami kenaikan serupa. Harga cabai rawit di pasar ini naik dari Rp28 ribu menjadi Rp33 ribu per kilogram. Sementara itu, di Pasar Panampu, kenaikan harga lebih drastis, mencapai Rp45 ribu per kilogram. Situasi ini menggambarkan tekanan yang dirasakan masyarakat di berbagai penjuru Makassar.
Kepala Bidang Konsumen Dinas Perdagangan Makassar, Wahyuddin Ali Achmad, membenarkan adanya lonjakan harga sejumlah komoditas, termasuk cabai rawit, ayam, dan telur. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai rawit kali ini bahkan mencapai Rp60 ribu di beberapa titik.
- PLN UID Sulselrabar Siagakan 73 Posko Kelistrikan dan 2.315 Personel, untuk Momen Idul Adha
- Asmo Sulsel Gelar Final Technical Skill Contest 2026, Uji Kompetensi Mekanik dan Service Advisor AHASS
- Pemkot Makassar Gandeng Angkasa Pura Dorong Bandara Jadi Destinasi Wisata Baru
- APT Harap Polemik Paskibraka Tidak Memicu Perpecahan Sosial
- Dokter Koboi Luncurkan Buku "Hitam Itu Bukan Sekadar Warna" di Malaysia
“Tim kami sudah turun ke lapangan dan menemukan kenaikan harga ini. Namun, ini diperkirakan hanya sementara dan akan terkoreksi dalam waktu dekat,” ujar Wahyuddin saat ditemui di kantornya.
Menurut Wahyuddin, kenaikan harga cabai rawit merupakan siklus tahunan yang kerap terjadi pasca libur panjang. Libur Nataru mempersempit distribusi bahan pokok akibat pengurangan aktivitas logistik, sementara permintaan konsumen justru meningkat.
“Kami terus memantau perkembangan harga, terutama menjelang Idul Fitri nanti. Saat ini belum diperlukan intervensi, tetapi kami tetap berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan untuk memastikan stok aman,” tambahnya.
Selain faktor distribusi, cuaca buruk di sejumlah daerah penghasil cabai turut memengaruhi pasokan ke pasar tradisional Makassar. Hal ini dikonfirmasi oleh para pedagang di Pasar Terong yang mengaku kesulitan mendapatkan pasokan cabai dari Sulawesi Selatan dan daerah lain.
Sementara itu, akademisi dari Universitas Hasanuddin, Dr. Andi Fauziah, menyebut kenaikan harga ini juga menjadi cerminan lemahnya kontrol rantai pasok di sektor pertanian.
“Kenaikan harga cabai rawit seharusnya dapat diantisipasi melalui manajemen stok yang lebih baik. Pemerintah perlu mendorong sistem distribusi yang efisien agar fluktuasi harga tidak terlalu berdampak pada masyarakat,” katanya.
Bagi masyarakat kecil seperti Lisa, solusi jangka pendek sangat dibutuhkan. Ia berharap harga bahan pokok segera kembali normal agar tidak membebani anggaran rumah tangga.
“Kalau begini terus, kami harus cari cara lain. Mungkin mengurangi pemakaian cabai, tapi kan masakan jadi kurang enak,” ungkapnya dengan nada pasrah.
Lonjakan harga bahan pokok menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih siap menghadapi fluktuasi ekonomi, terutama pada momen-momen krusial seperti libur panjang. Selain mengamankan pasokan, perbaikan sistem distribusi dan kontrol harga harus menjadi prioritas untuk melindungi kesejahteraan masyarakat.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
