Terkini, Jeneponto – Di area Jembatan Garuda Merah Putih, Kelurahan Benteng, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, seutas tali tambang membentang. Bukan sekadar alat permainan, tali itu pada Minggu, 9 Agustus 2026, berubah menjadi simbol. Di ujungnya ada tenaga, di tengahnya ada tawa, dan di baliknya ada makna yang sengaja dirajut Kodim 1425 Jeneponto dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2026.
Lomba tarik tambang yang digelar itu memang tampak meriah. Beberapa tim saling berhadapan, menghentak kaki, menarik dengan sekuat tenaga. Namun yang membuat suasana itu berbeda adalah siapa yang memegang talinya.
Prajurit TNI dengan seragam loreng berdiri satu barisan dengan ibu-ibu rumah tangga berseragam tak seperti biasanya dengan gaung daster. Mahasiswa yang biasanya berdebat di ruang kelas, kali ini berteriak menyemangati rekan setimnya yang seorang petani. Anak-anak muda Karang Taruna bahu-membahu dengan aparat. Sorakan dan dukungan pecah setiap kali tali mulai bergeser ke salah satu sisi, menggetarkan area jembatan yang menjadi ikon baru warga Benteng tersebut.
Inilah ruang pertemuan yang dimaksud Kodim 1425 Jeneponto. Di arena itu, tidak ada jarak pangkat, jabatan, atau usia.

Makna dari tarik tambang ini adalah tentang kekompakan. Tidak ada satu orang pun yang bisa menang sendirian. Kekuatan terbesar justru lahir ketika semua menarik ke arah yang sama, dengan irama yang sama.
- KAMPAS Diminta Perluas Gerakan, Kajian Zona 1 Dipandu Ketua Pemuda Muhammadiyah Bulukumba
- Kebakaran Mal Nipah Park Makassar Berhasil Dipadamkan, Operasional Tetap Berjalan Normal
- Paradoks Emas di Tengah Ketegangan Geopolitik: Membaca Arah Kekayaan di Era Turbulensi
- Semarak 17 Agustus, Warga BTN Makkio Baji Ubah Perayaan Kemerdekaan Jadi Gerakan Peduli Lingkunganmk
- Astra Motor Sulsel dan FIFGroup Salurkan Bantuan untuk Petani Terdampak Kekeringan di Sidrap
Jika satu orang melepaskan genggaman atau menarik ke arah berlawanan, seluruh tim akan tumbang. Pesan itu begitu relevan dengan semangat kemerdekaan. Indonesia merdeka karena semua elemen bergerak seirama, dan Indonesia akan tetap kuat jika irama itu terjaga.
Keseimbangan antara pemimpin dan rakyat. Pemandangan paling menarik sore itu adalah ketika Lurah Benteng ikut masuk ke dalam barisan peserta. Ia tidak hanya hadir sebagai tamu yang menyaksikan dari kursi undangan, tetapi benar-benar ikut memegang tali, mengotori sepatunya, dan menarik bersama warga lainnya.

Saat itu, batas antara penyelenggara, pemerintah wilayah, dan masyarakat melebur. Tidak ada lagi struktur komando yang kaku. Yang ada hanya satu semangat kebersamaan. Lurah yang menarik tali bersama warganya adalah metafora pemerintahan yang tidak berjarak. Ia merasakan beratnya tarikan yang dirasakan warganya, dan warga merasakan bahwa pemimpinnya ada bersama mereka, bukan di atas mereka.
Inilah esensi dari kemanunggalan TNI dengan rakyat yang terus digaungkan. Kodim 1425 Jeneponto tidak memilih menggelar seremoni formal di dalam aula ber-AC, melainkan memilih turun ke jembatan, ke ruang publik milik warga. Jembatan Garuda Merah Putih yang menghubungkan dua sisi wilayah, secara simbolik juga menghubungkan dua sisi yang sering dianggap berbeda: TNI dan rakyat, pemerintah dan masyarakat.

Tarik tambang mengajarkan bahwa kemenangan bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling kompak. Dan di Jembatan Garuda Merah Putih itu, kemenangan sesungguhnya sudah terjadi bahkan sebelum tali ditarik. Kemenangannya adalah ketika semua kalangan mau memegang tali yang sama.
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, kita kembali diingatkan bahwa kemerdekaan itu sendiri seperti tarik tambang. Ia harus terus ditarik bersama-sama, dijaga kekompakannya, agar tidak mudah ditarik kembali oleh kekuatan dari luar. Dari seutas tali di Jeneponto, pesan itu terasa begitu dekat dan nyata.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
