Terkini, Jeneponto, Sulawesi Selatan — Di tengah hamparan sawah yang menghijau dan udara segar khas pedesaan Tanah Turatea, sebuah jejak kebersamaan kini terukir abadi. Di Desa Arungkeke Pallantikang, Kecamatan Arungkeke, Kabupaten Jeneponto, perjalanan panjang kebersamaan antara TNI dan rakyat telah melahirkan perubahan besar yang tidak hanya mengubah wajah wilayah, tetapi juga menyentuh langsung denyut nadi kehidupan masyarakatnya.
Selama satu bulan penuh, terhitung sejak pembukaan resmi pada Rabu, 22 April 2026 hingga penutupan pada Kamis, 21 Mei 2026, program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 Tahun Anggaran 2026 menjadi saksi bagaimana semangat gotong royong mampu mengubah tantangan menjadi harapan, dan keterisolasian menjadi konektivitas yang membahagiakan.
Dibuka secara resmi oleh Bupati Jeneponto, Paris Yasir, di Lapangan Togo-Togo, Kecamatan Batang, kegiatan ini mengusung tema besar yang sarat makna: “TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri Dari Desa”. Tema yang ditetapkan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad AD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc dan jajarannya ini bukan sekadar jargon, melainkan komitmen nyata. Ia merepresentasikan tekad kuat TNI Angkatan Darat untuk memusatkan pembangunan mulai dari wilayah-wilayah tertinggal, terpencil, dan terluar, guna memperkecil kesenjangan wilayah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.

Tujuan utama yang diusung dalam kegiatan ini sangat jelas dan terukur: pemerataan pembangunan agar infrastruktur menjangkau pinggiran desa, penguatan sinergi antarlembaga, serta meneguhkan kemanunggalan TNI-Rakyat sebagai solusi atas segala kesulitan yang dihadapi masyarakat. TMMD hadir sebagai bukti bahwa pengabdian negara tidak hanya ada di kota besar, tetapi justru tumbuh subur di jantung desa, tempat di mana sebagian besar nadi pangan bangsa berdetak.
Jalan Rabat Beton: Urat Nadi Baru Ekonomi Warga
- UMI Masuk Tiga Besar Kampus Terbaik di Makassar Versi SINTA 2026, Prof Hambali: Buah Ketulusan Sivitas Akademika
- Daftar Kampus Terbaik di Makassar Versi SINTA 2026, UNM Peringkat Kedua
- Tebar 45 Ekor Sapi Kurban, Ridwan Wittiri: Idul Adha Momentum Perkuat Solidaritas dan Kemanusiaan
- RS UIN Alauddin Resmikan Kerja Sama Pelayanan dengan BPJS Kesehatan
- RS UIN Alauddin Resmi Layani Pasien BPJS, Siapkan 70 Tempat Tidur dan Standar KRIS
Salah satu karya monumental yang menjadi pusat perhatian dan kebanggaan bersama adalah pembangunan jalan rabat beton sepanjang 1.100 meter, ditambah peningkatan jalan tani sepanjang 150 meter. Total keseluruhan pekerjaan fisik jalan mencapai 1.250 meter yang membelah pemukiman dan lahan pertanian warga. Dulu, jalanan ini hanyalah tanah merah yang berdebu saat kemarau dan berlumpur licin saat hujan turun. Bagi para petani, kondisi jalan ini adalah tantangan terberat. Hasil panen padi, jagung, atau palawija harus dipikul beratus meter atau diangkut dengan susah payah karena kendaraan sulit masuk.
Namun kini, pemandangan itu telah berubah total. Beton yang kokoh dan rata kini terbentang rapi, menjadi akses vital yang menghubungkan lahan pertanian langsung ke jalan utama. Jalan ini bukan sekadar hamparan semen dan batu, melainkan jaminan ekonomi bagi ribuan warga Desa Arungkeke Pallantikang dan sekitarnya.

