Masuk

Matinya Rasa Keadilan

Komentar

Penulis: Prof Abd Rasyid Masri
(Akademisi dan Pebisnis)

PERISTIWA kerusuhan berdarah, Sabtu lanjut malam minggu tanggal 14 Januari 2023 jagad media sosial diramaikan dengan berita bentrokan berdarah dan mematikan, konflik buruh, kerusuhan dan pembakaran fasilitas, PT.GNI perusahan industri tambang nikel di kabupaten Morowali Sulawesi Tengah.

Efek dari kerusuhan sosial dan rasa ketidakadilan jadi pemicu konflik antara pekerja Asing (TKA) dari China Tiongkok versus pekerja anak – anak negeri pribumi pemilik tanah air negeri tercinta.

Terjadinya kerusuhan dan konflik antara TKA China dengan pekerja asli pribumi lokal di setiap daerah di nusantara tidak mengagetkan kita semua, sebab kita semua sudah tahu pemerintah Indonesia sekarang memberi kesempatan luas dan terbuka, sehingga khusus TKA China membanjiri tanah air kita Indonesia.

Baca Juga: Ferdinand Hutahaean Sebut Kasus Roy Suryo Berkesan Permainkan Rasa Keadilan Minoritas

Sebenarnya mendatangkan TKA yang profesional dan memiliki keahlian khusus yang sangat dibutuhkan sah-sah saja sepanjang terukur dan terbatas secara proporsional tidak seperti sekarang yang datang puluhan ribu bahkan mungkin sudah mencapai ratusan ribu TKA mayoritas pekerja kasar dan buruh bangunan.

Sementara pencari kerja dengan kualifikasi buruh bangunan dan semacamnya begitu banyak menganggur antri mencari pekerjaan sesuap nasi di bumi yang kaya akan sumber daya alamnya.

Potensi konflik antara TKA dan pekerja lokal bagaikan luka bisul besar yang suatu waktu akan meletus dan tanda tanda itu semakin nyata, dan yang paling berkontribusi mendorong konflik tersebut adalah rasa ketidakadilan pemberian upah dari segi kesejahteraan ekonomi, perasaan sosial dan psikologi antar para pekerja di suatu perusahaan.

Baca Juga: Proses Hukum Kerap Tak Bisa Beri Rasa Keadilan, Jokowi Bakal Minta DPR Revisi UU ITE

Ketidakadilan sosial ekonomi paling mudah pemicu terjadinya konflik antar manusia, kenapa?

Karena terkait dengan perasaan kejiwaan dan suatu kondisi saat suatu kelompok atau individu diperlakukan berbeda, merasa dizolimi, hak hak personalnya tidak diberikan bahkan dipinggirkan maka tunggu bagaikan luka bisul yang tinggal menunggu waktu pasti meletus.

Maka di sinilah pentingnya menjaga hak hak pekerja dan apa yang menjadi hak yang mesti harus di terima, sebab keadilan menjadi suatu ukuran kesetaraan, kebersamaan dalam hak dan kewajiban sebagai warga negara dalam berbangsa dan bernegara.

Pertanyaan yang sering kita dengar, samakah keadilan dan kebenaran tentu berbeda walau tentu beririsan sebab bicara keadilan itu berarti kita bicara subtansinya yang bersifat lebih formil sementara kebenaran lebih mengarah kepada legitimasi sosiologi yang mendapat legitimasi publik yabg bersifat etis.

Baca Juga: 4 Expert Ikut Berpartisipasi Cek Fakta Debat Publik Pemkot Makassar

sesuatu itu tidak benar secara formil tapi karena mendapat legitimasi sosiologis maka masyarakat menilai itulah kebenaran.

Dalam perspektif Islam keadilan itu sebenarnya misi utama seluruh nabi dan rasul rasul Allah, sebagai misi kenabian, semua nabi membawa berita ajaran keadilan hal tersebut dapat dilihat dalam Quran S. Al-Hadid:25.

Sesungguhnya kami telah mengutus para rasul dengan membawa bukti bukti nyata dan telah kami telah turunkan bersama mereka dengan Al Kitab dan Keadilan agar manusia bisa menjalankan atau melaksanakan keadilan pada sesama.

Maka pemerintah dan siapapun yang diberi otoritas mengatur masyarakat maka jadilah pemimpin yang adil dan bisa berlaku adil sebab keadilan itu dekat dengan taqwa dan taqwa itu menjadi ukuran tinggi rendahnya derajat kemanusiaan seseorang di sisi Allah Swt.