Terkini.id – Investasi di sektor hilirisasi tambang nikel yang ramai dilakukan perusahaan asing khususnya Tiongkok ke Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi mendapat protes dari ekonom Faisal Basri.
Seperti diketahui, beberapa daerah yang ramai dengan aktivitas tambang seperti di Morowali, Sulawesi Tengah. Faisal Basri mengungkapkan beberapa alasan bahwa hilirisasi nikel merugikan Indonesia dan menguntungkan perusahaan asing.
Akan tetapi, Faisal Basri juga dinilai sesat pikir soal hitung-hitungan untung rugi tambang, termasuk terkait isu sensitif soal Indonesia banyak memberi untung ke negara China atau Tiongkok.
Deputi Investasi dan Pertambangan Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Septian Hario Seto. Dalam seri diskusi dengan Rhenald Kasali di tayangan youtube, Septian Hario Seto memberi penjelasan soal Indonesia lebih banyak bermitra dengan Tiongkok soal investasi smelter.
“Karena di dunia ini, Tiongkok itu memang leading soal teknologi smelting. Teknologi yang paling efisien, lebih maju itu di Tiongkok,” ujar dia.
Sebagai contoh, salah satu teknologi terakhir yang banyak dipakai dari Tiongkok dalam industri smelter adalah hydro metalurgi atau smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL).
Teknologi ini digunakan beberapa perusahaan pertambangan di Indonesia, misalnya Vale Indonesia yang membangun industri HPAL di Blok Pomalaa Kerja Sama Ford dengan Huayou. Perusahaan lain, di antaranya di daerah Halmahera.
Kata dia, perusahaan asing dari negara-negara maju seperti Prancis, Jerman, Taiwan hingga Amerika yang berinvestasi smelter HPAL pun tetap kerja sama dengan perusahaan China terkait teknologi tersebut.
“Teknologi ini bisa mengubah nikel menjadi bahan baku baterai yang bernilai tinggi. Dari teknologi HPAL ini bisa kita dapatkan kobalt,” terang dia anak buah Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan itu.
Dia menjelaskan, teknologi seperti itu pernah dikembangkan salah satu perusahaan barat di New Calidonia, dengan biaya hingga USD 4 miliar atau setara hampir Rp60 triliun. Itu mengalami keterlambatan.
“Sementara di Indonesia, dengan kapasitas yang sama, China cuma investasi USD1,1 miliar dolar. Teknologi mereka lebih maju,” ujar dia.
Dia juga menjelaskan terkait logika Faisal Basri soal ekspor nikel yang menguntungkan Tiongkok, karena pengekspor adalah perusahaan Tiongkok.
Menurut Septian, saat ini ekspor nikel Indonesia ke negara lain ada yang terkena trada barrier, termasuk di Tiongkok. Kebijakan tersebut diberlakukan negara lain karena produk Indonesia lebih kompetitif dan mengganggu industri dalam negeri.
“Tiongkok, untuk produksi RS dan HRS kita, itu kita kena antirumping,” ujar dia.
“Padahal kita kerja sama dengan investor dari Tiongkok,” tanga Rhenald Kasali.
“Betul prof,” jatab Septian lagi.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