Melalui infrastruktur ini, biaya angkut hasil tani menjadi jauh lebih murah, waktu pengiriman lebih cepat, dan hasil panen terjaga kualitasnya hingga ke tangan pembeli. Ketahanan pangan pun semakin kokoh, karena akses yang baik memudahkan distribusi pupuk, bibit, dan teknologi pertanian masuk hingga ke sudut-sudut ladang.
Selain pembangunan jalan, sasaran fisik TMMD ke-128 Kodim 1425/Jeneponto juga menyentuh aspek kehidupan mendasar lainnya. Sebanyak 5 unit rumah tidak layak huni telah direhabilitasi menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman, memberikan kelegaan bagi keluarga yang puluhan tahun hidup dalam kekhawatiran bangunan rubuh. Program Manunggal Air menghadirkan 5 unit sumber air bersih, mengakhiri kesulitan warga mencari air bersih untuk keperluan sehari-hari. Tak kalah penting, dibangun pula 3 unit plat decker yang berfungsi memperkuat struktur aliran air dan akses lintas, menjamin keamanan lingkungan dari potensi banjir atau erosi tanah.
Seluruh pembangunan fisik ini tidak dikerjakan sendirian oleh prajurit. Sebanyak 150 personel yang terlibat—yang terdiri dari unsur TNI AD, TNI AU, TNI AL, Polri, tim asistensi, teknis, medis, Satpol PP, Perhubungan, hingga masyarakat umum—bekerja bahu-membahu. Seragam hijau loreng menyatu dengan baju warga desa, beda atribut namun satu tujuan. Di bawah terik matahari Tanah Turatea, keringat menetes di dahi para prajurit dan warga, namun senyum tak pernah lepas dari wajah mereka. Di sinilah makna gotong royong ditemukan kembali: tenaga digabungkan, beban dibagi, dan hasil dinikmati bersama.

Kemanunggalan yang Menyentuh Hati: Lebih dari Sekadar Bangunan
Pagi itu, Kamis 7 Mei 2026, suasana di lokasi TMMD terasa lebih istimewa dari biasanya. Udara pagi yang sejuk disapa sinar matahari, namun kehangatan yang sesungguhnya datang dari kehadiran Tim Pengawas dan Evaluasi (Wasev) Pusat. Dipimpin langsung oleh Wakil Asisten Teritorial Kasad Bidang Renminter, Brigjen TNI Jamaluddin, S.IP., kunjungan ini bukan sekadar agenda administrasi, melainkan bukti perhatian besar pimpinan pusat terhadap apa yang sedang dibangun di Jeneponto.
Berjalan menyusuri jalan yang sedang dikerjakan, Brigjen Jamaluddin tampak menatap lekat setiap detail pekerjaan, namun yang paling menarik perhatiannya bukanlah beton atau bangunan, melainkan interaksi yang terjalin antara prajurit dan warga. Ia melihat sendiri bagaimana para prajurit bekerja tanpa mengenal jam kerja, kadang hingga larut malam demi mengejar target agar manfaatnya segera dirasakan. Ia melihat bagaimana warga antusias membawa minuman, makanan, atau sekadar ikut mengaduk semen dan mengangkut batu.
Di hadapan barisan prajurit dan kerumunan warga yang berdatangan, Brigjen Jamaluddin berbicara dengan nada tegas namun penuh kehangatan yang merasuk ke dalam hati. “Saya melihat sendiri bagaimana bapak-bapak prajurit bekerja tanpa mengenal lelah, bahkan hingga larut malam. Semangat pengabdian ini adalah cerminan nyata bahwa TNI selalu hadir di tengah rakyat, bekerja murni untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya, diiringi tepuk tangan meriah warga.

Lebih dalam lagi, ia mengingatkan sebuah kebenaran mendasar yang menjadi jiwa TMMD. “Keberhasilan kita tidak diukur hanya dari selesainya jalan, sumur, atau rumah yang kita bangun. Keberhasilan sesungguhnya ada pada kebersamaan yang terjalin, pada rasa saling memiliki yang tumbuh, dan pada semangat gotong royong yang kita hidupkan kembali. Kekuatan utama kita ada di situ. Hasil pembangunan fisik ini harus kita rawat bersama, dijaga bersama, agar manfaatnya bisa dinikmati oleh anak cucu kita nanti,” pesannya, yang disambut anggukan setuju seluruh hadirin.
Suara kemanusiaan dan apresiasi yang sama juga disampaikan oleh Wakil Bupati Jeneponto, Islam Iskandar, SH. Dalam setiap kesempatan meninjau lokasi, ia selalu menekankan bahwa kehadiran TMMD adalah anugerah besar bagi daerah. “Apa yang dilakukan Satgas TMMD ini adalah bukti nyata bahwa negara hadir memeluk warga desanya. Pembangunan ini tidak hanya memperindah wajah desa, tapi mengangkat derajat dan martabat masyarakatnya. Kami sangat mengapresiasi dedikasi tinggi para prajurit dan semangat luar biasa warga Desa Arungkeke Pallantikang,” ujar Islam Iskandar dengan tulus.

