Kekuasaan, Panggung dan (Anti-)Hero: Aktivis 98 dan 2019

KEKUASAAN selalu melahirkan panggung dan ‘hero’. Begitupula panggung kekuasaan, dia punya ‘hero’ sebagai karakter dan subjek kolektif untuk mengisinya. Panggung dan ‘hero’ pun dapat memproduksi dan mereproduksi (akses) kekuasaan. Maka tak heran jika ‘panggung’ (stage), selalu menjadi rebutan para ‘hero’ untuk mengakses dan atau merebut kekuasaan.

Beberapa waktu lalu, Fadjroel Rahman dan Fahri Hamzah diwawancarai pada salah satu talkshow di sebuah televisi swasta. Keduanya diakui sebagai aktivis 98. Generasi yang dinilai menumbangkan orde Baru, rezim Soeharto. Keduanya ibarat ‘hero’ di masanya, hingga masa kini setelah dua puluh satu tahun reformasi. Namun, kali ini, keduanya, dan generasi di angkatannya, sedang berhadapan dengan generasi ‘anti-hero’-nya. Siapakah mereka?

Generasi anti-hero yang dimaksud adalah generasi angkatan 2019. Dalam gerakannya, generasi angkatan 2019 ini dikenal memiliki ‘hastag’ #ReformasiDikorupsi. Perjuangannya menuntut dan menolak Revisi UU KPK, RKUHP, dan beberapa RUU lainnya. Angkatan 2019 melakukan aksi dengan massif di hampir seluruh kota di tanah air.

Mengapa kedua angkatan ini dianggap berhadap-hadapan? Tak lain dan tak bukan karena mahfum diketahui, baik di DPR maupun di lingkaran Presiden Jokowi, aktivis 98 banyak yang mendapat tempat di sana. Sebut misalnya Budiman Sudjatmiko, Adian Napitupulu, dan Masinton Pasaribu. Ketiganya adalah Politisi PDI-P di DPR yang menyepakati Revisi UU KPK. Selain itu, PDI-P sebagai partai pengusung utama Presiden Jokowi adalah partai ketiga eksponen 98 tersebut. Sementara itu, sebagai wakil ketua DPR (kala itu), Fahri Hamzah yang juga dikenal eksponen 98 ini bahkan memimpin rapat pengesahan RUU KPK di DPR. Belum lagi Fadjroel Rahman dkk yang berada di lingkaran Komisaris BUMN dan Staf Kepresidenan. Lingkaran aktivis 98 ini bisa dikatakan sedang berada di dalam kekuasaan ketika angkatan 2019 hadir mengoreksi keadaan yang dihasilkan masa pemerintahan ketika para aktivis 98 ini berada disana.

Kembali ke acara ‘talkshow’ tersebut, keduanya, (Fadjroel dan Fahri) pun diminta oleh pemandu acara untuk menilai aksi generasi sekarang, yang disebutnya sebagai generasi Z. Generasi yang juga belakangan lazim disebut sebagai aktivis angkatan 2019 ini. Keduanya pun menyampaikan pandangannya masing – masing terhadap angkatan 2019 ini. Angkatan ini bisa dikata sebagai ‘anti-hero’ dari aktivis 98 ini yang selama 21 tahun menyandang sebagai ‘hero’ karena dinilai atau menilai diri sebagai penumbang Orde Baru.

Satu hal yang menarik disini adalah penilaian terhadap generasi angkatan 2019 ini. Tidak bisa dipungkiri, keduanya (Fadjroel dan Fahri) cenderung menggunakan tolak ukur dirinya dan generasinya untuk menilai generasi sekarang. Meskipun ada usaha untuk menilai secara fair, namun tetap saja angkatan 2019 ini menjadi ‘terobjektifikasi’. Dengan begitu, bisa dibilang, angkatan 98 memandang (encode) angkatan 2019. Ada proses objektivikasi disitu.

***

Mau tidak mau, suka tidak suka, aktivis angkatan 2019 sudah lahir dengan berbagai ciri, karakter, dan penandanya. Berikut pula tuntutan dan cara pandangnya melihat negara bekerja. Apakah menguntungkan mereka atau tidak, yang pasti angkatan ini telah berani tampil dalam mengoreksi keadaan.

Angkatan 98 tentunya tidak bisa memaksa angkatan 2019 ini untuk seperti mereka. Tidak elok pula jika memasang tolak ukur seperti dirinya. Yang Kelihatan hanya ‘ego’ poetika politik tua yang memang sudah bisa dibilang semakin menua. Semakin aktivis 98 ini menyoroti angkatan 2019 ini, semakin ada kesan kalau mereka khawatir ‘panggung’ generasi kontra-orba ini akan direbut oleh angkatan 2019.

Kekhawatiran itu bisa dianggap sebagai sebuah kewajaran. Sebagai ‘juara bertahan’, bukan tak mungkin bisa tak kuat lagi narasi heroisme menumbangkan orde barunya. Narasi ini sesungguhnya berpotensi dijadikan ‘komoditas’ politik untuk menjadi pintu masuk ke lingkaran kekuasaan. Apakah itu sebuah kekhawatiran akan kehilangan panggung dan akses karena tidak lagi dianggap juara (‘hero’) bertahan? Yang pasti panggung itu barangkali menjadi terancam untuk direbut oleh angkatan 2019 ini.

***
Banyak orang bertanya, jika tak ditunggangi, apa yang membuat generasi 2019 ini bergerak begitu massif? Dengan mencoba menganalisa, dapat disimpulkan bahwa angkatan 2019 ini bisa dibilang muak dan murka dengan keadaan. Termasuk dengan keterlibatan aktivis 98 di lingkaran kekuasaan yang ‘dinilai’ tidak bisa memperbaiki keadaan sesuai harapan rakyat banyak.

Dua puluh satu (21) tahun lamanya gelar juara bertahan ini di tangan. Kemudian hadir angkatan 2019 yang meneriaki mereka setelah dinilai ‘keasikan’ berada di lingkaran kekuasaan. Kerjanya dikoreksi, panggungnya direbut. Kira kira begitu alurnya.

Kita tunggu, seberapa mampu angkatan 2019 ini menggantikan panggung sang juara bertahan pemegang piala ( ‘hero’ ) yang dipegang angkatan 98? Bagaimana pula efeknya dengan kekuasaan? Mengingat angkatan 98 tak sedikit merapat disana.

Dapatkah angkatan 2019 ini menggantikan panggung sang ‘hero’, aktivis 98, yang selama ini menjadi juara bertahan?
Akankah narasi heroik dan panggung politik angkatan 98 ini akan digeser atau digantikan oleh angkatan 2019 ini?

Wallahualam.
Kita nantikan ….

Samarinda, 7 Oktober 2019

Nasrullah Mappatang adalah Dosen Universitas Mulawarman

Berita Terkait
Komentar
Terkini