Mansur Gani: Kelor Solusi Malnutrisi yang Ramah Lingkungan

Mansur Gani: Kelor Solusi Malnutrisi yang Ramah Lingkungan

R
Subhan Riyadi
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini, Makassar-Hingga detik ini, stunting paling menjadi sorotan dalam dunia kesehatan. Bagaimana tidak, Indonesia sendiri menduduki posisi ke 5 penyumbang stunting di dunia. Dari 34 Provinsi, dua diantaranya tergolong stunting akut. Sisanya kategori kronis.

Jika hal ini terus dibiarkan, angka stunting akan mengancam puncak bonus pertumbuhan demografis indonesia di tahun 2035 mendatang.

Fenomena stunting bisa menjadi ancaman kematian dini sehingga akan terus membayangi generasi muda di masa mendatang.

Kelor harus dimanfaatkan untuk meningkatkan pencapaian positif diberbagai bidang namun bonus demografi tidak akan berarti apa-apa tanpa generasi muda sehat jiwa dan raga.

Moringa atau yang biasa di kenal dengan sebutan kelor ternyata sudah digunakan oleh dunia untuk mengatasi masalah malnutrisi di berbagai negara berkembang, pohon yang dapat tumbuh dengan cepat ini digambarkan dunia sebagai salah satu tanaman yang paling bergizi yang pernah dikenal bahkan kandungan gizinya berlipat-lipat dari sumber makanan yang selama ini digunakan sebagai sumber nutrisi di banyak belahan dunia.

Baca Juga

Demikian besar khasiatnya, sehingga WHO atau organisasi kesehatan dunia menobatkan kelor sebagai pohon ajaib, sementara di Indonesia kelor justru dijauhi oleh masyarakat karena memiliki stigma magis. Untuk itu perlu adanya propaganda penyadaran yang menjelaskan bahwa kelor merupakan solusi malnutrisi yang bisa didapatkan dengan mudah dan murah yang ramah lingkungan.

Terkait stigma negatif tersebut, Mansur Gani sebagai keloris Sulawesi Selatan Indonesia menyatakan, semua orang paham tentang kelor atau moringa persoalan yang muncul adalah siapa penggerak dan pendampingnya.

Ia menambahkan, siap mendampingi seluruh masyarakat Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan sebagai keloris, oleh sebab itu info bebas didapat di mana-mana, apakah itu lewat internet tetapi pendamping dan penggerak itu yang utama.

Kenapa, disinilah teknis dan cara bagaimana orang menarik simpati, kemudian yang kedua dengan adanya pendamping dan motivator.

Mansur Gani siap menghibahkan tenaga pikirannya untuk mendukung, memperkuat generasi muda, bangsa kita khususnya melalui budidaya kelor dan teknis pengelolaan turunan-turunannya, sehingga kebutuhan nutrisi dalam tubuh generasi muda bangsa kita bisa terpenuhi secara baik.

“Sekali lagi saya siap mengembangkan diri untuk memberi pendampingan pembelajaran di wilayah masing-masing, baik yang ada di seluruh Indonesia maupun yang ada di Sulawesi Selatan secara khusus, bisa menghubungi saya 08124291963,” tutupnya.

Jadi memahami yang dihadapi generasi muda anak bangsa kita, yaitu persoalan kesehatan apakah kesehatan itu adalah adanya disebut dengan malnutrisi yang disebut dengan stunting. Olehnya itu kedua problema ini perlu ada tenaga-tenaga langsung mendampingi masyarakat.

“Pertama adalah bagaimana memanfaatkan kalor dengan baik, yang kedua melakukan budidaya kelor, ketiga bagaimana hasil budidaya kelor ini membuat satu turunan apakah dia itu berbentuk food atau makanan dan minuman, apakah itu berbentuk penguatan tumbuhan dan hewan-hewan peliharaan yang disebut dengan pakan,” tuturnya kepada media, Sabtu, 4 Januari 2020.

Menurutnya, harapan ini bisa terwujud ketika ada adanya tenaga yang turun di masyarakat mendampingi, baik secara teknis maupun teori sehingga langkah masyarakat tidak lagi merasa tertinggal, tidak lagi merasa terpuruk, dengan demikian kelanjutan harapan-harapan memerangi masalah nutrisi, kekurangan nutrisi mengalami masalah atau malnutrisi bisa terjawab oleh masyarakat itu sendiri baik yang ada di seluruh Indonesia maupun ada di Sulawesi Selatan.

“Saya sudah siap mendampingi masyarakat,” singkatnya.

Ketika ditanya soal mahalnya komoditi nutrisi dari daun kelor. Mansur Gani menandaskan, tentang persoalan memang kalau kita lihat barang yang berkualitas harganya tentu mahal, apalagi yang menyentuh persoalan gizi.

“Nutrisi di Indonesia adalah nutrisi yang dibawah standar harga, bandingkan saja dengan negara eropa, tentu jauh berbeda,” cetusnya.

Mansur menjelaskan, nutrisi yang bagus adalah nutrisi diatas harga contoh di masyarakat dikenal dengan daun kelor dengan harga Rp 5000 per ikat, tetapi apakah kualitas yang dijual di pasar atau dijual oleh penjual sayur kelor memenuhi standar nutrisi, jawabannya iya atau tidak tetapi paling bagus masyarakat setiap masyarakat itu menanam minimal tiga pohon di rumah masing-masing dengan harga Rp5000, itu bisa teratasi cuma menanam memelihara memetik tetapi ketika dia sudah berbaur dengan proses yang disebut dengan proses tentu harganya jauh lebih mahal, harganya per kilo itu Rp250.000,-

“Tidak serta merta semudah itu, kan harus melalui standar, satu contoh yaitu nutrisi yang bagus begitu dipetik langsung diolah, tidak bisa lewat 3-4 hari, yang kedua kelor dipetik itu tidak bisa dikena sinar matahari langsung, yang ketiga, kelor itu tidak bisa dimasukkan ke dalam kulkas, kenapa kalau dipanasin langsung ke Matahari nutrisinya itu bisa lepas sementara kalau dimasukkan ke dalam kulkas maka nutrisi kelor hilang, sifatnya basah di bawah standar, suhu kelor itu antara 35 derajat Celcius ini maksimalnya adalah di bawah 40 derajat Celcius,” sebutnya.

Ia menambahkan, jika hal ini tidak didampingi maka yang kita makan itu benar daun kelor, tetapi nutrisi yang kurang.

“Inilah harapan saya sehingga menghibahkan pikiran, tenaga saya ini untuk masyarakat Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan, siap memberi penyuluhan sebagai pendampingan dan bergerak di dalamnya, yang Rp5.000 bisa kita raih menjadi Rp250.000 untuk kapasitas ekspor,” tambahnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.