Sementara itu, Kepala Desa Arungkeke Pallantikang, Abd. Kasim, SE, menyampaikan rasa syukur yang mendalam. Baginya, TMMD ke-128 adalah tonggak sejarah kemajuan desanya. “Selama saya menjabat, impian terbesar warga kami adalah memiliki jalan yang bisa dilalui kendaraan sampai ke pinggir sawah. Hari ini, berkat TNI dan kerja sama semua pihak, impian itu menjadi kenyataan. Terima kasih kepada TNI yang tidak hanya membangun jalan, tapi juga membangun harapan dan rasa percaya kami kepada negara,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Cerita Daeng Tompo: Beban Panjang yang Akhirnya Terangkat
Di sudut lain desa, kisah Daeng Tompo (60 tahun) menjadi representasi paling nyata dari manfaat besar program ini. Sebagai petani sawah seumur hidup, Daeng Tompo adalah saksi bisu betapa beratnya perjuangan para petani di daerah ini. Puluhan tahun lamanya, setiap kali masa panen tiba, ia dan istrinya harus memikul karung-karung gabah yang beratnya puluhan kilogram, berjalan kaki jauh melintasi tanah berlumpur.
“Sudah puluhan tahun saya memikul hasil panen sawah dari pinggir ladang ke jalan raya. Bahu ini sudah kasar, kaki ini sudah lelah. Kalau hujan turun, rasanya ingin menyerah saja karena jalanan licin dan becek,” kenang Daeng Tompo sambil menatap bangga jalan beton yang kini melewati persis di depan lahan pertaniannya.

Kini, senyum lega dan bahagia tak pernah lepas dari wajahnya. Bersama istrinya, Daeng Tompo menjadi salah satu warga yang paling bersyukur atas kehadiran jalan rabat beton ini. “Sekarang, mobil pengangkut bisa masuk sampai dekat pematang sawah. Kami tidak perlu lagi memikul beban berat itu. Tenaga kami tersisa untuk mengolah tanah lebih baik lagi. Jalan ini adalah berkah besar bagi kami, bagi anak cucu kami nanti. TNI tidak hanya membangun beton, tapi mengangkat beban hidup kami yang berat selama puluhan tahun,” ucapnya terharu.
Kisah Daeng Tompo adalah satu dari ribuan kisah serupa yang tersebar di sepanjang lokasi pembangunan. Ia adalah bukti hidup bahwa sasaran pembangunan TMMD—baik fisik maupun nonfisik—benar-benar tepat sasaran.
Berbicara soal sasaran nonfisik, TMMD ke-128 juga tidak kalah kaya manfaatnya. Berbagai penyuluhan digelar mulai dari wawasan kebangsaan, hukum, kesehatan, bahaya narkoba, hingga cara bertani yang maju. Tak hanya itu, warga juga dimanjakan dengan pelayanan pengobatan gratis, pemberian bantuan sembako bagi yang kurang mampu, pasar murah untuk meringankan beban ekonomi, serta edukasi penting lainnya. Semua ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya makmur secara fasilitas, tetapi juga cerdas dalam pengetahuan, sehat secara jasmani, dan kuat dalam menjaga keutuhan bangsa.

Warisan Abadi: Membangun Negeri Dari Desa
Kini, setelah satu bulan berlalu dan kegiatan resmi ditutup, jejak kebersamaan itu tetap abadi. Jalan rabat beton sepanjang 1.100 meter itu kini berdiri kokoh, menjadi ikon baru kemajuan Desa Arungkeke Pallantikang. Ia adalah simbol kekuatan gotong royong, bukti bahwa apa pun yang dikerjakan bersama-sama akan menghasilkan karya yang luar biasa.
Program TMMD ke-128 Tahun 2026 di Jeneponto telah membuktikan kebenaran besar: bahwa pembangunan negeri sesungguhnya dimulai dari desa. Melalui tema “Satukan Langkah, Membangun Negeri Dari Desa”, TNI telah membuktikan komitmennya dalam memperkuat sinergi lintas sektoral demi pemerataan kemajuan.
Lebih dari sekadar infrastruktur, yang tersisa di hati masyarakat Tanah Turatea adalah rasa persaudaraan yang mendalam, keyakinan bahwa negara selalu hadir, dan semangat baru untuk terus bergerak maju. Sebagaimana pesan yang terus dikumandangkan, kekuatan TNI sejatinya lahir dari rakyat, dan kekuatan rakyat tumbuh kokoh saat bersatu bersama TNI. Di tanah ini, di Desa Arungkeke Pallantikang, kemanunggalan itu telah menorehkan sejarah indah: sejarah tentang jalan yang mulus, pangan yang terjamin, ekonomi yang tumbuh, dan harapan yang tak pernah padam.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
