Manusia di Titik Nol

Prof Abd Rasyid Masri 
(Akademisi dan Pebisnis) 

Bulan suci Ramadan walau sudah berlalu tapi bekas – bekas pertarungan sebulan penuh masih membekas. 

Ketika bertarung dengan hawa nafsu, ketika memasuki Idulfitri maka terjadi gencatan senjata dalam istilah perang  yang sesungguhnya walau pertempuran  belum selesai tapi memasuki Idulfitri  banyak yang merasa sudah menang sehingga ramai – ramai bereforia dan merayakan kemenangan mirip pertempuran sebelas hari antara tentara Israel dengan milisi HAMAS beberapa hari yang lalu yang berakhir dengan gencatan senjata.

Baca Juga: Sugesti Lailatul Qadar

Walau bersifat sementara dan terkesan apologia Israel tapi rakyat Palestina merasa di pihak yang menang dan langsung merayakannya dengan sangat bergembira walau tipu daya kaum Yahudi yang berjiwa penghianat terus membayanginya.

Bagitulah suasana pasca Idulfitri banyak yang sudah merayakan kemenangan dan merasa sudah menang dapat ampunan Allah SWT, maka dia merasa menjadi manusia yang bersih dari dosa, merasa berhasil mendapat ampunan penuh dari Allah bagaikan bayi yang baru keluar dari rahim ibunya.

Baca Juga: Etika Komunikasi Publik

Maka pada posisi tersebut manusia berada pada titik nol, semua dosa terdelete (terhapus) bersih bagai kertas putih tak bernoda.

Apa indikator bahwa seseorang dosanya diampuni Allah SWT, sulit untuk diukur lewat nalar rasi, tapi paling tidak ketika hati seseorang tenang, gembira menghadapi hidup, tak ada rasa was-was, tak ada rasa ketakutan, rasa bersalah karena orang yang berdosa dan banyak salah itu biasanya hidupnya tak tenang, pikirannya berkecamuk dan penuh rasa takut menghadapi kematian, merasa dibayang-bayangi kesalahan akan dosa-dosanya. 

Betulkah orang yang berpuasa dengan baik dan benar serta Salat di malam harinya dengan sungguh-sungguh akan diampuni dosanya ke titik nol, tunggu dulu.

Baca Juga: Tahun 2021: Optimisme vs Pesimisme (01)

Bisa jadi benar dihapuskan dosa-dosanya tapi tidak semua sebab ada dosa yang amat berat diampuni apalagi kalau hanya ditukar dengan pahala puasa, yakni dosa syirik kepada Allah, dosa sihir dan santet.

Kemudian membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, gemar memakan makanan riba, memakan harta anak yatim, menjadi penghianat, lari dalam perang yang sedang berjalan, memfitnah wanita berzina pada hal orang baik baik.

Dosa-dosa besar seperti yang dijelaskan tersebut menjadi pengecualian dan sulit diampuni dengan kekuatan istighfar biasa, membutuhkan taubat Nasuha yang sungguh-sungguh.

1 2
Selanjutnya
Bagikan